Bapak dan Ibu, Selamat Datang di 'Kehidupan Baru'

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 28/05/2020 11:26 WIB
Ilustrasi makan malam dengan keluarga. (Skeeza/Pixabay) Ilustrasi. Keluarga disarankan untuk menetapkan tujuan bersama dan menentukan cara mencapainya untuk menyambut 'the new normal'. (Pixabay.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Buat Ana Maria Ina, awal masa karantina mandiri terasa begitu menyenangkan. Jika biasanya quality time bersama anak dan suami hanya didapat sepulang kerja, di masa karantina setiap saat tak ubahnya waktu berkualitas.

"Rasanya pandemi [Covid-19] membuat quality time lebih leluasa," kata Ina pada CNNIndonesia.com, Jumat (15/5).

Tapi, itu adalah cerita di awal. Belakangan, waktu berkualitas itu menjelma rasa bosan yang menggerogoti si buah hati. Si anak mulai banyak bertanya kenapa begini dan begitu.


"Dia juga risih karena setiap keluar rumah tapi pakai masker, cuci tangan, ganti baju," kata Ina.

Serupa dengan Ina, Natatsa Mayang Pujakusuma juga merasa awal masa karantina tak ubahnya waktu libur. Suami dan kedua anaknya ada di rumah bersamanya selama 24 jam setiap harinya.

Namun, semakin lama, perempuan yang akrab disapa Tatsa ini menyadari bahwa tugas sekolah kedua anaknya begitu menyita waktu. Tak jarang tugas rumah jadi terbengkalai.

Tatsa bahkan merasa waktu untuk diri sendirinya kian berkurang karena setiap saat harus selalu mendampingi kedua buah hatinya. "Mungkin anak lain bisa dilepas, tapi kalau anak saya enggak bisa dikasih worksheet lalu saya tinggal masak. Malah bubar," katanya bercerita pada CNNIndonesia.com, Jumat (15/5).

Kendati demikian, bukan berarti masa karantina mandiri ini menjadi 'neraka' bagi kedua ibu rumah tangga ini. Alih-alih mengutuk, kedua justru menemukan nilai positif dalam keluarga lewat masa karantina ini.

Ina, misalnya, yang merasa lebih 'kalem' di masa pandemi ini. Ina lebih bisa mengontrol emosinya saat si anak melakukan hal-hal yang bikin jengkel. Berbeda dengan sebelumnya, di mana Ina bisa saja dibuat marah dua kali sehari meski dalam kondisi lelah sepulang kerja.

Ina juga merasa lebih intim dengan suami. "Malah sama suami jadi lebih intim, banyak terbuka dan banyak ngomongin tentang 'kita'," imbuhnya.

Sedangkan Tatsa, dia merasa lebih mengenal kedua anaknya. Misalnya saja, si sulung yang baru diketahuinya lebih bisa berkonsentrasi belajar saat pagi hingga sore. Sedangkan si bungsu lebih berkonsentrasi saat malam hari.

ilustrasi orang tua dan anakIlustrasi. Di masa karantina mandiri, waktu berkualitas untuk keluarga terasa lebih leluasa. (Istockphoto/ Fizkes)

Dan, diam-diam, pengetahuan baru tentang kedua anaknya tersebut membuat Tatsa mencoba mengatur waktu. Pagi hingga sore Tatsa membiarkan dirinya fokus untuk mengawasi si sulung. Sementara malam, Tatsa memberikan diri sepenuhnya untuk si kecil.

"Saya enggak bisa, nih, ngawasin dua anak sekaligus, makanya saya kasih shift. Kakaknya shift pagi sampai sore. Nah, malam habis buka puasa, adiknya. Kakaknya enggak bisa malam, bisa ditinggal tidur. Kalau adiknya, nih, lihat cahaya aja kayak burung pipit. Malam dia pakai lampu belajar aja sudah bisa fokus," jelasnya.

Selamat Datang di Kehidupan Baru


Melihat dinamika keluarga seperti yang diceritakan di atas, psikolog anak Erfiane Cicilia mengamini bahwa masa pandemi jadi waktu untuk berkenalan kembali dengan anak, pasangan, dan diri sendiri.

Erfiane mengatakan, terkadang seseorang telah merasa cukup untuk memahami pasangan dan anak. Namun, kehadiran keduanya dalam 24 jam kehidupan di rumah membuat pemikiran ini-merasa cukup mengenal-perlu dievaluasi lagi.

"Selamat datang pada dinamika kehidupan. Artinya, kita tidak akan pernah kenal seseorang bahkan yang satu tempat tidur secara utuh dan tetap atau permanen. Jadi, lagu 'Aku masih seperti yang dulu', itu salah, enggak boleh kayak gitu. Kita enggak kayak dulu lagi," katanya pada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (15/5).

Dalam kehidupan keluarga, hidup bersama-sama selama 24 jam jelas memberikan dampak yang jauh berbeda. Erfiane mengatakan, akan muncul masa santai, rileks, tegang, dan cemas selama 24 jam tersebut. "Dan, perasaan-perasaan itu hadir secara utuh," ujar dia.

Tak hanya membuat anggota keluarga saling mengenal, di sisi lain masa karantina rentan menyulut amarah meski hanya karena hal sepele sekalipun.

Sebelum masa pandemi, kata Erfiane, rasa lelah sepulang kerja terkadang membuat orang tua lebih toleran dengan anak atau sebaliknya. Ulah yang dibuat anak tak membuat orang tua mengamuk karena rasa lelah. Namun, hal berbeda terjadi di masa karantina.

"Psikologisnya gini, saya temani kamu 24 jam, lho. Kalau anak sudah agak besar, harapannya dia mau bantu pekerjaan rumah tangga, tapi enggak dilakukan dan bikin emosi," kata Erfiane. Hal yang sama juga berlaku dengan pasangan.

Ilustrasi anak sekolahIlustrasi. Bersama-sama selama 24 jam membuat anggota keluarga lebih saling mengenal satu sama lain. (Istockphoto/ Fizkes)

Tetapkan Tujuan dan Evaluasi

Alih-alih bergulat memikirkan berbagai perubahan itu, Erfiane menyarankan agar keluarga mempraktikkan 'goal setting'. Diskusikan dengan pasangan mengenai hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara untuk mewujudkannya.

Atau, seorang ibu juga bisa berdiskusi dengan anak tentang apa yang harus dilakukan mereka saat suasana sedang tak mengenakkan. Jangan lupa untuk mempraktikkannya dalam jangka waktu tertentu dan ambil langkah evaluasi.

Dengan cara seperti itu, keluarga akan siap menghadapi 'new normal' atau situasi baru dalam kehidupan sehari-hari yang mencoba berdamai dengan pandemi. (els/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK