Turis Berharap Suku Baduy Tetap Buka Pintu Wisata Edukasi

CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 12:39 WIB
Warga Baduy luar melakukan aktivitas di Desa Kanekes, Lebak, Banten, Selasa (7/7/2020). Lembaga Adat Baduy mengirim surat permohonan kepada Presiden Joko Widodo untuk menutup atau menghapus wilayah Baduy, Lebak, Banten dari lokasi tujuan wisata karena merasa terganggu kedatangan wisatawan yang mencemari lingkungan sekitar. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr/hp. Warga Baduy Luar di Desa Kanekes, Lebak, Banten. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Galang tak pernah menyangka kalau kunjungannya ke pemukiman Suku Baduy di Desa Kanekes, Banten, pada tahun 2002 dalam rangka study tour SMA bisa menorehkan salah satu pengalaman hidup yang berharga: hidup sederhana berarti turut serta menjaga keseimbangan alam.

Satu hal yang dirasakan Galang saat datang pertama ke sana ialah suasana desa yang sangat asri dan keramahan warga Suku Baduy.

Turis juga masih sedikit dan semuanya datang dengan maksud wisata edukasi, entah itu pelajar sekolah atau peneliti.


Kesakralan Desa Kanekes semakin terasa saat ia dan kawan-kawannya diajak berbincang di Alun-alun Ciboleger pada malam hari bersama para tetua Baduy Dalam.

Ketika itu Galang dan turis lainnya hanya diizinkan masuk dan bersosialisasi di pemukiman Baduy Luar, sehingga saat bisa bertemu dengan warga Baduy Dalam, dirinya amat senang.

"Dari kunjungan itu, saya jadi memahami dan kemudian ikut menghargai konsep hidup yang dijunjung Suku Baduy, bahwa mereka secara sederhana ingin menyatu dengan alam," kata Galang (32) saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com di Jakarta pada Rabu (9/7).

Waktu bergulir, kini Galang sudah menjadi pekerja kantoran dan pada bulan Maret 2020 - sebelum pemerintah Indonesia menerapkan pembatasan perjalanan, ia memutuskan datang kembali ke Desa Kanekes, kali ini bersama dua temannya, Iksan dan Ika.

Saat kembali menginjakkan kaki di sana, Galang merasa kehilangan suasana asri Desa Kanekes.

Saat itu turis terlihat ramai. Pemandu wisata terlihat sibuk mengatur mereka ke sana ke mari. Alun-alun Ciboleger juga penuh oleh mobil yang diparkir.

Yang paling membuat Galang sedih kala dirinya melihat banyak tumpukan sampah, sisa bungkus camilan dan air mineral. Tumpukan sampah paling banyak ditemui saat melangkah di pemukiman Baduy Luar.

Galang, Iksan, dan Eka telah membaca berita mengenai warga Suku Baduy yang menyurati Presiden Joko Widodo agar tak lagi menjadikan desanya sebagai destinasi wisata.

Mereka bertiga sepakat dengan hal tersebut, lantaran ikut jengah melihat keruwetan yang terjadi akibat segala macam turis bisa berkunjung di sana, namun ia tetap berharap Desa Kanekes dan Suku Baduy tetap menerima turis yang benar-benar datang untuk wisata edukasi dan alam.

"Saya sepakat wisata di Desa Kanekes dibatasi secara ketat. Sebaiknya pemandu wisata yang bukan dari warga desa dilarang beroperasi, karena urusan pendatang sepenuhnya harus dipegang tetua Suku Baduy," ujar Galang.

Sejumlah wisatawan berkeliling di Desa Kanekes, Lebak, Banten, Selasa (7/7/2020). Lembaga Adat Baduy mengirim surat permohonan kepada Presiden Joko Widodo untuk menutup atau menghapus wilayah Baduy, Lebak, Banten dari lokasi tujuan wisata karena merasa terganggu kedatangan wisatawan yang mencemari lingkungan sekitar. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr/hp.Sejumlah wisatawan berkeliling di Desa Kanekes, Lebak, Banten, Selasa (7/7). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS)

Iksan (31) juga berpendapat sama soal potensi wisata alam yang bisa dikembangkan di Desa Kanekes dan bermanfaat bagi banyak orang.

Apalagi jaraknya dengan Jakarta juga tak terlalu jauh, sehingga turis yang sudah muak dikelilingi hutan beton sebenarnya bisa melarikan sejenak ke sana untuk rileksasi.

Saat datang pada Maret kemarin, ia tak pernah lupa pengalamannya saat menikmati kehidupan menyatu dengan alam di pemukiman Baduy Luar.

Menyantap durian langsung dari pohon, makan nasi organik hasil sawah, mencicipi madu ternakan, menyusuri jembatan bambu di atas sungai, melihat para perempuan menenun, sampai menginap di rumah sederhana tanpa aliran listrik.

Telepon genggam yang biasa dibukanya lima menit sekali berhasil dilupakan seharian saat itu.

"Pemukiman Suku Baduy dekat dengan Jakarta, jadi potensial untuk jadi destinasi wisata alam bagi turis yang ingin rileksasi tapi tak terlalu jauh meninggalkan kota," ujar Iksan.

"Soal sampah memang ada, tapi secara umum ga sebanyak di gunung, jadi menurut saya masih bisa diperbaiki pengolahannya," lanjutnya.

Meski demikian Ika (33) mengingatkan, bahwa keinginan banyak turis agar Suku Baduy tetap membuka pintu desanya untuk wisata edukasi dan wisata alam harus tetap mengacu pada keputusan para tetua di sana.

Pasalnya, ada adat yang harus dijunjung, sehingga untuk urusan ini turis dan pelaku usaha wisata harus menghormatinya.

"Ibaratnya seperti bertamu ke rumah orang saja, yang punya rumah mau atau tidak didatangi," ujar Ika.

"Kalau memang warga Suku Baduy sudah terusik, kita sebagai turis tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin kita yang harus berubah, bukan memaksakan perubahan tersebut kepada mereka," pungkasnya.

(ard/ard)

[Gambas:Video CNN]