Kegusaran Pasangan Perkara Menahan Gairah Bercinta

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 06/09/2020 14:21 WIB
Pandemi virus corona merombak pelbagai tatanan hidup, mulai dari perekonomian, rutinitas harian, hingga gaya hidup, termasuk kehidupan seks. Ilustrasi: Pandemi virus corona merombak pelbagai tatanan hidup, mulai dari perekonomian, rutinitas harian, hingga gaya hidup, termasuk kehidupan seks. (Foto: istockphoto/relif)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sudah lebih enam bulan Natalie (bukan nama sebenarnya) tak berhubungan seks, gara-gara virus corona. Perempuan usia 34 ini khawatir, kalau nekat, bakal berisiko tertular virus penyebab Covid-19 tersebut.

Padahal, bagi Natalie, seks jadi salah satu jalan pelepas stres di tengah kejumudan. Apalagi di tengah wabah seperti ini, pelbagai tekanan datang beruntun. Mulai dari masalah ekonomi, pekerjaan, hingga kecemasan akan kondisi kesehatan. Natalie, termasuk yang secara rutin perlu aktivitas ini, perlu seks.

"Apalagi buat orang yang sexually active. Seks bikin rileks atau release stress," ungkap Natalie yang hampir lima tahun bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta ini, kepada CNNIndonesia.com.


Sialnya, ia dan pasangan tinggal terpisah negara. Natalie sadar, memaksakan pertemuan hanya akan membuka celah risiko penularan.

Awal tahun ini pasangannya mesti kembali ke Kamboja, sedang ia masih harus di Jakarta. Maret lalu mestinya Natalie menyusul. Tapi rencana tinggal rencana, karena corona. Tak mau ambil risiko, ia mesti menahan, entah sampai kapan.

Natalie tak sendiri, Maria (bukan nama sebenarnya) memilih 'jalan hidup seks' sama.

Diwawancara terpisah, perempuan usia 39 ini terpaksa meredam hasrat bercinta dengan sang kekasih. Praktis sejak diterapkan pembatasan sosial atau pada Maret 2020 sampai sekarang, ia mandek dulu.

"Kami takut untuk berhubungan seks. Mungkin saja gua yang sial, mungkin saja dia OTG [Orang Tanpa Gejala], kan enggak selalu gua tahu dia ngapain dan ketemu siapa saja. Dia masih ke kantor untuk ketemu orang-orang," cerita ibu satu anak yang kini berwirausaha tersebut.

Maria dan pasangannya juga sepakat untuk tak membahas hal ihwal yang mengarah ke soal seks. Ia cemas kalau-kalau hasrat salah satu di antara mereka bakal terpancing tatkala membicarakan masalah itu.

Pernah, suatu kali keduanya kebablasan berciuman. Reaksi setelahnya justru terasa ganjil, tidak seperti biasanya.

"Ciuman pernah, sekali itu, lalu udahannya kami malah kaget dan takut. Habis itu enggak pernah lagi. Enggak nyaman. Nggak nyaman karena mungkin saja bisa saling menulari," Maria mengingat.

Solo Sex alias masturbasi

Kendati begitu, tak berhubungan seks dengan pasangan bukan berarti tidak beraktivitas seksual. Natalie dan Maria punya jalan lain; solo sex atau beraktivitas seksual seorang diri.

"Untuk menyalurkan hasrat seks, gua pakai sex toys. Itu gua beli out of blue, akhir tahun lalu, ternyata ya kepake. Gua enggak phone sex dengan pasangan. Mending enggak usah sama sekali, daripada sama-sama bete liat pasangan dalam kondisi menggairahkan tapi tidak bisa disentuh. Mending mandiri," ungkap Maria.

"Gua pun enggak mengirimkan foto-foto yang mancing-mancing dia kayak biasanya. Karena percuma. Kami enggak bisa sentuhan, itu bikin bete malah," lanjut dia lagi.

Solo sex juga tak luput dari protokol kesehatan. Kedua perempuan itu sama-sama menekankan, mainan seks mereka wajib dibersihkan.

"Rutin aku cuci sebelum dan sesudah dipakai. Dan, enggak dipakai orang lain," kata Natalie.

Beberapa ahli kesehatan dan seksolog menyarankan solo sex seperti masturbasi atau menggunakan bantuan sex toys, atau juga remote sex (seks jarak jauh). Sebab aktivitas seksual ini dinilai memiliki risiko paling rendah penularan di tengah pandemi seperti ini.

Infografis Cara Mencegah Penularan Covid-19 Saat Berhubungan SeksualFoto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Infografis Cara Mencegah Penularan Covid-19 Saat Berhubungan Seksual

Virus corona yang menapak Indonesia sejak awal Maret 2020 memang perlahan merombak pelbagai tatanan hidup. Mulai dari perekonomian, rutinitas harian, hingga gaya hidup, termasuk perkara seks.

Tapi lain cerita dengan Ardi Rahardi. Sekalipun pandemi, urusan seks dengan pasangan masih jadi barang rutin saban pekan.

Tidak ada yang berubah, kata pria usia 34 tahun itu tentang aktivitas seksualnya.

"Enggak khawatir sama sekali pas ngeseks, kalaupun ada, pas awal-awal pandemi doang. Dikit lah [khawatir]. Strateginya [meminimalkan penularan], paling bersih-bersih atau mandi sebelum abis dari luar dan sebelum sesudah berhubungan," kata dia kepada CNNIndonesia.com.

Ardi mengungkapkan, ia dan pasangan hampir selalu berada dalam satu lingkungan. Mereka serumah, bekerja dari rumah, dan selalu bersama. Kondisi ini membuat Ardi dan istrinya yakin bisa meminimalkan penularan.

"Risiko gua sama istri sama aja, ke mana-mana bareng, sama-sama WFH, kalaupun gua atau doi kena, yasudah kena aja berdua enggak papa. Gua sama istri udah sepaket. Satu kena, ya kena dua-dua ya," kata Ardi lagi.

Karena itu ketika seks pun, menurut dia, tak ada pantangan khusus.

Hanya saja selama bekerja dari rumah atau working from home ini, ia harus pandai-pandai mendisiplinkan waktu antara pekerjaan dan waktu untuk pasangan. Manajemen waktu ini kata dia bisa berpengaruh pada tingkat stres juga kualitas hubungan dengan pasangan.

Seks dan 'kenikmatannya' kerap ditampilkan sebatas kegiatan senang-senang atau hal yang serampangan. Tapi sesungguhnya, dikutip dari Forbes, kenikmatan seks bisa dimaknai lebih dari sekadar tindakan fisik mencapai orgasme.

Penelitian menunjukkan bahwa seks dan kesenangan memberi beragam manfaat bagi kesehatan. Studi pada 2016 misalnya, menemukan bahwa perempuan yang aktif secara seksual memiliki risiko lebih rendah terkena serangan jantung.

Pakar Kesehatan Seksual Yvonne K. Fullbright menulis di laman kesehatan Web MD, orang yang aktif secara seksual lebih jarang sakit. Ini menunjukkan bahwa betapa kesenangan dapat menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat.

Masing-masing dari Anda barangkali punya cara sendiri-sendiri untuk mengatasi perubahan kehidupan seks di tengah pandemi. Tapi problem tak selalu gampang terselesaikan.

Maria misalnya, sekalipun ia menganggap perkara biologisnya kelar dengan bantuan sex toys. Maria tapi tak menyangkal, ada gusar di tengah ketidakpastian pandemi dan kehidupan seksnya.

"Masalahnya, gua tipikal yang touchy ke pasangan. Pandemi ini membuat gua jadi gelisah, karena gua nggak bisa melakukan itu," kata dia.

Sejurus kemudian Maria seperti berusaha menghibur diri.

"Tapi komunikasi kami jadi lebih intens. ... Enam bulan, akhirnya gua bisa adaptasi. ... Bagus juga gua pikir. Jadi gua punya banyak waktu buat diri sendiri, begitu juga dia," lanjut dia lagi.

Ilustrasi kue pernikahanIlustrasi: Sekalipun bisa mengatasi masalah seks dengan pasangan di tengah pandemi ini, tetap ada kegusaran yang dialami masing-masing orang. (Foto: SplitShire)

Serupa juga dirasakan Natalie. "Sedihnya, ada kegiatan seks yang enggak bisa dilakukan ketika sendiri dan bakal all out dengan partner. Karena aku orangnya lebih prefer yang skin to skin, ketemu langsung. Tapi kalau pandemi gini ya, terpaksa ditahan dulu," terang dia.

Natalie mengatakan, selain menyenangkan diri dengan bantuan sex toys, ia juga mengisi jeda dengan memperkaya literatur seksualnya.

"Selain bebersih sex toys, aku paling banyak baca dan riset, referensi-referensi ... Lumayan kan kalau ntar sudah bisa ketemu pasangan, bisa praktik," kata dia berseloroh.

Ketidakpastian situasi dan kecemasan akan kesehatan diri serta orang-orang terdekat dalam beberapa bulan terakhir, memang menguras energi. Anda dihadapkan pada beberapa tekanan yang, boleh jadi berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Itu sebab, penting memberikan ruang untuk mengeksplorasi kesenangan, baik dengan diri sendiri ataupun bersama pasangan. Langkah ini diyakini bisa jadi salah satu cara untuk meredakan beberapa ketegangan mental di tengah wabah.

(NMA/chs)

[Gambas:Video CNN]