Corona di Udara, Saatnya Evaluasi Sirkulasi Udara Gedung

CNN Indonesia | Minggu, 12/07/2020 05:27 WIB
Dinas Penanggulangan, Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta melakukan giat penyemprotan cairan disinfektan di area Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2020). CNN Indonesia/Safir Makki Dinas Penanggulangan, Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta melakukan giat penyemprotan cairan disinfektan di area Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2020). (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui pernyataan resmi telah mengakui penyebaran virus corona (Covid-19) kemungkinan terjadi melalui udara atau transmisi airborne. Virus bisa bertahan lama di ruangan tertutup dan bisa menyebar antarmanusia.

Sebelumnya penularan virus corona hanya dikenal lewat droplet atau tetesan cairan orang yang positif Covid-19.

Pandu Riono, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, mengatakan, pengumuman ini jadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan penggunaan masker dan evaluasi sirkulasi udara di ruangan tertutup mulai dari gedung hingga tempat tinggal.


"Ini sebenarnya mengesahkan tekad kita untuk harus selalu menggunakan masker baik di luar maupun di dalam gedung. Jangan masuk ke gedung yang ventilasinya buruk," kata Pandu dalam diskusi Polemik Trijaya, Sabtu (11/7).

Mendengar kenyataan ini, orang mesti berpikir dua kali jika berada di dalam ruangan tertutup seperti di gedung perkantoran, gym, restoran, gedung bioskop, juga tempat tinggal pribadi yang biasa dijadikan lokasi isolasi mandiri.

Menurut Pandu, risiko penularan di ruangan tertutup bisa lebih tinggi dibanding ruangan terbuka saat ada salah satu peserta atau penghuni gedung positif Covid-19. Itu membuat maka penghuni lain berisiko terpapar.

Dia melanjutkan isolasi mandiri dalam keluarga pun bisa berisiko. Ada beberapa kasus positif timbul akibat ada anggota keluarga yang terpapar virus.

Menurut dia, perlu ada evaluasi isolasi mandiri di rumah dan perlu ada pertimbangan untuk dipindah ke lokasi atau ruang berbeda dengan anggota keluarga lain.

Meski menggunakan AC, sebaiknya tetap ada waktu di mana udara segar dari luar dibiarkan masuk dan penggunaan filter AC yang cukup mumpuni.

Sementara itu, untuk ruangan tertutup termasuk gedung-gedung perlu ada evaluasi terkait sirkulasi udara.

"Apalagi gedung yang AC-nya cuma membobol dinding seperti AC zaman dulu," imbuhnya.

Amin Subandrio, Kepala Lembaga Biomolekuler Eijkman, menambahkan, acap kali penggunaan AC hanya memutar udara yang sama dalam ruangan demi efisiensi. Akibatnya, konsentrasi virus di satu ruangan makin tinggi.

Menurutnya sebaiknya ada ventilasi sehingga ada pertukaran udara dalam ruangan dan udara segar luar ruangan.

Fasilitas kesehatan termasuk ruangan tertutup yang tinggi risiko penularan. Namun dari manajemen tata ruang sudah diatur ada pertukaran udara yang diatur dalam Permenkes.

Selain itu tenaga kesehatan mengenakan masker yang sesuai dengan kondisi seperti ini yakni masker N95 dan pasien mengenakan masker bedah.

Baik Pandu dan Amin sepakat mekanisme pertukaran udara perlu diperhatikan lagi. Perlu ada ventilasi udara yang baik sehingga ada sirkulasi.

"Kalau mau inovasi keluar ruangan tiap beberapa jam juga boleh. Mau mengurangi risiko gimana? Ya menerapkan memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak," katanya.

(els/fea)

[Gambas:Video CNN]