Sudut Cerita

Terinfeksi Corona dan Kisah Sedih di Bulan Juli

tim, CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 16:51 WIB
Meski menjadi perawat di rumah sakit bukan rujukan covid, namun kecolongan bisa saja terjadi. Reta, seorang perawat terinfeksi covid dari seorang pasien 'baru'. ilustrasi perawat: (iStockphoto/FatCamera)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagai seorang perawat, Reta (bukan nama sebenarnya) selalu tegas menerapkan protokol kesehatan di rumah dan juga di rumah sakit, sekalipun rumah sakitnya bukanlah rumah sakit rujukan Covid-19.

Namun, 'kecolongan' tetap bisa terjadi pada siapapun, termasuk Reta yang punya risiko tinggi terpapar karena pekerjaannya di rumah sakit. Sampai suatu saat dia terinfeksi covid-19 saat melakukan tugasnya di rumah sakit.

Ini kisahnya.

Suatu hari di bulan Juli, Reta (bukan nama sebenarnya) bekerja seperti biasa. Semuanya berjalan normal. Dia bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta sebagai perawat. Rumah sakitnya sendiri bukan rujukan pasien covid-19 sehingga tak merawat pasien terinfeksi virus corona.


Setidaknya untuk yang satu itu, dia bisa tenang. Meskipun baik pribadi dan rumah sakitnya tetap menerapkan protokol kesehatan.

Di hari itu dia pun mengerjakan semua hal seperti seharusnya. Kecuali rumah sakitnya kedatangan seorang pasien di ICU. ni mungkin terlihat biasa namun hari itu justru mengubah hari-hari Reta selanjutnya. Dari pasien tersebut, Reta tertular covid-19 dan harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.

"Saat itu kecolongan ada pasien masuk ICU, keadaan sesak parah, terus diintubasi," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Saat itu semuanya terlihat baik-baik saja. Bahkan si pasien tetap dirawat di sana selama enam hari. Namun setelah itu, berbagai gejala pun mulai muncul perlahan.

"Dapat cerita dari keluarga pasien, kalau keluarganya kalau habis jaga pasien yang di rumah pada demam hampir semuanya. Dari situ pasien dicek ulang swab, dan ternyata positif (corona)," ucapnya.

"Awalnya (ketika ditanya pihak rumah sakit saat masuk ICU) swab negatif, sudah 2 minggu sebelumnya."

Saat itu, ketakutan dan kekhawatiran pun meningkat. Tracing pun dilakukan. Semua dokter dan perawat yang saat itu bertugas merawat pasien di ICU sampai perawat yang bertugas memandikan saat perawatan pun harus menjalani swab. Keluarga pasien pun menjalani swab, dan hasilnya semua positif. Sebelumnya para penunggu pasien hanya melakukan tes rapid, bukan swab.

ICU rumah sakit pun ditutup. Rumah sakit untuk sementara tak menerima pasien ICU baru. Ruangan dicek, dikultur, dan juga disterilkan di segala arah.

Kegundahan berat pun melanda saat tahu pasien dinyatakan positif Covid-19. Antara pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga, atau mendekam ketakutan tak menentu di tempat lain.

Hati kecilnya was-was, namun dia memutuskan untuk tetap pulang ke rumah selama menunggu hasil swab.

"Walaupun was", takut Tapi tetap harus pulang karena ada keluarga, suami dan anak". Tapi saya melakukan precautions (pencegahan) sendiri. Sambil tunggu hasil swab, saya di rumah selalu pakai masker, saat tidur, bahkan menyusui pun pakai masker."

Namun Reta masih harus bersiap untuk mendapatkan kabar terburuk. Dan benar saja, bagai petir di siang bolong, hasil swab Reta menunjukkan hasil positif. Dalam hal ini positif bukan hasil yang menggembirakan atau bahkan dinantikan.

"Kami perawat dan dokter dari ICU total 28 orang. Yang negatif sisa perawat 4 orang dan dokter 3, sisanya positif semua. Ada dokter yang melakukan USG perut kurang dari 30 menit pun juga ikut positif."

"Hampir semua perawat kena. Tapi positif tidak secara bersamaan, tiap seminggu dicek rutin, dan tiap keluar Hasil Ada 3-5 orang yang positif."

Reta memang seorang perawat, namun dia juga tetap seorang manusia, istri, dan juga ibu yang penuh dengan kekhawatiran akan nasib diri serta keluarganya. Hasil swab keluarganya pun negatif, meski mereka tetap diharuskan melakukan isolasi mandiri di rumah selama 2 minggu tanpa keluar rumah.

Tapi toh setidaknya dia bisa sedikit tenang, meski harus menjalani perawatan sendiri di tempat isolasi yang terpisah dari suami dan anak-anaknya. Sedihnya tak bisa terbendung.

Beautiful nurse comforting senior hospitalized patient lying down on bed talking to him - Healthcare conceptsIlustrasi perawat. iStockphoto/Hispanolistic

Bayang-bayang akan kemungkinan terburuk, termasuk penyakit yang makin memburuk dan bisa berakibat pada kematian. Semua bayangan buruk itu juga masih ditambah ketakutan akan stigma masyarakat akan pasien Covid-19 dan juga keluarganya.

"Ya sempat takut nanti risikonya seperti apa, terus ke depannya gimana. Tapi pikiran itu saya buang semua. Yang di pikiran saya harus sembuh demi anak-anak dan keluarga."

"Hal seperti itu pasti semuanya merasakan. Takut keluarga tertular, tetangga gimana. Tapi Alhamdulilah tetangga di rumah pada mengerti dan saling support. Bahkan tetangga pun bergantian memberikan lauk matang sampai sembako untuk keluarga saya."

Seketika Reta dan teman-temannya yang terpapar virus corona pun langsung diisolasi di rumah sakit rujukan Covid-19 milik 'induk' rumah sakit tempatnya bekerja yang juga bekerjasama dengan pemerintah.

Selama perawatan, beberapa gejala pun dirasakannya, namun beruntung dia tak butuh perawatan ekstra apalagi sampai pakai ventilator. Di rumah sakit tersebut dia dan teman-teman sejawatnya harus melakukan cek secara berkala dan swab seminggu sekali.

Di rumah sakit tersebut, dia harus isolasi selama 19 hari.

Jangan tanya bagaimana rindunya dia memeluk anak dan suaminya. Namun semua itu harus ditahannya demi kesehatan bersama. Semua pikiran negatif yang mungkin merasuk, beban stres pikiran yang berkecamuk pun dihalangnya.

"Tiap hari saya halang semuanya, seperti tidak ada apa." Hanya jarak saja yang memisahkan. Saya anggap sedang nginep di hotel dan sedang berlibur. Hanya butuh istirahat yang cukup untuk memulihkan segalanya."

Meski fisik harus terpisah jarak, setidaknya teknologi membantu Reta tetap terhubung dengan anak-anaknya. Setiap hari dia melakukan video call dengan anak-anaknya. Namun rupanya, sang suami tetap setia mendampinginya.

Bak Romeo dan Juliet yang tengah dimabuk cinta, suaminya kerap mengunjungi rumah sakit tempatnya dirawat untuk membawakan makanan buatan rumah, tapi terkadang juga dititipkan ke security rumah sakit.

Keduanya masih merasa bahagia bisa menatap wajah satu sama lain, meski harus dibatasi kaca jendela. Saling memandang dari kejauhan, seolah flashback kisah-kisah romantis zaman dulu.

"Kebetulan saya dirawat di lantai 2, dan bisa langsung lihat suami dari jendela pas arah parkiran. Walaupun tidak bisa berjemur dan tatap muka langsung, sangat senang dan mengobati rasa kangen," ucapnya sembari tersipu dengan membubuhkan emoji tangan tertutup di mulut, seolah menandakan itu menjadi rahasia romantis di antara keduanya.

Setelah 19 hari berlalu dan hasil swab negatif yang berkali-kali didapat secara berurutan menjadi penanda bahwa Reta berangsur sembuh dan siap kembali pulang.

Sampai akhirnya dia pun dinyatakan benar-benar sembuh dan dipulangkan. Dalam beberapa hari dia pun siap kembali bekerja sambil tetap menjaga kesehatan dan melakukan protokol kesehatan.

"Saat bertemu sama suami dan anak-anak adalah hal paling dirindukan. Itu hal pertama yang saya lakukan. Saat di mana bisa sentuh mereka, tapi itu sangat terharu, sedih, senang semuanya."

Kini Reta sudah kembali bertugas sebagai perawat. Dia kembali bekerja seperti biasa dan bertemu dengan banyak pasien lain yang membutuhkan bantuannya. Dia juga bahkan sudah siap melakukan jaga malam yang memang menjadi bagian dari tugasnya.

Alih-alih kesal dengan pekerjaan atau dengan pasien-pasien yang terkadang tak jujur dengan kondisi mereka, Reta mengaku 'legowo.'

"Sebagai perawat itu sudah risiko, karena garda terdepan."

(chs)

[Gambas:Video CNN]