Hari Alzheimer Sedunia

Tantangan Penderita Alzheimer dan Caregiver di Tengah Pandemi

Tim, CNN Indonesia | Senin, 21/09/2020 11:40 WIB
Pada situasi normal, penderita alzheimer dan caregiver telah dihadapkan pada pelbagai tantangan penyakit perenggut ingatan ini. Terlebih kini, ditambah pandemi. Ilustrasi: Pada situasi normal, penderita alzheimer dan caregiver telah dihadapkan pada pelbagai tantangan penyakit perenggut ingatan ini. Terlebih kini, ditambah pandemi. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setiap tahunnya, September jadi peringatan sebagai bulan alzheimer sedunia. Momen ini digunakan untuk mengkampanyekan kepedulian masyarakat terhadap para penderita alzheimer. Tapi tahun ini, pandemi Covid-19 menghadirkan tantangan tersendiri bagi penderita alzheimer ataupun caregiver.

Alzheimer merupakan kondisi otak mengerut dan mengecil dengan cepat. Pada dasarnya, otak manusia akan mengerut dan mengecil seiring pertambahan usia. Namun pada mereka yang mengalami alzheimer, kondisi ini terjadi jauh lebih cepat.

Alzheimer pun sedikit demi sedikit mempengaruhi memori karena pusat memori otak atau hippocampus turut terdampak.


Situasi pandemi Covid-19 bukan tak mungkin menyumbang tambahan problem bagi penderita alzheimer, termasuk orang yang merawat pasien atau caregiver. Tak ada yang senang dengan ketidakpastian pandemi, termasuk orang dengan demensia (ODD) khususnya alzheimer.

Kondisi alzheimer saja sudah jadi masalah tersendiri, bagaimana pula jika ditambah wabah.

Ahli Neurologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta, Yuda Turana mengakui pandemi membuat posisi orang dengan demensia terbilang sulit. Serupa bakal dirasakan orang yang merawat pasien atau caregiver.

"Situasi normal saja ada yang susah beradaptasi, sekarang tantangannya new normal. Dipaksa mengenakan masker, lalu kok dibatasi keluar rumah," kata Yuda dalam webinar bersama BCA dan Alzheimer Indonesia (ALZI), beberapa waktu lalu.

Selain perkara usia, mengutip sebuah studi yang diterbitkan jurnal Lancet Yuda memaparkan faktor-faktor risiko alzheimer di antaranya obesitas, kebiasaan merokok, isolasi sosial, kurang aktivitas fisik, polusi udara, pendidikan rendah atau kurang stimulasi pada otak, hearing loss, cedera kepala, gangguan kualitas tidur, rasa kesepian, hipertensi, konsumsi alkohol, juga stres atau depresi.

"Hearing loss karena era digital saat ini tiap orang mendengarkan musik yang keras dan berulang. Depresi, stres yang terjadi berulang bisa tidak baik untuk otak kita. Lancet menyampaikan juga depresi itu faktor risiko mayor," jelas Yuda.

Gejala dan penyebab penyakit Alzheimer dalam infografisFoto: Fajrian
Gejala dan penyebab penyakit Alzheimer dalam infografis

Buat ODD, adaptasi new normal bukan hal mudah. Orang dengan demensia sulit mengeluh, sukar menyampaikan perasaan, apalagi jika ada perubahan kebiasaan--seperti mengenakan masker dan aktivitas keluar rumah dibatasi.

Hanya gejala klinis yang bisa diamati dan diukur misalnya batuk, demam, kesulitan bernapas.

Pasien, lanjutnya, juga memiliki aspek wandering atau semacam pengembaraan. ODD mungkin tidak akan mengingat namanya sendiri, alamat rumah, mengalami disorientasi meski berada di tempat yang sebenarnya familiar.

Hal tersebut berpotensi jadi stressor terutama buat caregiver.

Yuda pun menyarankan caregiver untuk tetap menjalankan rutinitas meski dengan sedikit perubahan. Pemahaman ini akan membuat pandangan terhadap new normal jadi tidak begitu membebani.

Caregiver pun harus terkoneksi secara sosial.

"Berkomunikasi, selalu ikut Whatsapp Group tapi tidak selalu bahas virus," imbuh dia lagi.

Sementara itu untuk orang dengan demensia atau ODD, terlebih ODD lansia dengan penyakit komorbid (penyakit penyerta) memang harus senantiasa diawasi. Pasalnya, kata Yuda, risiko kematian berpotensi akan lebih tinggi jika ditambah Covid-19.

(els/NMA)

[Gambas:Video CNN]