Terapi Plasma Darah, Obat Alternatif Corona Masuk Tahap Akhir

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 05:01 WIB
ilustrasi plasma darah Ilustrasi terapi plasma darah Covid-19. (istockphoto/choja)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Kepala LBM Eijkman David Handojo Muljono menyatakan terapi plasma konvalesen atau plasma darah untuk mengobati pasien virus corona Covid-19 sudah memasuki fase akhir. Dia menyebut terapi itu sedang uji klinis di RSPAD Gatot Soebroto.

"Saya umumkan yang di Indonesia sudah memasuki fase akhir dilakukan di RSPAD. Dan di Universitas Indonesia saya kira juga sudah mulai dan beberapa tempat yang lain," ujar David dalam diskusi virtual AIPKI, Jumat (29/6).

Sejauh ini, David menuturkan hasil pengobatan Covid-19 dengan terapi plasma konvalesen relatif aman. Akan tetapi, dia menyampaikan pengobatan itu baru dilakukan dalam skala kecil, sporadik, dan tidak ada protokol pengobatannya.


Selain itu, dia menyampaikan terapi itu belum memiliki indikasi, target pasien, derajat penyakit, dosis, dan saat atau jadwal pemberiannya.

"Karena itulah FDA, WHO, perhimpunan penyakit Amerika Serikat, dan International Society of Blood Transfusion memperbolehkan, tetapi di dalam uji klinik," ujarnya.

Di sisi lain, David menjelaskan plasma mengandung albumin, beragam protein, antibodi, antiinflamasi, hingga cytogen. Setelah diteliti, dia menyebut plasma darat mengandung Neutralizing antibodies dan Immunomodulator.

"Jadi (Immunomodulator) mengembalikan ke jalan yang benar. Tadinya disregulasi maka dengan beberapa materi yang ada di plasma ini seperti Pro-inflammatory cytokines bisa dinetralisir, Complement dan lain-lain. Ini yang terjadi keuntungan dari pada plasma yang sedang akan kita uji coba," ujar David.

Berdasarkan riset yang dipublikasikan di JAMA, dia mengatakan terapi  plasma konvalesen tidak memberikan hasil yang signifikan pada pasien dalam kondisi parah. Sedangkan penelitian dalam Journal Watch NEJM, dia menyatakan terapi itu dianjurkan untuk pasien yang belum parah.

"Inilah target kita not too early, not too late. Jadi kami akan memilih timingnya sebelum dia memasuki fase yang lebih parah, di mana sudah terjadi tanda-tanda mengarah kegawatan," ujarnya.

David menambahkan uji klinik terhadap terapi plasma konvalesen harus dilakukan untuk mengetahui secara pasti apakah mengandung antibodi spesifik atau tidak dan jumlah titernya.

"Kalau ada non spesifik dan titer rendah ada non neutralizing antibodi justru akan mencelakakan pasiennya," ujar David.

Lebih dari itu, dia menyebut non neutralizing bisa merangsang cytogen dan beberap hal lain yang membahayakan.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]