10 Penyebab Rasa Nyeri pada Organ Kewanitaan saat Bercinta

CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 22:10 WIB
Ilustrasi disfungsi seksual wanita. Ilustrasi. Rasa nyeri pada organ intim kewanitaan saat bercinta disebabkan oleh beberapa faktor. (Istockphoto/ Nd3000)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sama seperti olahraga lari yang membuat kaki pegal, bercinta juga bisa menimbulkan efek-efek tertentu yang dirasakan tubuh. Salah satunya adalah sensasi terbakar pada organ intim kewanitaan yang dirasakan setelah bercinta.

The American College of Gynecologist and Obstetricians mencatat, 3 dari 4 perempuan mengeluhkan rasa sakit saat bercinta. Keluhan itu umumnya muncul seperti nyeri sensasi terbakar.

Bukan tanpa alasan rasa nyeri itu muncul. Berikut beberapa hal yang bisa jadi penyebabnya, mengutip Cosmopolitan.


1. Pemakaian sex toys

Mainan seks alias sex toys bisa menambah sensasi kala bercinta. Namun, di balik kenikmatannya, mainan seks juga bisa berkontribusi pada munculnya sensasi terbakar di vagina. Bahan yang digunakan dan kebersihan mainan seks bisa jadi penyebabnya.

"Sex toys dibuat dari bahan berbeda, jadi pastikan Anda membaca detail produk sebelum membeli. Pilihan yang terbaik pilih mainan yang tidak mengandung lateks, bahan kimia berbahaya seperti phthalates dan tidak berpori," kata ahli ginekologi, Jodie Horton.

Selain itu, sensasi terbakar juga bisa timbul saat mainan seks tak dibersihkan dengan baik. Horton menekankan untuk selalu membersihkan mainan seks dengan sabun tanpa pewangi dan air hangat setelah dipakai demi menghilangkan bakteri penyebab infeksi.

2. Detergen

Jangan melulu salahkan momen bercinta. Rasa nyeri pada organ intim kewanitaan juga bisa diakibatkan oleh detergen yang digunakan. Beberapa bahan dan kandungan dalam detergen bisa menimbulkan sensasi terbakar pada vagina.

"Jika vagina terasa seperti terbakar, segera ganti detergen dan oleskan bahan-bahan yang menenangkan kulit seperti gel lidah buaya atau shea butter," ujar ahli ginekologi lain, Felice Gersh.

Jika iritasi tak kunjung menghilang dalam tiga hari, segera konsultasikan dengan dokter.

3. Infeksi

Baik infeksi jamur maupun bacterial vaginosis (BV) bisa mengakibatkan sensasi terbakar pada vagina ketika ada penetrasi. Infeksi umumnya dibarengi dengan keputihan.

Infeksi saluran kencing juga turut berkontribusi pada sensasi terbakar usai bercinta. Infeksi ini membuat saluran kencing dan kemih meradang sehingga tekanan pada area tersebut bakal menimbulkan rasa tidak nyaman.

ilustrasi penyakit seksualIlustrasi. Infeksi saluran kencing berkontribusi pada timbulnya rasa nyeri dan sensasi terbakar pada organ intim kewanitaan setelah bercinta. (Istockphoto/ PeopleImages)

4. Stres

Jangan salah, stres bisa memengaruhi hormon sekaligus proses lubrikasi alami pada vagina.

Saat Anda merasa cemas, maka akan timbul kekeringan yang bisa mengakibatkan kulit pada area organ intim kewanitaan seperti terbakar dan tidak nyaman. Untuk mengatasinya, gunakan lubrikan dan tambah durasi foreplay.

5. Luka pasca-trauma

Trauma atau luka yang pernah ada bisa menimbulkan sensasi terbakar usai bercinta. Jen Gunter dalam bukunya The Vagina Bible menjelaskan, persalinan normal bisa mengakibatkan luka di antara bukaan vagina. Akibatnya, timbul rasa sakit pada organ intim kewanitaan. Pada beberapa kasus, prosedur operasi diperlukan untuk memulihkannya.

Rasa nyeri umumnya muncul karena jaringan luka yang cukup rapuh sehingga penetrasi bisa membuatnya rusak. Rasa sakit terkadang dibarengi dengan sensasi terbakar.

6. Sabun kewanitaan

Anda disarankan untuk meninggalkan penggunaan produk sabun kewanitaan. Ahli ginekologi Alyssa Dweck mengatakan, produk sabun kewanitaan menjadi penyebab umum sensasi terbakar pada organ intim setelah berhubungan seks.

Jika ingin membersihkan area genitalia, Dweck menyarankan Anda untuk cukup membersihkannya pada area vulva dan gunakan sabun lembut tanpa pewarna atau pewangi.

7. Cukur rambut kemaluan

Cukur rambut kemaluan atau bulu pubis jadi hal lumrah. Meski pencukuran dilakukan di bulu bagian vulva, rasa terbakar masih bisa timbul. Pencukuran kadang menimbulkan iritasi akibat penggunaan pisau cukur.

Untuk menghindari iritasi, cukur searah pertumbuhan bulu. Pastikan pisau cukur selalu bersih dan tidak tertutup kotoran atau krim cukur. Setelah bercukur, gunakan pelembap yang mengandung petroleum.

8. Lubrikan atau kondom

Lubrikan atau kondom tertentu bisa mengakibatkan rasa terbakar usai bercinta. Namun, bukan berarti Anda tak disarankan menggunakan kondom atau lubrikan.

Spesialis kandungan, Leah Millheiser merekomendasikan lubrikan tanpa kandungan gliserin untuk pemilik kulit sensitif. Pilih juga kondom berbahan dasar non-lateks. Pasalnya, sering kali alergi tetap muncul sekali pun pada orang tanpa alergi lateks.

Selain itu, hindari pula kondom dengan tambahan aroma, rasa, atau spermisida yang biasanya mengandung bahan kimia nonoxynol-9. Bahan ini bisa mengakibatkan abrasi pada dinding vagina dan menimbulkan sensasi terbakar.

9. Perubahan hormon

Perubahan hormon bertanggung jawab pada kekeringan vagina. Hal ini umum terjadi pada perempuan yang telah memasuki masa menopause. Sementara pada usia muda, kekeringan disebabkan oleh penggunaan pil penunda kehamilan.

Millheiser mengatakan, kasus sensasi terbakar pada organ intim kewanitaan kebanyakan disebabkan oleh provoked vestibulodynia (PVD) yang dialami pasien. PVD terjadi akibat penggunaan pil penunda kehamilan dengan kandungan hormon yang rendah. PVD berkontribusi pada rasa sakit saat bercinta dan kemerahan pada vagina.

"Vagina Anda bertingkah seperti perempuan menopause karena Anda hanya mendapatkan sedikit hormon," katanya.

Ilustrasi Bercinta, Ilustrasi Bersetubuh, Ilustrasi Hubungan Suami Istri, Ilustrasi Hubungan Seks, Ilustrasi Hubungan Sex, Ilustrasi Berhubungan Seks, Ilustrasi Berhubungan Sex, Ilustrasi Hubungan Badan, Ilustrasi Berhubungan BadanIlustrasi. Hubungan seks yang terlalu keras disebut dapat menimbulkan iritasi dan rasa nyeri pada vagina. (Istockphoto/Milkos)

10. Gaya seks

Di luar penggunaan kondom, lubrikan, atau konsumsi pil, sensasi terbakar bisa timbul karena gaya seks yang terlalu 'keras'. Dweck berkata, iritasi timbul karena seks yang terlalu kuat dan keras.

Seks yang terlalu keras bisa mengakibatkan luka atau sayatan pada dinding vagina. Luka ini sangat kecil dan tidak berdarah, tapi bisa menimbulkan sensasi terbakar saat bercinta atau saat buang air kecil. Kondisi ini umumnya bisa hilang dengan sendirinya.

Sebaiknya hindari seks selama 1-2 minggu setelah masa penyembuhan. Upaya ini juga bisa ditambah dengan berendam dalam air hangat.

(els/asr)

[Gambas:Video CNN]