Penyintas Corona Bisa Alami Kerusakan Paru Jangka Panjang

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 25/06/2020 09:01 WIB
ilustrasi paru-paru Ilustrasi. Kerusakan paru-paru jangka panjang seperti fibrosis paru mengintai pasien infeksi virus corona yang telah sembuh. (iStockphoto/magicmine)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kendati angka kesembuhannya cukup tinggi, namun Covid-19 dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang. Pasien yang telah sembuh dari infeksi virus corona terancam kerusakan paru-paru kronis dalam jangka waktu yang lama.

Para dokter memperingatkan bahwa penyintas Covid-19 tetap perlu kembali memeriksakan diri ke rumah sakit. Mereka percaya bahwa jika dibiarkan, penyintas Covid-19 bisa mengalami perkembangan jaringan parut pada paru-paru atau yang biasa dikenal dengan fibrosis paru.

"Dalam pemindaian selama enam pekan, yang kami lihat sejauh ini adalah antara 20-30 persen pasien [Covid-19] yang dirawat di rumah sakit tampaknya menunjukkan tanda-tanda awal bekas luka pada paru-paru yang mengarah pada fibrosis," ujar Sam Hare, anggota komite eksekutif British Society of Thoracic Imaging, mengutip Mirror.


Fibrosis paru merupakan gangguan pernapasan akibat terbentuknya jaringan parut di organ paru-paru. Kondisi ini dapat membuat paru-paru tak bisa berfungsi secara normal.

"Keberadaan lubang di paru-paru kemungkinan merujuk pada fibrosis pasca-Covid," ujar ahli transplantasi paru dari Columbia University, Lori Shah, mengutip Healthline.

Fibrosis pasca-Covid, lanjut Shah, didefinisikan sebagai kerusakan paru-paru pada pasien corona yang tidak dapat dipulihkan dan dapat mengakibatkan berbagai gejala seperti batuk dan sesak napas. Tak jarang pasien membutuhkan bantuan oksigen.

Pada beberapa kasus, kerusakan pada paru tak bisa ditangani. Hal ini membuat pasien harus menjalani transplantasi paru-paru sebagaimana yang dilaporkan terjadi pada pasien di Chicago, Amerika Serikat, baru-baru ini.

Map of Indonesia with a coronavirus warning tape (COVID-19, 2019-nCoV) isolated on a gray background. The map is white with a long shadow effect and in a flat design style. Conceptual image: coronavirus outbreak on the territory, coronavirus detected, closing of borders, area under control, stop coronavirus, quarantined area, spread of the disease, virus alert, danger zone, confined space. Vector Illustration (EPS10, well layered and grouped). Easy to edit, manipulate, resize or colorize.Ilustrasi. Kerusakan paru-paru jangka panjang mengintai pasien corona yang telah sembuh. (iStock/bgblue)

Para ahli memprediksi kondisi ini disebabkan oleh respons imun tubuh terhadap virus yang menciptakan puing-puing radang yang menyebabkan pembekuan di pembuluh tingkat kapiler. Kendati demikian, belum bisa dipastikan siapa yang lebih berisiko mengalami komplikasi ini.

"Covid-19 memang sangat memengaruhi paru-paru dan saluran udara," ujar ahli paru-paru, Bushra Mina.

Mina menyebut bahwa kebanyakan pasien sembuh dengan meninggalkan beberapa gejala sisa seperti batuk dan sesak napas. "Tapi, populasi tertentu memiliki kerusakan paru-paru yang parah. Beberapa dari mereka berakhir dengan fibrosis paru," kata dia.

Laporan The Lancet dalam artikel berjudul "Pulmonary Fibrosis Secondary to Covid-19: A Call to Arms?" menyebutkan bahwa 26 persen pasien memerlukan perawatan intensif. Sebanyak 61 persen di antaranya mengembangkan ARDS atau sindrom gangguan pernapasan akut.

"Fibrosis paru dapat berkembang baik setelah peradangan kronis," tulis The Lancet.

Data yang tersedia saat ini menunjukkan bahwa sekitar 40 persen orang dengan Covid-19 mengembangkan ARDS. Sebanyak 20 persen di antaranya mengalami kerusakan parah.

Kerusakan paru seperti fibrosis ini menunjukkan bahwa pasien corona yang telah sembuh berisiko mengalami komplikasi yang bertahan lama.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK