Keunikan Masjid Agung Koln di Jerman

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Minggu, 17/05/2020 17:15 WIB
Cologne, Germany - April 01, 2020. The Central Mosque is designed by German architect Paul Böhm in non-Ottoman style - with concrete and glass. The building is one of the biggest mosque in Europe. Fast road (Innere Kanalstraße) in front. Cologne Central Mosque berdiri di Distrik Ehrenfeld, Koln. (Foto: Istockphoto/Getty Images/horstgerlach)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masjid Agung Koln menjadi salah satu ikon keberadaan umat Muslim di Jerman. Meski jumlah umat Muslim di Jerman hanya sekitar 5,4 persen dari populasi keseluruhan pada 2015, Masjid Agung Koln kokoh berdiri dan menjadi salah satu masjid terbesar di Eropa.

Jalan panjang harus ditempuh terlebih dahulu sebelum masjid itu berdiri. Penolakan kuat sempat diberikan warga setempat sejak 2007 hingga akhirnya Dewan Kota Koln menyetujui pembangunan Masjid Agung Koln pada Agustus 2008.

Masjid Agung Koln berdiri di Distrik Ehrenfeld, Koln, dekat dengan destinasi wisata setempat seperti bioskop serta taman. Masjid itu juga mudah dijangkau sebab terletak sekitar dua kilometer dari Stasiun Utama Koln.


Pembangunan Masjid Agung Koln menelan biaya sekitar 15-20 juta Euro yang didanai Diyanet İşleri Türk İslam Birliği (DITIB), perwakilan otoritas urusan agama pemerintah Turki, pinjaman bank, dan sumbangan dari 884 asosiasi Muslim mengutip beautifulmosque. Minggu (17/5).

Tak hanya itu, Gereja Katolik St. Theodore di Koln juga ikut menggalang dana untuk pembangunan masjid tersebut.

Pembangunan Masjid Agung Koln dipercayakan kepada Arsitek Gottfried Bohm dan putranya, Paul Bohm, yang selama ini biasa membangun gereja.

Masjid seluas 4.500 meter persegi dan mampu menampung 2.000-4.000 jemaah itu tidak dibangun dengan gaya arsitektur Ottoman. Masjid itu memiliki kubah beton serta kaca dan dua menara setinggi 55 meter di kiri dan kanannya.

Juru bicara DITIB, Alboga, mengatakan dinding serta kubah kaca digunakan untuk memberikan unsur keterbukaan kepada jemaah. Unsur tersebut semakin ditonjolkan lewat tangga-tangga masuk yang sudah terlihat dari pinggir jalan.

Sang arsitek mengatakan keterbukaan menjadi filosofi pembangunan masjid dengan maksud masyarakat umum dipersilakan mengenal Islam lebih dekat melalui masjid tersebut.

Masjid Agung Koln memang memiliki beberapa kawasan sekuler yang bisa digunakan seluruh warga tanpa membatasi agamanya seperti restoran yang menyajikan kuliner khas Turki, Arab, serta Asia Selatan, ruang acara (ballroom) serta toko-toko.

Sementara itu, bagian bawah tanah Masjid Agung Koln menjadi ruangan belajar. Pintu masuk serta bazaar terletak di lantai dasar. Area salat berada di lantai atas bersama dengan ruang perpustakaan.

Sebuah sumur terletak di tengah-tengah masjid untuk menghubungkan dua lantai tersebut dan menciptakan suasana menyenangkan.

Masjid Agung Koln biasanya ramai dikunjungi warga Jerman pada 3 Oktober setiap tahun. Hal itu guna merayakan Hari Pintu Terbuka Masjid di Jerman sejak 1997.

Hari tersebut ditetapkan sebab Dewan Pusat Muslim di Jerman ingin seluruh warga tanpa batasan agama bisa berkunjung ke masjid-masjid.

Masjid Koln pertama kali diresmikan akhir September 2018 lalu oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (chr/mik)

[Gambas:Video CNN]