Kuliner Medan Jadi Simbol Lepas Rindu Kampung Halaman

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 09:32 WIB
Tak lengkap kalau belum mencoba menu terkenal khas Tionghoa Medan, yakni mi sop dan kwetiau beras yang jadi favorit warga lokal sekaligus wisatawan. Foto: iStockphoto/Hendra Su
Jakarta, CNN Indonesia --

Medan merupakan kota multietnis yang punya banyak keunikan. Di ibu kota Sumatera Utara ini banyak tinggal pendatang yang menjadikan Medan sebagai rumah baru yang membuat mereka mengingat kampung halaman melalui kuliner.

Sebagai perantau, para pendatang yang bermukim di Medan juga melakukan eksperimen kuliner.

Ini guna mengobati kerinduan kampung halamannya melalui proses pembuatan menu masakan baru dengan menggunakan bahan baku, bumbu, hingga bentuk yang menyerupai cita rasa asli tempat asalnya.


Salah satunya etnis Tionghoa yang datang dan menetap di Medan, membawa tradisi kuliner dan menjadikannya cukup terkenal di wilayah Paris van Sumatera itu.

Saat di Medan, tak lengkap rasanya kalau belum mencoba 2 menu khas Tionghoa Medan yang terkenal, yakni mi sop dan kwetiau beras. Hidangan ini jadi kuliner idola warga lokal maupun turis.

Kedai yang menjual kwetiau beras enak adalah Kwetiau Beras Kai Seng yang konon sangat terkenal dari Tebing Tinggi. Lokasinya berada di Jalan Gaharu.

"Sejak tahun 1950-an lah sudah bikin kwetiau. Kami fokusnya menjual kwetiau, kalu bihun dan nasi goreng untuk melengkapi," ujar pemilik kedai Kai Seng, mengutip Grab, Medan, Kamis (17/9).

Yang membedakan kwetiau beras ini dengan kwetiau lainnya adalah warnanya yang lebih putih dan lembut, sedangkan kwetiau pada umumnya lebih bening dan kenyal.

"Kwetiau beras tidak bisa tahan lama, jadi bikin baru tiap hari dan selalu fresh. Tidak ada [simpan] besok-besoknya. Kwetiaunya juga bikin sendiri, ada resep dari nenek moyang," ujarnya.

Lebih spesialnya lagi, menggunakan telur bebek sehingga meningkatkan rasa gurihnya. Resep turun-temurun yang diwariskan hingga akhirnya menyesuaikan bahan baku maupun bumbu sehingga cita rasanya bisa diterima semua kelompok.

Tujuan kuliner selanjutnya yakni Mie Sop Coco. Sekilas tampak seperti mi baso di Jakarta, dengan kuah bening serta taburan daun bawang dan seledri di atasnya. Namun yang membuat beda adalah kuahnya gurih kaldu dan kaya rempah.

"Di Medan rata-rata mi sop menggunakan lemak sapi agar lebih enak dan wangi. Tapi saya menggantinya dengan ayam," ujar pemilik kedai Mi Sop Coco.

Selain rempah yang digunakan menciptakan rasa baru yang kaya aroma, sepiring mi sop lengkap dengan 3 jenis mi yang berbeda seperti bihun, mi kuning, dan kwetiau. Dijamin pengunjung yang datang langsung kenyang.

"Di sini lebih banyak yang pesan dengan GrabFood, apalagi pelanggan datang sering nggak dapat tempat duduk. Jadi orang kantor yang mau makan terpaksa ngantre dan ngabisin waktu. Untuk lebih praktis jadinya pesan lewat GrabFood," ujarnya.

(fef)