Menimbang Homeschooling, Alternatif Pembelajaran saat Pandemi

tim, CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2020 18:03 WIB
Sejumlah siswa belajar bersama dari rumahnya di Kampung Sewu, Solo, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2020). Kegiatan belajar dari rumah tersebut dilakukan menyusul aturan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo yang memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan meliburkan sekolah hingga 13 April 2020 mendatang, guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc Ilustrasi: Orang tua perlu menyiapkan diri menjadikan homeschooling sebagai alternatif pembelajaran, mengingat ketidakpastian kapan wabah berakhir (Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Homeschooling atau sekolah di rumah diperkirakan bakal jadi sebuah keniscayaan di tengah ketidakpastian pandemi virus corona. Apalagi jika mengingat angka penularan penyakit Covid-19 pada anak menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), masih tergolong tinggi.

Dengan kondisi ini, kapan sekolah harus dibuka lagi pun mesti dipertimbangkan matang agar kasus pada anak tak melonjak. Maka homeschooling menurut psikolog dan pengamat anak pun bisa jadi salah satu pilihan.

Lagipula menurut psikolog anak, Ratih Ibrahim, pada praktiknya metode sekolah dari rumah yang kini diterapkan selama pandemi selaras dengan konsep homeschooling. Hanya saja pelaksanaannya memang belum terkonsep baik.


Ia mencoba memaklumi itu karena Ratih menganggap wabah pun terjadi secara mendadak.


"Bedanya ada pada teknik belajarnya, yang sampai sekarang menurut hemat saya kurikulum SFH (Sekolah from Home) yang semestinya menggunakan kurikulum yang sudah ada--hanya dilakukannya di rumah--masih belum cukup rapi dan efektif. Hal ini terjadi karena memang pelaksanaan SFH kan kagetan terjadinya," terang Ratih saat dihubungi CNNIndonesia.com.

"Sedangkan homeschooling adalah program yang sudah terkonsep matang, dan sudah dilaksanakan lama," sambung psikolog dari Personal Growth tersebut.

Senada, pakar pendidikan yang juga praktisi homeschooling Seto Mulyadi menuturkan, metode ini sangat bisa jadi alternatif untuk memastikan hak pendidikan anak terpenuhi selama pandemi virus corona. Ditambah lagi, langkah ini pun menurut dia sejalan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Ia menerangkan, anak tak perlu memilih salah satu. Peraturan tersebut menyebut anak bisa meenempuh pula homeschooling sebagai pelengkap, penambah ataupun pengganti. Artinya, bisa saja masih tetap mengikuti sekolah formal sembari menempuh homeschooling pelengkap atau penambah.

"Saya kira itu [homeschooling] bisa dijadikan salah satu pemecahan," kata Seto kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

[Gambas:Video CNN]

Dan langkah homeschooling pun menurut Seto punya banyak jalan. Memang ada dan sudah banyak lembaga khusus yang menyediakan program homeschooling. Tapi orang tua boleh jadi ikut menerapkan homeschooling tanpa harus mendaftar ke lembaga khusus. Orang tua bisa berperan sebagai guru sekaligus teman belajar.

Namun syaratnya, Kementerian Pendidikan ataupun Dinas Pendidikan setempat harus membantu sekolah untuk menyiapkan panduan homeschooling bagi orang tua. Seto dan komunitasnya terbuka untuk melakukan diskusi dan memberikan masukan mengenai panduan homeschooling ini.

"Sekolah pun, juga harus dapat panduan dari kementerian ataupun dinas pendidikan setempat bagaimana memenuhi kebutuhan anak dengan cara yang lebih fleksibel, bukan hanya formal, karena kan sedang bermasalah. Jadi dengan layanan pendidikan nonformal ataupun informal sehingga orang tua juga bisa mendapatkan informasi [panduan] ini dari sekolah atau dinas pendidikan," ia menyarankan.

Kendati begitu ia turut mengingatkan, pilihan untuk menempuh homeschooling atau tidak tersebut wajib didasarkan pada keinginan dan kebutuhan anak. Orang tua, tak bisa memaksakan kehendak jika memang anak tidak menginginkannya.

Dua siswa belajar seni melipat kertas (origami) bersama ayah mereka di rumahnya di Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Kamis (2/4/2020). Kegiatan belajar seni dari rumah tersebut dilakukan menyusul aturan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo yang memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan meliburkan sekolah hingga 13 April 2020 mendatang, guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Maulana Surya/aww.Ilustrasi: Pilihan menempuh homeschooling atau tidak harus didasarkan pada kebutuhan anak. Orang tua pun wajib mengamati perkembangan perilaku anak saat proses belajar di rumah selama pandemi virus corona. (Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya)


"Intinya kan sekolah itu untuk anak, itu bagian dari pemenuhan hak untuk tumbuh dan berkembang. Jadi pemenuhan itu harus disesuaikan dengan kebutuhan dan cara belajar anak," terang dia.

Orang tua mesti cakap mengenali peminatan dan perubahan perilaku anak selama pandemi ini. Atau, lanjut Seto, orang tua juga bisa menanyakan kepada anak tentang apa yang dirasakan selama wabah, yang diperlukan dan keinginannya.

"[Ditanya] Bagaimana, cocok enggak? Senang enggak?"

"Yang penting komunikasi antara orang tua dan anak itu harus efektif ya. Orang tua jangan hanya menjadi orang tua biologis saja, tetapi orang tua yang efektif, yang memposisikan sebagai sahabat anak. Pendekatannya penuh dengan persahabatan, keakraban. Jadi nggak usah ditanya, sambil mengamati kan orang tua bisa mengetahui, ini sudah stres, sudah bosan atau apa, dari perilakunya kan," tutur Seto lagi.


Kenapa homeschooling dinilai jadi bisa jadi salah satu pemecahan pendidikan anak di tengah pandemi?

Seto menerangkan, pada masa wabah yang penuh ketidakjelasan ini, pembelajaran anak-anak di sekolah formal mengalami masalah. Karena itu ia menilai, metode homeschooling dan peran keluarga bisa jadi salah satu jalan memecah problem pendidikan tersebut.

Masa-masa tetap di rumah bisa dimanfaatkan untuk 'mempertajam' peran orang tua sebagai pendidik utama anak. Terlebih standar kompetensi dalam proses belajar anak pun sebetulnya sama baik pada pembelajaran formal, informal ataupun nonformal.

"Intinya adalah guru mau berkomunikasi dengan orang tua, jangan langsung kepada murid. Jadi orang tua ikut menterjemahkan apa yang mau diberikan kepada anak sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga," kata Seto.


Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan sebanyak 79,9 persen siswa mengaku proses belajar dari rumah tak berlangsung interaktif. Mayoritas responden dari total 1.700 anak ini disebut tak berinteraksi sama sekali dengan guru kecuali saat memberikan dan mengumpulkan tugas.

Survei dilakukan kepada siswa SMA hingga TK di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota. Tim peneliti menggunakan teknik multistage random sampling yang dilakukan dalam kurun waktu 13 April hingga 20 April 2020.

Sementara tak ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir dan vaksin ditemukan, psikolog Ratih Ibrahim menyarankan orang tua bergegas menyiapkan diri untuk menerapkan homeschooling. Keputusan perlu segera dibuat mengingat ketidakpastian wabah dan, demi menggenapi kebutuhan pendidikan para anak.

"Menurutku saat ini mesti think fast and make quick decision deh. Then menyiapkan diri as soon as possible. Kalau perlahan, bisa ketinggalan banyak. Karena kebutuhan anak kan nggak nunggu kapan orang tuanya siap apa enggak," Ratih meyakinkan. (NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]