Ikatan Dokter Jelaskan Risiko Tinggi Infeksi Corona di Anak

CNN Indonesia | Minggu, 24/05/2020 14:37 WIB
Ilustrasi dokter Ilustrasi dokter. (Pixabay/DarkoStojanovic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman B Pulungan menerangkan resiko penularan virus corona (Covid-19) pada anak cukup tinggi, terutama bila tidak mendapat pengawasan ketat dari orang tua.

"Ada kegiatan di luar rumah yang rawan menularkan ke anak, maka perlu pengawasan," ucap Aman kepada CNNIndonesia.com, Minggu (24/5).

Merujuk pada data sebaran corona di Indonesia yang dilihat pada laman https://covid19.go.id/peta-sebaran per 24 Mei 2020, pasien positif corona untuk kategori umur 0-5 tahun mencapai 2 persen, dan kategori umur 6-17 sebanyak 5,45 persen.


Pada grafik tersebut diketahui kategori umur yang paling banyak positif di Indonesia adalah usia 31-45, disusul usia 46-59, 18-30, dan lebih dari 60.

Untuk usia 0-5 tahun berada di posisi buncit, di bawah kategori usia 6-17. Masih ada 8,1 persen yang tak menunjukkan data usia.

Untuk diketahui, per 23 Mei 2020, pemerintah RI mengumumkan kasus positif di Indonesia sudah mencapai 21.745 pasien. Selain itu per hari yang sama, data Pasien Dalam Pengawasan (PDP) ada 11.495, sementara Orang Dalam Pemantauan (ODP) ada 49.958.

Namun, menurut Aman, angka kasus anak sebenarnya akan jauh lebih banyak jika dilakukan tes swab dan penelusuran kontak langsung (contact tracing) yang lebih masif dalam kasus Covid-19/

"Mungkin lebih banyak dari data tersebut, itulah mengapa orang tua perlu mengawasi anak karena penularannya mudah," kata Aman.

Aman juga menjelaskan, tidak ada perbedaan signifikan antara imunitas anak dan orang dewasa. Selama ini penularan virus corona dianggap hanya rentan menyerang orang usia lanjut. Padahal, tidak ada jaminan yang pasti kondisi serupa tidak terjadi pada anak-anak.

"Sama saja ya kalau bicara imunitas, tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap Covid-19," ucap Aman.

Lebih lanjut, Aman mendesak supaya pemerintah memperhatikan upaya penerapan new normal terhadap anak. Terlebih dalam upaya memerhatikan kebutuhan dasar anak.

"Tatanan kehidupan normal harus disusun sesuai dengan kebutuhan dasar anak, bukan sebaliknya," imbuh Aman.

Grafik sebaran kelompok umur positif Covid-19 di Indonesia yang diakses dari situs www.covid19.go.id, 24 Mei 2020, pukul 13.43 WIB.Grafik sebaran kelompok umur positif Covid-19 di Indonesia yang diakses dari situs www.covid19.go.id, 24 Mei 2020, pukul 13.43 WIB. (Screenshot via web covid19.co.id)
Kemudian, pemerintah harus memprioritaskan pemeriksaan pada anak sedini mungkin menggunakan metode swab test maupun real time PCR.

Ia pun menegaskan bahwa perawatan pada anak juga memerlukan metode khusus, tidak seperti pasien dewasa.

Aman menjelaskan, selama ini tes hanya dilakukan pada anak yang menunjukkan gejala berat penyakit Covid-19. Sementara untuk anak yang bergejala ringan dilakukan perawatan di rumah.

"Menghadapi pasien anak kan tidak mudah, terutama masalah psikologis, perawatan pada anak tidak hanya dengan pengobatan mandiri, tapi lebih baik ditemani dengan orang tuanya melakukan isolasi," jelasnya.

Dari data yang dimiliki pemerintah pusat, per Minggu (24/5), jumlah pasien kategori 0-5 tahun mencapai 1,2 persen dari total kasus positif yang sudah sembuh. Sementara itu, untuk kategori usia 6-17 tahun mencapai 3,6 persen.

Untuk angka fatal, kategori 0-5 tahun persentasenya 0,8 persen yang meninggal. Sementara itu, kategori 6-17 tahun mencapai 0,6 persen. (mln/kid)

[Gambas:Video CNN]