Studi: Hasrat Seks Wanita Tak Menurun Seiring Bertambah Usia

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 23:05 WIB
Studi menemukan, beberapa kelompok wanita dengan karakter tertentu tetap menganggap seks sebagai sesuatu yang penting hingga usia paruh baya. Ilustrasi. Studi menemukan, beberapa kelompok wanita dengan karakter tertentu tetap menganggap seks sebagai sesuatu yang penting hingga usia paruh baya. (iStockphoto/Rattankun Thongbun)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak orang berpendapat bahwa seiring bertambahnya usia, wanita tak lagi tertarik pada hubungan seksual. Namun, studi teranyar mematahkan anggapan tersebut.

"Sekitar wanita perempuan menilai seks sebagai hal yang sangat penting, berapa pun usianya," ujar Holly Thomas, salah satu penulis studi yang dipresentasikan dalam konferensi virtual The North American Menopause Society, Senin (28/9) waktu setempat.

Penelitian diikuti oleh 3.200 wanita selama kurang lebih 15 tahun lamanya. Hasilnya, studi menunjukkan bahwa sejumlah besar wanita masih menganggap seks sebagai salah satu hal yang penting dalam hidup, bahkan saat usia mereka bertambah tua.


"Jika wanita dapat berbicara dengan pasangan dan mendapatkan hubungan seks yang menyenangkan, mereka akan lebih mungkin menilai seks sebagai hal yang sangat penting seiring pertambahan usia," jelas Thomas, melansir CNN.

Penelitian tersebut membagi tiga perasaan yang berbeda pada wanita saat merespons seks. Pertama, sebanyak 28 persen partisipan mengaku tak terlalu bergairah dalam berhubungan seks saat memasuki usia paruh baya. Kedua, sebanyak 27 persen partisipan mengaku bahwa seks tetap sangat penting pada usia 40-60 tahun.

Dalam studi ini, perempuan yang masih senang berhubungan seks di usia paruh baya ditemukan memiliki beberapa karakter umum. Di antaranya berpendidikan tinggi, tidak mengalami stres, dan mendapatkan kepuasan seksual yang baik sebelum usia paruh baya.

"Wanita yang mendapatkan seks berkualitas saat berusia 40 tahun cenderung untuk terus menjadikan seks sebagai salah satu hal penting dalam tubuh seiring bertambahnya usia," jelas Thomas.

Selain itu, Thomas juga menduga ada faktor sosial ekonomi yang berperan dalam hal tersebut. Misalnya, perempuan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan tinggi umumnya menjalani hidup yang relatif lebih stabil dengan lebih sedikit stres. "Karena itu, mereka memiliki lebih banyak ruang untuk memprioritaskan seks, sebab mereka tidak mengkhawatirkan hal-hal lain," kata Thomas.

Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor ras dan etnis turun berperan. Perempuan Afrika-Amerika lebih mengatakan bahwa seks adalah hal yang penting selama usia paruh baya. Sementara perempuan China dan Jepang menganggap sebaliknya.

?ondom packed in air levitation on a pink background. Empty space for text. mock-upIlustrasi kondom.( Istockphoto/ADragan)

Perempuan dari kelompok budaya yang berbeda, lanjut Thomas, memiliki sikap dan pola berpikir yang berbeda. Hal itu berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan seseorang yang akan berubah seiring bertambahnya usia.

Sementara itu, sebanyak 48 persen perempuan ada pada perasaan atau respons ketiga. Mereka menghargai kehidupan seks yang sehat saat memasuki masa menopause. Namun, secara bertahap, mereka kehilangan minat selama usia 50-60 tahun.

Ada sejumlah faktor emosional, fisik, dan psikologis yang mungkin memengaruhi cara pandang perempuan terhadap seks. Para ahli membaginya menjadi empat kategori, sebagai berikut.

1. Kondisi medis

Saat memasuki masa perimenopause pada usia 50-60 tahun, perempuan mulai mengalami perubahan hormonal yang menyebabkan seks jadi kurang memuaskan.

Penurunan kadar estrogen menyebabkan vulva dan jaringan vagina menjadi lebih tipis, kering, mudah pecah, dan memar. Kondisi ini membuat gairah menjadi satu hal yang sulit.

2. Kondisi mental dan emosional

Kondisi psikologis bisa memengaruhi hasrat seksual perempuan. Riwayat pelecehan seksual, depresi, kecemasan, dan stres adalah penyebab utama yang membuat hasrat seksual menurun. Selain dampak emosional, penurunan libido juga diketahui sebagai efek samping dari kebiasaan konsumsi obat antidepresan untuk mengatasi gangguan mental.

3. Kondisi hubungan dengan pasangan

Perempuan paruh baya umumnya menghadapi perubahan dramatis dalam hidup yang dapat mengganggu kehidupan romantis mereka. Hal itu pada akhirnya akan berdampak pada hasrat mereka terhadap seks.

Tak hanya itu, pasang surut hubungan dengan pasangan juga akan memengaruhi perasaan perempuan soal keintiman bersama yang terkasih.

4. Moral sosial

Mau tak mau, kultur yang terbangun pada masyarakat turut memengaruhi perasaan perempuan tentang seks. Nilai agama, budaya, dan keluarga memainkan peran besar dalam hal tersebut.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK