3 Tahap Psikologis untuk Beradaptasi dengan 'New Normal'

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 14/05/2020 16:01 WIB
Pedagang jajanan buka puasa atau Takjil di Jalan Bendungan Hilir (Benhil)  terlihat sepi penjual dan juga masyarakat yang membeli juga tidak banyak. Jakarta.  Jumat (24/4/2020). Dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan PSBB DKI Jakarta, tertulis Pasal 10 ayat (3) yang berisi kewajiban pelaku usaha di sektor usaha penjualan makanan dan minuman, berisi aturan untuk membatasi layanan hanya untuk dibawa pulang, melalui pemesanan secara daring, dan atau dengan fasilitas telepon atau layanan antar. CNN Indonesia/Andry Novelino Ilustrasi. Meski secara psikologis tidak mudah, setiap orang kini diharapkan untuk dapat beradaptasi dengan situasi baru akibat pandemi Covid-19 atau 'the new normal'. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi Covid-19 mau tak mau membuat banyak sendi-sendi kehidupan mengalami perubahan. Selama dua bulan lamanya, masyarakat Indonesia tanpa disadari sedang menjalani proses menuju tatanan kehidupan yang baru atau 'the new normal'.

Istilah 'the new normal' merujuk kepada tatanan hidup masyarakat yang mencoba berdamai dengan virus corona yang tengah menjejakkan kakinya di Nusantara. Faktanya, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah mengubah kehidupan sehari-hari masyarakat dengan fokus melakukan berbagai aktivitas dari rumah.

Meski secara psikologis tidak mudah, setiap orang tentu diharapkan dapat beradaptasi dengan situasi baru ini.


Ahli kesehatan jiwa Leonardi Goenawan mengatakan bahwa setiap orang akan mengalami tahap psikologis yang saling berbeda satu sama lain dalam menghadapi 'the new normal'.

"Perbedaan tergantung pada ketahanan Anda terhadap stres, latar belakang kesehatan mental, dampak disrupsi pandemi Covid-19 terhadap sosial ekonomi, serta support system yang tersedia," jelas Leonardi dalam keterangan resmi RSPI yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (13/5).

Pada umumnya, seseorang akan mengalami tiga tahap kondisi perilaku di antaranya disrupsi, kebingungan dan ketidakpastian, hingga berujung pada tahap penerimaan sebagaimana dijelaskan berikut.

Pedagang jajanan buka puasa atau Takjil di Jalan Bendungan Hilir (Benhil)  terlihat sepi penjual dan juga masyarakat yang membeli juga tidak banyak. Jakarta.  Jumat (24/4/2020). Dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan PSBB DKI Jakarta, tertulis Pasal 10 ayat (3) yang berisi kewajiban pelaku usaha di sektor usaha penjualan makanan dan minuman, berisi aturan untuk membatasi layanan hanya untuk dibawa pulang, melalui pemesanan secara daring, dan atau dengan fasilitas telepon atau layanan antar. CNN Indonesia/Andry NovelinoIlustrasi. Meski sulit secara psikologis, tapi masyarakat diharapkan bisa beradaptasi dengan 'the new normal'. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

1. Tahap disrupsi
Pada tahap ini, seseorang akan mengalami perubahan pola hidup yang cukup drastis. Mulai dari perubahan rutinitas harian hingga hilangnya kebebasan beraktivitas.

Berbagai informasi yang beredar juga membuat hidup terasa kian mencekam. "Tak sedikit yang mengalami kecemasan karena khawatir tertular, sulit konsentrasi, hingga perubahan pola makan dan tidur," kata Leonardi.

Dalam kondisi ini, umumnya penyakit kronis yang sudah lama diderita mulai kembali muncul dan tidak stabil, termasuk di antaranya gangguan-gangguan psikis yang sebelumnya pernah dialami.

2. Tahap kebingungan dan ketidakpastian
Pada tahap ini, seseorang akan merasa kelelahan secara mental. Kelelahan ini muncul akibat tak adanya kepastian, kehilangan kendali, atau terhentinya sumber penghasilan untuk memenuhi kehidupan harian.

Dengan sendirinya, kualitas hidup akan menurun. Kehidupan akan terasa berjalan dengan lambat, menjenuhkan, dan dipenuhi kekhawatiran.

Leonardi mengatakan, situasi kecemasan ini dapat berdampak pada meningkatnya konsumsi rokok, alkohol, hingga penyalahgunaan obat-obatan.

3. Tahap penerimaan (menerima 'the new normal')
Pada saat seseorang telah berhasil melampaui tahap sebelumnya, maka timbul sikap menerima tanpa syarat terhadap kondisi yang ada. Penerimaan juga diikuti oleh perubahan pola hidup yang diam-diam terbentuk selama beberapa waktu ke belakang.

"Kemampuan adaptasi seseorang membuatnya mampu untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dan memandang kehidupan dengan lebih realistis," kata Leonardi. (asr)

[Gambas:Video CNN]