Puasa 2020, Antara Haus, Lapar, dan Stres Gara-gara Corona

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 23/05/2020 19:43 WIB
ilustrasi puasa Ilustrasi: Puasa Ramadan 2020 sudah usai. Tahun ini ramadan juga diiringi dengan wabah pandemi corona yang membuat merana. (iStockphoto/hayatikayhan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua hari jelang Lebaran, biasanya Kurniati sudah mendarat di kampung halamannya di Pontianak, Kalimantan Barat. Kini, momen buka puasa dan sahur terakhir jelang Lebaran cuma jadi mimpi belaka. Padahal buat perempuan yang akrab disapa Nia, ini adalah momen sakral.

Puasa tahun ini serasa 'jungkir balik' dibanding tahun lalu. Ia sempat mengalami diare. Padahal makanan yang ia makan bukan makanan yang pedas atau makanan yang tidak layak konsumsi. Namun ia menduga ini karena homesick atau kangen rumah.

"Kayaknya sih itu diare gara-gara homesick. Soalnya kemarin tu kok kayaknya enggak salah makan. Nah kalau homesick itu kadang bisa sakit perut, bisa asma atau masuk angin. Kalau sering asma tuh, itu pertanda homesick dan butuh emak buat ngerokin," ujar Nia pada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Sabtu (23/5).


Senasib dengan Nia, Novi juga tidak pulang ke Tegal untuk merayakan Lebaran dengan keluarganya. Puasa di masa pandemi ini membuatnya lebih memperhatikan asupan makanan. Kalau dulu, makan apapun jadi yang penting perut terisi.

Kendati memperhatikan asupan makanan, konsumsi suplemen makanan dan berolahraga, justru tahun ini dia merasa kondisi kesehatannya tidak sebagus puasa tahun lalu. Bahkan kondisinya sempat drop selama seminggu sehingga memaksanya tidak berpuasa.

"Mungkin faktor pikiran, kepikiran enggak bisa pulang, Lebaran sendirian. Sebenarnya sendirian sih sudah biasa, cuma mikirin orang rumah, THR diundur jadi Desember, gaji dipotong, bayar kos mahal," keluhnya.



Sementara itu buat Endro, puasa tahun ini tidak ada 'cobaan' dalam menahan haus, lapar dan emosi. Dirinya malah merindukan momen menahan diri untuk tidak membeli es kelapa saat perjalanan pulang dari kantor. Puasa memang serasa tanpa tantangan terlebih dia bekerja dari rumah (work from home).

Seperti Nia dan Novi, Endro pun merasa tubuhnya tidak begitu fit. Ia kadang mengalami sakit perut dan mual. Ini sebenarnya bukan hal aneh karena puasa tahun ini sempat ia alami. Hanya saja, tahun ini polanya berbeda.

"Sekarang sih mules, sakit perut. Gue duga ini karena bosen, stres, dua bulan di rumah. Itu kalau orang bilang 'cabin fever'," imbuhnya.

Berdamai dengan situasi

Menerima kenyataan dan berdamai dengan situasi mungkin jadi satu-satunya solusi. Namun dari pengalaman puasa dan pandemi, dirinya malah makin banyak berkomunikasi dengan keluarga di kampung halaman. Jika biasanya melakukan panggilan video hanya selama 15-30 menit, kini bisa menyentuh waktu satu jam. Bahkan ia pernah buka puasa bersama secara virtual.

"Seminggu terakhir kan bikin kue, keponakan-keponakan tuh pada bantu umminya, ya bantu ngancurin, belum mateng tapi udah dimakan, ya cerita-cerita konyol itu yang enggak saya dapet tahun lalu," katanya.

Seperti Nia, Novi pun kadang membunuh rindu dengan menghubungi sang ibu. Selain itu, demi puasa tetap waras, ia pun menghibur diri dengan menikmati sinar matahari dan tanaman-tanaman di area kos.

"Kan jendela kamar lebar, banyak tanaman di luar jadi bisa lihat ijo-ijo, terus berjemur itu membantu sedikit menaikkan mood," katanya.


Sedangkan Endro punya cara lain unik suntuk sudah memuncak dan tak mempan diatasi dengan cara biasa. Dia memilih untuk naik motor berkeliling jalanan Jakarta. Dari Kebayoran Lama, hingga Menteng, Kuningan bahkan Sudirman ia lalui demi angin segar dan pemandangan baru. Sekitar 1-2 jam ia rasa cukup untuk merasakan momen di luar rumah. Namun ini tak dilakukan setiap hari karena PSBB.

"Lumayan (menghalau suntuk), beberapa kali manjur, tapi ada yang tetep kurang, tapi paling enggak badan gerak sih, jadi bisa mandi terus tidur pules," ujarnya disusul tawa. (els/chs)

[Gambas:Video CNN]