Langkah Pencegahan Agar Virus Flu Babi G4 Tak Jadi Pandemi

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 10:27 WIB
ilustrasi bayi babi Ilustrasi: Para ahli dan peneliti studi terbaru mutasi H1N1 memperingatkan, virus flu babi G4 harus segera dikendalikan untuk menghindari terjadinya pandemi lain. (Foto: Istockphoto/ Tirc83)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah virus baru yakni virus flu babi G4 secara diam-diam telah menyebar ke para pekerja di peternakan babi di China. Para ahli mewanti agar segera bergegas melakukan pelacakan penularan dan pengawasan ketat terhadap populasi babi di China demi mencegah virus ini menjadi pandemi.

Virus flu babi G4 atau genotip 4 merupakan mutasi dari virus flu babi H1N1 genotip 1.

Strain virus H1N1 sempat menyebabkan pandemi pada 2009 silam. Virus ini mudah menular dan menyebar ke seluruh dunia, saat itu mengakibatkan sekitar 285.000 orang meninggal.


Sementara strain baru yang dikenal dengan virus flu babi G4 telah umum ada di peternakan babi China sejak 2016. Sebuah studi yang dipublikasikan secara online di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkapkan, sejak tahun itu virus bereplikasi secara efisien pada manusia melalui saluran udara.

Hingga kini virus flu babi G4 telah menginfeksi beberapa orang tanpa mengakibatkan penyakit. Tetapi para ahli kesehatan khawatir kondisi ini tak lama lagi berubah menjadi sebuah peringatan akan ancaman pandemi.

Itu sebab, para ahli dalam penelitian tersebut mengingatkan untuk segera melakukan pengawasan ketat.

"Bahwa pengendalian penyebaran babi dan monitor populasi manusia dengan cermat harus segera dilaksanakan," tulis para peneliti.

Penelitian didasarkan pada data pengawasan babi di 10 provinsi di China sejak 2011 hingga 2018. Dalam tiga tahun terakhir penelitian, para peneliti mengumpulkan 338 sampel darah pekerja dari 15 peternakan babi dan 230 orang merupakan mereka yang tinggal di dekat area.

Studi menemukan 10,4 persen sampel pekerja dinyatakan terinfeksi dan demikian pula terhadap 4,4 persen sampel populasi umum.

Kepala Departemen Virologi di Britain's Animal and Plant Health Agency yang juga salah satu ilmuwan peninjau kertas studi, Ian H. Brown mengatakan bahwa memprediksi risiko virus itu bukan seperti ilmu pasti. Tapi ia mengingatkan untuk cermat memperhatikan setiap perkembangan virus.

"Mungkin akan ada perubahan lebih lanjut pada virus tersebut yang bisa jadi lebih agresif terhadap manusia--seperti yang terjadi pada SARS-CoV-2," kata dokter Brown mengingatkan.

[Gambas:Video CNN]

Sementara Li-Min Huang, Direktur Divisi Penyakit Menular Pediatrik di National Taiwan University Hospital mengatakan langkah penting berikutnya adalah mencari tahu sumber penularan pekerja peternakan yang terinfeksi. Misalnya, apakah pekerja terinfeksi di peternakan babi dan tertular dari manusia lain.

Selain itu juga kemungkinan atau potensi penyebaran virus ke masing-masing keluarga mereka.

"Ini studi yang sangat penting. Dan virusnya terlihat cukup berbahaya. Kita perlu khawatir tentang penyakit apapun yang berpotensi menular dari manusia ke manusia," jelas dokter Huang dikutip dari New York Times.

Serupa telah diungkapkan para peneliti dalam tulisan. Peneliti mengingatkan pentingnya memperkuat pengawasan terhadap populasi babi di Cina.

"Sangat mengkhawatirkan bahwa infeksi virus G4 pada manusia akan membuat virus beradaptasi lebih jauh terhadap manusia dan meningkatkan risiko pandemi," tulis para peneliti seperti dikutip Hindustan Times.

Studi mengenai virus flu babi G4 tersebut merupakan kolaborasi antara lembaga-lembaga pemerintah di China termasuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ilmuwan dari berbagai universitas di China dan University of Nottingham di Inggris.

(NMA)

[Gambas:Video CNN]