Asap Kebakaran Hutan Disebut Dapat Tingkatkan Risiko Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 29/07/2020 19:29 WIB
Para ahli menyarankan pencegahan dini kebakaran hutan dan lahan sebelum terjadi krisis ganda, akibat asap dan pandemi Covid-19. Ilustrasi: Para ahli menyarankan pencegahan dini kebakaran hutan dan lahan sebelum terjadi krisis ganda, akibat asap dan pandemi Covid-19. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Asap kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko terinfeksi Covid-19. Karena itu para ahli menyarankan untuk melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di Indonesia guna menghalau krisis ganda karena asap dan pandemi virus corona.

Asap kebakaran hutan dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun sehingga rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.

"Pengaruh asap kebakaran terhadap imunitas tubuh bisa terjadi penurunan sistem pertahanan saluran napas karena lapisan pelindung di saluran napas akan rusak terkena asap sehingga memudahkan terjadinya infeksi," kata dokter spesialis paru Erlang Samoedro kepada CNNIndonesia.com, Selasa (28/7).



Selain itu, Erlang menjelaskan sejumlah penyakit bisa muncul karena paparan dan menghirup asap, seperti penyakit pneumonia, jantung, diabetes, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga kanker.

Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan paparan asap tersebut juga bisa menjadi komorbid atau penyakit penyerta yang memberatkan Covid-19. Selain itu risiko terinfeksi Covid-19 juga semakin meningkat, karena faktor imun berperan penting pada Covid-19.

"Orang yang tidak terpapar asap akan berkurang risiko terkena penyakit tersebut dibandingkan yang terpapar," ucap Erlang.

Sementara dalam kesempatan berbeda, Penasihat Kesehatan Masyarakat Alam Sehat Lestari dokter gigi Monica R Nirmala menjelaskan, risiko yang bakal dihadapi masyarakat saat terpapar asap karhutla dan Covid-19 sekaligus bakal kian fatal.

"Artinya kalau masyarakat terpapar COVID-19 dan karhutla di saat yang bersamaan maka dampaknya bisa lebih parah terhadap kesehatan karena serangannya ganda," kata Monica dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com.

Monica mendesak pemerintah untuk dapat mencegah karhutla agar dampak kesehatan masyarakat bisa dikurangi.

"Yang harus kita lakukan adalah mencegah karhutla berapapun harganya," ujar Monica.

Menurut Monica, karhutla dapat membuat orang semakin sulit mengakses layanan kesehatan. Kebutuhan alat pelindung diri seperti masker medis untuk menyaring udara juga akan meningkat.

Selain disibukkan dengan penanganan kasus Covid-19, karhutla juga menjadi bencana yang kerap mampir di beberapa wilayah Indonesia. Apalagi, ketika memasuki musim kemarau.

Pada April 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mencatat tiga provinsi yang patut diwaspadai antara lain Riau, Sumatra Selatan dan Jambi. Menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah-wilayah tersebut memasuki kemarau sepanjang dua bulan ini.

Selain diintai ancaman asap kebakaran hutan, Indonesia juga perlu mawas dengan dampak polusi udara.

Infografis Jenis dan 'Biang Kerok' Polusi UdaraFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Jenis dan 'Biang Kerok' Polusi Udara

Indonesia sendiri kini berada di posisi ke-9 negara terpolusi di dunia. Laporan terbaru dari Air Quality Life Index (AQLI) menemukan, polusi udara berpotensi memperpendek harapan hidup rata-rata orang Indonesia selama dua tahun.

Peneliti Perubahan Iklim dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto dalam kesempatan berbeda sempat menyinggung dampak polusi tinggi terhadap kondisi kesehatan seseorang. Melalui diskusi daring pada April lalu ia menjelaskan, polusi yang tinggi mengakibatkan pelbagai gangguan pernapasan yang berpotensi jadi penyakit komorbid.

Alhasil, komorbid atau penyakit penyerta itu bisa menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun. Sehingga, ketika terinfeksi virus corona pun akan mengalami kondisi yang kian buruk.

Mengutip hasil studi Harvard, Budi mengatakan, kematian pasien Covid-19 di wilayah dengan polusi udara yang tinggi pun tercatat lebih besar dibanding pasien di wilayah dengan polusi udara rendah.

"Kematian akibat covid-19 ini lebih banyak ditemukan di wilayah yang polusi PM (Particulate Matter) 2,5-nya tinggi dibandingkan dengan yang polusinya rendah. Studi dari Harvard dengan sampel yang cukup besar jadi valid sekali," tutur Budi.

Studi tersebut menganalisis tingkat materi partikel halus di setiap wilayah di Amerika Serikat mulai tahun 2000 hingga 2016. Peneliti membandingkan peta polusi udara di AS dengan jumlah kematian Covid-19 hingga 4 April 2020.

Hasilnya, peningkatan 1 gram per meter kubik dalam partikel halus di udara dikaitkan dengan peningkatan 15 persen tingkat kematian (akibat) Covid-19. Resiko kematian di wilayah polusi tinggi bahkan mencapai 4,5 kali lebih banyak dibandingkan dengan wilayah polusi udara rendah.

(ptj/NMA)

[Gambas:Video CNN]