'Sore di Tugu Pancoran' dan Mimpi Terakhir Bung Karno

CNN Indonesia | Kamis, 03/09/2020 18:06 WIB
Besar di dunia dirgantara adalah salah satu mimpi Presiden Soekarno bagi Indonesia yang digambarkan dalam Tugu Pancoran. Monumen Dirgantara atau ang populer disebut Patung Pancoran atau Tugu Pancoran. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hari ini musisi kesayangan Indonesia, Iwan Fals, berulang tahun yang ke-59. Sepanjang hayatnya, karya-karya pria bernama asli Virgiawan Listanto ini telah menggugah hati banyak orang dari beragam kalangan.

'Bento' ialah karyanya yang bisa dibilang fenomenal, kadang dinyanyikan dalam suasana santai di bar, kadang digemakan sebagai lagu perjuangan saat demo.

Memaknai lagu-lagu Iwan Fals bukan sekadar hitam dan putih. Namun jika rajin membaca tiap bait syair lagunya, ayah dari almarhum musisi muda Galang Rambu Anarki ini seperti punya kenangan tersendiri tentang suatu tempat pada masanya.


"Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran"

Membaca lirik lagu bertajuk 'Sore di Tugu Pancoran' seakan mengajak romantisme ke arah simpang jalanan di Tugu Pancoran yang semakin ruwet dan macet.

Walau di sampingnya telah dibangun banyak gedung perkantoran dan apartemen seharga miliaran rupiah, namun rakyat kecil yang mencari makan lewat berjualan koran, seperti Si Budi Kecil, masih ada.

Tugu Pancoran sejatinya ialah Monumen Patung Dirgantara atau yang populer disebut Patung Pancoran.

Lokasinya di seberang Wisma Aldiron Dirgantara, yang dulunya merupakan Markas Besar TNI Angkatan Udara.

Patung berupa pemuda yang sedang menunjuk ke depan ini bisa dilihat oleh orang-orang yang baru datang ke Jakarta setelah mendarat dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Pematung Edhi Sunarso yang sekaligus sahabat Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno, diberi keistimewaan untuk merancang patung ini pada tahun 1964-1965, dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta.

Bung Karno memberi mandat kepada Edhi Sunarso untuk merancang patung dengan tema keperkasaan, karena saat itu Indonesia sedang mengembangkan sektor dirgantaranya.

Kartika Desma, salah satu pemandu Jakarta Good Guide, mengatakan kalau Bung Karno ingin pemuda dan pemudi Indonesia bisa seperkasa Yuri Gargarin, astronout Rusia, dalam hal kedirgantaraan.

"Bung Karno sampai menjual salah satu mobil pribadinya untuk membantu Edhi Sunarso memasang Tugu Pancoran di Jakarta," kata Kartika dalam tur virtual yang diselenggarakan oleh Jakarta Good Guide pada Mei kemarin.

Foto udara lalu lintas kendaraan di tol dalam kota kawasan Pancoran, Jakarta, MInggu (12/4/2020). Dalam rangka percepatan penanganan COVID-19, Pemprov DKI Jakarta  memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama 14 hari dimulai pada 10 April hingga 23 April 2020. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.Lambang keperkasaan Indonesia di bidang dirgantara yang menyambut pendatang ke Jakarta. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)

Setinggi 11 meter, patung berbahan perunggu ini diletakkan di atas menara setinggi 27 meter. Berat totalnya 11 ton.

Proses pengecorannya dilakukan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono dan pemasangannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan Ir. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Setiap bagian patung dikerek manual dengan tangan pekerja dan tali hingga terpasang sempurna di udara.

Pembangunan patung yang menjadi salah satu ikon kota Jakarta selain Monumen Nasional (Monas) ini sempat terkendala peristiwa Gerakan 30 September PKI pada tahun 1965.

Sebelum peristiwa G30SPKI meletus, Bung Karno kerap mengecek langsung proses pembangunan Tugu Pancoran. Kehadirannya tentu merepotkan tim keamanan Istana Negara dan membuat macet lalulintas di sekitarnya.

Tugu Pancoran resmi berdiri pada tahun 1970. Itu adalah monumen terakhir yang dibangun atas permintaan Bung Karno sebelum meninggal dunia. Sayangnya, beliau tak sempat melihat patung tersebut berdiri sempurna.

"Tanggal 21 Juni 1970, saat Edhi Sunarso berada di area proyek, ia tak sengaja melihat iring-iringan mobil jenazah yang ternyata berisi jasad Bung Karno. Mungkin itu terakhir kalinya Bung Karno menatap Tugu Pancoran," ujar Kartika.

Jika sedang membuka Google Images, tampak foto-foto jadul Tugu Pancoran, di mana monumen tersebut berdiri gagah di tengah kosongnya kota Jakarta.

Jangankan penjaja kaki lima seperti Si Budi Kecil, gedung perkantoran dan hotel saja tidak ada. Sungguh pemandangan yang sarat nostalgia.

"Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal"

(ard)

[Gambas:Video CNN]