Pandemi, Ahli Minta Pasien Jantung Tak Takut ke Rumah Sakit

CNN Indonesia | Rabu, 20/05/2020 13:58 WIB
An ECG heart monitor printout with a stethoscope Ilustrasi: Ahli meminta pasien jantung tetap memeriksakan kondisi kesehatan selama pandemi corona, sebab penanganan penyakit ini tak bisa ditunda. (Foto: Istockphoto/clubfoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para penderita penyakit jantung dianjurkan tetap melakukan pengecekan rutin kondisi kesehatan di tengah pandemi virus corona. Ahli penyakit jantung dari Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk Jakarta, dokter Leonardo Paskah Suciadi juga meminta para pasien jantung tidak takut mendatangi rumah sakit untuk mengontrol kesehatan jantung sekalipun sedang wabah Covid-19.

Pasalnya kata dia, sejumlah protokol kesehatan telah diterapkan untuk mencegah penularan Covid-19 di lingkungan rumah sakit.

"Kita memang perlu waspada dengan Covid-19, namun jangan lupa waspada juga bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit jantung," ungkap Paskah seperti dikutip Antara.



Sebab ia menerangkan, penyakit jantung merupakan penyakit yang tidak bisa ditunda penanganannya. Ia mencontohkan, dalam beberapa waktu belakangan cukup banyak tokoh publik yang meninggal akibat penyakit tersebut.

"Jadi memang tidak bisa ditunda penanganannya dan tidak boleh ada toleransi waktu. Semakin cepat penanganannya maka semakin baik," kata dia.

Karena itu di tengah kondisi pandemi virus corona, para penderita penyakit jantung harus tetap menjaga kesehatan jantungnya. Termasuk, mengonsumsi obat-obatan yang berfungsi menstabilkan fungsi jantung.

Infografis Angka Sakti Pencegah Sakit JantungFoto: CNN Indonesia/Laudy Gracivia
Infografis Angka Sakti Pencegah Sakit Jantung


Apabila kondisi tersebut tidak dijaga, dikhawatirkan jika penderita penyakit jantung tersebut terinfeksi Covid-19 maka kondisi kesehatannya akan semakin menurun.

"Terutama pada minggu kedua setelah terinfeksi virus. Pada minggu pertama mungkin gejalanya belum terlalu berat, namun pada minggu kedua gejalanya mulai berat dan pada saat itu terjadi badai sitokin yang mana sel-sel tubuh merespon berlebihan. Misalnya jika kondisi itu dialami penderita penyakit jantung, maka pada fase itu akan terjadi serangan jantung," jelas dia.

"Sejauh ini tidak ada obat-obatan standar di bagian jantung yang meningkatkan risiko terkena Covid-19," jelas Paskah lagi. (Antara/NMA)

[Gambas:Video CNN]