Tak Punya Banyak Teman Tingkatkan Risiko Gangguan Jantung

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 12:19 WIB
Sebuah penelitian observasional menemukan, remaja yang tidak memiliki banyak teman berisiko mengalami gangguan jantung di masa dewasa. Ilustrasi. Sebuah penelitian observasional menemukan, remaja yang tidak memiliki banyak teman berisiko mengalami gangguan jantung di masa dewasa. (Antranias/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak orang beranggapan bahwa popularitas di masa remaja akan berkaitan dengan kesehatan fisik dan psikis di masa dewasa. Sebuah penelitian baru menemukan, remaja yang tidak populer berisiko mengalami gangguan jantung dan penyakit kardiovaskular lainnya di kemudian hari.

Dalam hal ini, para peneliti mendefinisikan 'populer' sebagai seseorang yang dikelilingi, disukai, dan dihormati oleh teman sebaya.

Studi yang dilakukan di Swedia ini menggunakan data dari Stockholm Birt Cohort Multigenerational Study. Data mencakup semua orang yang lahir pada 1953 dan tinggal di Stockholm pada 1963.


Melansir CNN, kesehatan sebanyak 5.410 pria dan 5.990 wanita dilacak hingga usia 60-an. Mereka ditanya soal keberadaan teman saat masih menginjak usia 13 tahun.

Ada empat kategori yang ditentukan peneliti. Skor satu (rendah) menggambarkan remaja yang terpinggirkan, skor dua dan tiga (menengah) menggambarkan remaja dengan teman yang tak terlalu banyak, dan skor empat (tinggi) merujuk pada remaja yang memiliki banyak teman.

Hasilnya, 30 persen pria dan 28,5 persen wanita menikmati status pertemanan dalam skor empat (tinggi) pada usia 13 tahun. Sekitar 16 persen wanita dan 12 persen pria digolongkan sebagai kelompok yang terpinggirkan saat remaja.

Studi yang dipublikasikan dalam BMJ Open ini menemukan, penyakit kardiovaskular lebih umum terjadi pada pria daripada wanita. Namun, mereka yang sebelumnya tergolong dalam kelompok 'terpinggirkan' pada usia 13 tahun memiliki risiko 33-34 persen untuk mengalami penyakit kardiovaskular.

Namun, sebagai studi observasi, penelitian ini hanya menunjukkan hubungan antara keduanya, tapi tidak dapat menjelaskan apa yang mendorong terbentuknya hubungan tersebut.

Psikolog Katherine Ehrlich, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan bahwa hasil studi yang ditemukan cukup masuk akal.

"Masuk akal bahwa pengalaman sosial yang penuh tekanan dapat menyebabkan peradangan terus-menerus yang tidak terselesaikan," kata dia. Jika dibiarkan, peradangan akan meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit kardiovaskular.

Selain itu, lanjut Ehrlich, individu yang terisolasi secara sosial juga cenderung memiliki pola makan yang tidak sehat, kerap mengonsumsi minuman beralkohol, dan menjalani gaya hidup minim bergerak. Kesemuanya diketahui dapat meningkatkan risiko masalah kardiovaskular.

Hal yang lebih ilmiah diungkapkan oleh ahli saraf dari North California University, Mitch Prinstein. "Spesies kita [manusia] sangat unik, posisi sosial sangat penting bagi manusia. Sebagai sesama manusia, kita selalu mengandalkan satu sama lain," kata dia.

Prinstein mengatakan, beberapa penelitian telah menemukan bahwa penolakan sosial mengaktifkan wilayah otak yang diketahui bertugas untuk merespons rasa sakit secara fisik. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi dan peradangan.

"Meski banyak yang tak menyadarinya, keberadaan banyak teman adalah salah satu faktor terkuat dari kondisi psikologis dan kesehatan fisik di kemudian hari," kata Prinstein.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]