Jalan panjang harus ditempuh terlebih dahulu sebelum masjid itu berdiri. Penolakan kuat sempat diberikan warga setempat sejak 2007 hingga akhirnya Dewan Kota Koln menyetujui pembangunan Masjid Agung Koln pada Agustus 2008.
Masjid Agung Koln berdiri di Distrik Ehrenfeld, Koln, dekat dengan destinasi wisata setempat seperti bioskop serta taman. Masjid itu juga mudah dijangkau sebab terletak sekitar dua kilometer dari Stasiun Utama Koln.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, Gereja Katolik St. Theodore di Koln juga ikut menggalang dana untuk pembangunan masjid tersebut.
Pembangunan Masjid Agung Koln dipercayakan kepada Arsitek Gottfried Bohm dan putranya, Paul Bohm, yang selama ini biasa membangun gereja.
Masjid seluas 4.500 meter persegi dan mampu menampung 2.000-4.000 jemaah itu tidak dibangun dengan gaya arsitektur Ottoman. Masjid itu memiliki kubah beton serta kaca dan dua menara setinggi 55 meter di kiri dan kanannya.
Lihat juga:6 Alasan Melancong ke Ras al-Khaimah |
Sang arsitek mengatakan keterbukaan menjadi filosofi pembangunan masjid dengan maksud masyarakat umum dipersilakan mengenal Islam lebih dekat melalui masjid tersebut.
Masjid Agung Koln memang memiliki beberapa kawasan sekuler yang bisa digunakan seluruh warga tanpa membatasi agamanya seperti restoran yang menyajikan kuliner khas Turki, Arab, serta Asia Selatan, ruang acara (ballroom) serta toko-toko.
Sementara itu, bagian bawah tanah Masjid Agung Koln menjadi ruangan belajar. Pintu masuk serta bazaar terletak di lantai dasar. Area salat berada di lantai atas bersama dengan ruang perpustakaan.
Masjid Agung Koln biasanya ramai dikunjungi warga Jerman pada 3 Oktober setiap tahun. Hal itu guna merayakan Hari Pintu Terbuka Masjid di Jerman sejak 1997.
Hari tersebut ditetapkan sebab Dewan Pusat Muslim di Jerman ingin seluruh warga tanpa batasan agama bisa berkunjung ke masjid-masjid.
Masjid Koln pertama kali diresmikan akhir September 2018 lalu oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (chr/mik)