Ebola (EVD) telah menjadi epidemi di timur negara itu dan mengakibatkan 2.280 orang kehilangan nyawa sejak tahun 2018. Wabah ini merupakan yang ke-11 di Kongo.
Awal Ebola diidentifikasi pada tahun 1976 di Equater yang saat itu dikenal sebagai Zaire. Sejak tahun 2014, Ebola telah menewaskan 11 ribu orang terbanyak di Guinea, Liberia dan Sierra Leone.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Wabah Ebola Kembali Merebak di Kongo |
Tidak hanya dari hewan, Ebola juga dapat menular ke sesama manusia melalui kontak langsung. Cara penularan virus Ebola dapat terjadi sebagai berikut:
- melalui kulit yang rusak atau selaput lendir
- darah atau cairan tubuh seseorang yang terjangkit virus Ebola
- benda yang terkontaminasi dengan cairan tubuh (darah, tinja, muntah) dari pasien virus Ebola
- petugas kesehatan yang terinfeksi dari pasien dengan dugaan Ebola
- ASI dari si ibu yang terjangkit Ebola akut
Ilustrasi. Wabah Ebola kembali merebak di Kongo di tengah pandemi infeksi virus corona. (John WESSELS / AFP) |
Gejala Virus Ebola
Seseorang yang terinfeksi tidak dapat menyebarkan penyakit sampai mengalami gejala. Gejala seseorang pasien yang terjangkit virus Ebola sebagai berikut:
- demam
- kelelahan
- nyeri otot
- sakit kepala
- sakit tenggorokan
- muntah
- diare
- gejala gangguan fungsi pada ginjal dan hati
- dalam beberapa kasus terdapat pendarahan internal dan eksternal (melalui gusi atau tinja)
- dari temuan laboratorium, sel darah putih dan trombosit mengalami penurunan drastis dan enzim hati meningkat
Apabila memiliki gejala tersebut, seorang pasien wajib melakukan masa inkubasi selama 2 sampai 21 hari.
Lihat juga:WHO dan Pusaran Kontroversi |
Vaksin rVSV-ZEBOV telah terbukti dapat digunakan sebagai vaksin untuk mencegah penularan virus Ebola. Vaksin ini merupakan hasil eksperimen yang dilakukan di Guinea pada tahun 2015.
Vaksin ini telah melibatkan 11.841 orang, di antaranya 5.837 orang yang menerima vaksin tidak mengalami gejala virus Ebola selama 10 hari atau lebih. (auz/asr)
Ilustrasi. Wabah Ebola kembali merebak di Kongo di tengah pandemi infeksi virus corona. (John WESSELS / AFP)