Memupuk Rindu Sang Ibu Tanpa Kepulangan Buah Hati

CNN Indonesia | Minggu, 24/05/2020 09:44 WIB
Children asking for forgiveness from their parents on Hari Raya Aidilfitri, a Malay tradition and culture in Malaysia. ilustrasi: Para ibu mesti memupuk rindu lantaran sang buah hati tak bisa pulang merayakan Idul Fitri akibat pandemi Covid-19. ( iStockphoto/faidzzainal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Darinah tidak bisa menyembunyikan kesedihan saat harus menahan rindu ketika sang puteri, Nia, tidak mudik ke Pontianak, Kalimantan Barat pada Idul Fitri kali ini. Namun dirinya sadar, pandemi Covid-19 akibat infeksi virus corona tidak memungkinkan anaknya untuk nekat menyeberang lautan demi berkumpul dengan keluarga.

"Alhamdulillah ada video call, ada ngobrol sama Nia, (rindu) sedikit terobatkan. Karena jarak jauh enggak bisa peluk-peluk," katanya terisak saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (23/5).

Biasanya sang anak mendapat tugas berbenah rumah termasuk mengganti gorden dan bersih-bersih. Sementara dia dan menantunya akan menyiapkan masakan seperti ketupat juga roti cane. Dia hanya berharap pandemi segera berakhir dan seluruh anggota keluarga bisa kembali berkumpul. 


Senada dengan Darinah, Dini Erlina Ika, dan Endang Sulasniawati juga hanya bisa pasrah. Anak-anak mereka merantau di Jakarta yang termasuk zona merah sekaligus episentrum Covid-19 sehingga mau tak mau harus urung merayakan Lebaran bersama.

Lina, panggilan akrab Dini Erlina Ika, sedih ketika tahu sang anak, Khaira Ummah Junaedi Putri, tidak mudik. Dirinya memahami berada di zona merah berisiko bisa menularkan virus ketika nanti harus kembali ke Tuban, Jawa Timur, kampung halaman mereka.

"Saya meskipun kebiasaan ditinggal sejak dia kuliah, tapi tidak pernah kita enggak lebaran bareng, sekalipun. Itu yang buat saya berkaca-kaca, kasihan anakku di kosan, merantau terus sendirian,"katanya.

Dia menambahkan opor ayam selalu jadi menu Lebaran di keluarga mereka. Momen paling menyenangkan terasa saat menyiapkannya bersama.

Selain menyatukan seisi rumah, opor ini pula yang akan disajikan saat kerabat jauh berkunjung. Sempat terlintas di pikirannya untuk mengirim makanan ke Jakarta untuk sekadar mengobati rindu sang anak akan kampung halaman.

"(Yang penting) tetap sehat, jangan sampai sakit aneh-aneh, seperti corona," ucapnya.

Sedangkan buat Endang, anak tidak mudik ke Magelang, Jawa Tengah tak jadi soal. Dirinya lebih mementingkan kesehatan dan keselamatan sang puteri, Aulia Diza Rachmawatie.

"Saya mempunyai prinsip gini, lebih baik menahan rindu daripada kehilangan orang yang dicintai selamanya," katanya mantap.

Lebaran tahun ini harus ia lalui sendirian. Endang berkata dirinya memang sudah akrab dengan kesendirian sejak sang suami tiada pada 2006 silam. Dalam kondisi seperti ini, dia berusaha untuk tetap optimistis dan bersemangat sebab stres dan kesedihan malah bisa membuatnya sakit.

Dirinya mengenang betapa momen jelang Lebaran selalu dihabiskan dengan jalan-jalan. Dari Magelang, biasanya ia dan sang anak berkunjung ke Jogja dan menyempatkan diri berbuka di sana.

Meski tanpa Diza, justru Ramadan dan Lebaran ini tahun ini membawa berkah tersendiri. Dirinya justru disibukkan dengan pesanan makanan baik makanan ringan maupun menu makanan berat untuk berbuka. "Saya senang masak, terus teman-teman pada pesan. Ada kesibukan tapi mendatangkan rezeki, enggak nyangka,"ujarnya.

Dia menambahkan salat Idul Fitri nanti pun tidak akan dilaluinya sendirian. Tetangga depan rumah mengajaknya salat berjamaah bersama dua orang anggota keluarga lainnya.

"Perumahan kan cluster, aman, kalau di Jawa Tengah kan ada saling peduli (antartetangga) jogo tonggo," imbuhnya. (els/eks)

[Gambas:Video CNN]