Studi: Pasien Pulih Covid-19 Punya 'Luka Imunologis'

tim, CNN Indonesia | Rabu, 20/05/2020 20:22 WIB
Abs COVID-19 antibody - 3d rendered image structure view on black background. 
Viral Infection concept. MERS-CoV, SARS-CoV, ТОРС, 2019-nCoV, Wuhan Coronavirus.
Antibody, Antigen, Vaccine concept. Pasien yang pulih dari infeksi paru-paru parah ternyata mengembangkan 'immunological scars' atau bekas luka imunologis. (iStockphoto/koto_feja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasien yang pulih dari infeksi paru-paru parah ternyata mengembangkan 'immunological scars' atau bekas luka imunologis. Peneliti mengungkapkan, hal tersebut adalah respon tubuh manusia namun berpotensi meningkatkan risiko tertular pneumonia, komorbid Covid-19 yang mematikan.

Studi pada manusia dan tikus menunjukkan bahwa respons imun tubuh 'mati' sementara waktu akibat infeksi parah yang menyerang. Hal ini membuat pasien lebih rentan terhadap penyakit dari bakteri atau virus lainnya.

Mengutip AFP, peneliti dari peter Doherty Institute untuk Infeksi dan Kekebalan Tubuh Universitas Melbourne dan Rumah Sakit Universitas Nantes menemukan bahwa sel yang membentuk garis pertahanan pertama sistem kekebalan tubuh, yang disebut makrofag lumpuh setelah infeksi parah virus corona dalam tubuh.


Normalnya, makrofag menetralkan bakteri dan meningkatkan sinyal bahaya internal yang mengirimkan sel-sel kekebalan ke tempat yang terinfeksi. Setelah ancaman diatasi, makrofag menurunkan alat dan tubuh kembali berjalan seperti biasa.


Namun pada pasien Covid-19 yang terinfeksi parah, peneliti menemukan bahwa makrofag tersebut tak aktif. Hal ini bakal menyebakan risikonya makin tinggi untuk tertular infeksi sekunder yang fatal misalnya pneumonia di rumah sakit.

Eropa sendiri melihat sekitar 500.000 pasien rumah sakit terinfeksi pneumonia setiap tahun - sekitar 10 persen dari mereka meninggal. Sebagian besar kematian COVID-19 terjadi karena badai sitokin - suatu proses di mana respons imun tubuh sendiri berjalan liar yang menyebabkan peradangan akut dan seringkali fatal.

"Kami percaya pendekatan alternatif adalah mengisi ulang sistem kekebalan untuk mencegahnya dari kelumpuhan (akibat infeksi parah), sehingga pasien dapat melindungi diri mereka sendiri dari infeksi sekunder tanpa menggunakan antibiotik," kata Jose Villadangos dari Peter Doherty Institute.

Virus coronaFoto: iStockphoto/spawns
Virus corona


Sel T perangi virus corona

Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa ada kemungkinan antibodi manusia yang sudah pulih dari infeksi virus corona bisa menjadi vaksin covid-19.

Sampai saat ini, hal tersebut masih diteliti. Namun sebuah penelitian yang diterbitkan di journal Cell mendeteksi adanya perlawanan sel T CD4 + terhadap Sars-CoV-2 pada setengah dari sampel tersebut karena adanya paparan virus corona lain penyebab pilek.


Science mencatat bahwa hasilnya sejalan dengan penelitian lain, yang dipimpin oleh para peneliti di Charite University Hospital di Berlin dan melaporkan dalam cetakan awal bulan lalu, yang menemukan sel T CD4 + yang mengenali protein lonjakan dalam darah dari 83 persen pasien COVID-19 dan 34 persen orang sehat diuji.

"Ini adalah data yang menggembirakan," virolog Universitas Columbia Angela Rasmussen, yang tidak terlibat dalam studi manapun, mengatakan pada Science.

Meskipun tidak konklusif, respon sel T menjadi pertanda baik untuk pengembangan kekebalan protektif jangka panjang di antara orang-orang yang telah pulih dari COVID-19, katanya.

Dia mengungkapkan bahwa penelitian ini dapat berguna untuk merancang vaksin. (chs)

[Gambas:Video CNN]