Pola Asuh yang Tepat Agar Anak Tumbuh Pintar

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 05:28 WIB
Young mixed race single mother lying on the floor and posing for a photo with her two daughters and a baby boy. Kepintaran dan kecerdasan anak muncul lewat pola asuh yang tepat. Berikut pola asuh yang tepat agar anak tumbuh pintar. (Istockphoto/Goldmund)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepintaran dan kecerdasan anak muncul lewat pola asuh yang tepat. Orang tua atau pengasuh harus mulai menanamkannya sejak anak di dalam kandungan. Berikut pola asuh yang tepat agar anak tumbuh pintar.

"Orang tua atau pengasuh punya kewajiban mengajari dan membimbing anak untuk terus belajar sebaik-baiknya supaya kecerdasan anak terus bertambah," kata dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang Catharine Mayung Sambo dalam webinar RSPI, Rabu (24/6).

Catherine menjelaskan pola asuh yang merupakan kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang anak yang meliputi tiga bagian yakni asah, asih, dan asuh.


Berikut pola asuh yang tepat agar anak tumbuh pintar.

1. Asuh

Asuh berarti memenuhi semua kebutuhan anak mulai dari nutrisi, imunisasi, pakaian, perumahan, dan layanan kesehatan yang baik. Semua hal ini akan berpengaruh pada kecerdasan anak di masa depan. Anak dengan nutrisi yang baik, memiliki kecerdasan yang lebih baik.

Imunisasi yang lengkap juga dapat mencegah anak dari berbagai penyakit yang dapat menghambat kepintaran anak.

2. Asih

Asih meliputi kebutuhan berupa rasa aman, kasih sayang, harga diri, kebebasan, dan rasa sukses. Orang tua harus mampu memberikan rasa aman dan kasih sayang kepada anak agar tumbuh pintar.

"Rasa sukses di sini merupakan bentuk apresiasi bahwa mereka sudah melakukan yang benar dan baik, serta jangan lupa ucapkan terima kasih," kata Catharine.

3. Asah

Pola asuh yang ketiga adalah asah yakni mengasah kemampuan anak dengan memberikan stimulasi, pengenalan pada lingkungan, hukum, dan nilai sosial.

Asah juga meliputi pengenalan atau mengajarkan anak pada empat kategori besar yakni gerak kasar, gerak halus, bicara bahasa, dan sosial kemandirian.

Gerak kasar yaitu dimulai dari usia 0-2 tahun tahun berupa duduk, berdiri, dan berjalan. Setelah itu dilanjutkan dengan gerak halus yang melibatkan saraf-saraf halus seperti menggambar dan melukis. Di saat yang sama orang tua juga harus mengenalkan anak bicara dan bahasa. Sedangkan sosial kemandirian yakni mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan orang lain.

"Sosial kemandirian merupakan kemampuan berinteraksi dan secara personal memahami yang terjadi pada dirinya dan orang lain," ucap Catharine

(ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]