Alasan Diet Rentan Gagal di Masa Pandemi

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 14/10/2020 20:36 WIB
Di masa pandemi, program diet menemukan sejumlah tantangan dan rentan gagal. Berikut beberapa faktor yang menyebabkannya. Ilustrasi. Di masa pandemi, program diet menemukan sejumlah tantangan dan rentan gagal. (iStockphoto/Tero Vesalainen)
Jakarta, CNN Indonesia --

Siapa saja bisa melakoni program penurunan berat badan. Namun, semasa pandemi, program diet disebut menemukan sejumlah tantangan.

Kelebihan berat badan hingga obesitas menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis. Riskesdas 2018 mencatat, 1 dari 3 orang Indonesia memiliki indeks massa tubuh di atas 25 dan menunjukkan indikasi obesitas.

Dengan kondisi sedemikian rupa, program diet jadi hal yang penting untuk dilakoni demi menjaga tubuh tetap sehat.


Namun, ahli gizi RS Pondok Indah, Juwalita Surapsari mengatakan, diet rentan gagal di masa pandemi. Berikut beberapa hal yang menyebabkannya.

1. Kemudahan untuk memperoleh makanan

Dokter yang akrab disapa Lita ini mengamati, makanan makin mudah diperoleh di tengah pandemi ini. Anda tinggal memanfaatkan layanan pesan-antar dari aplikasi ojek daring dan makanan pun datang menghampiri. Dengan demikian, seseorang rentan membeli makanan dengan kandungan gula dan lemak tinggi sehingga asupan kalori berlebihan.

2. Comfort food

"Di rumah bosan, lalu timbul keinginan untuk menyantap makanan andalan atau comfort food," kata Lita dalam webinar bersama RS Pondok Indah Group, Rabu (14/10).

Sayangnya, comfort food umumnya merupakan makanan yang tinggi kandungan garam dan gula. Akibatnya, terjadi surplus energi atau kalori sehingga rentan mengalami kenaikan berat badan.

3. Kurang aktivitas fisik

Tanpa disadari, bekerja dari rumah membuat aktivitas fisik berkurang drastis.

Saat bekerja dari kantor, jam makan siang kerap membuat Anda beranjak dari meja kerja untuk mencari makan. Sementara di rumah, apa saja ada di depan mata.

4. Takut konsultasi

Ada pula sebagian orang yang sadar dirinya kelebihan berat badan dan obesitas tetapi takut berkonsultasi ke ahli kesehatan. Padahal, lanjut Lita, rumah sakit sudah menerapkan protokol kesehatan ketat sehingga memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung. Akibatnya, banyak orang melakukan diet secara mandiri.

Sesungguhnya tak ada salahnya dengan diet mandiri. Namun, Lita menyarankan, sebaiknya pilih metode diet yang bisa dilakukan dalam jangka panjang, seimbang, dan tetap mempertimbangkan defisit kalori.

Pilih juga diet yang mengutamakan keberagaman makanan. Untuk ini, Anda bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

"Hati-hati dengan diet yang tidak menyarankan makan makanan tertentu. Imbangi penurunan berat badan dengan olahraga. Saat diet, biasanya massa otot ikut turun sehingga perlu olahraga [untuk menguatkan massa otot]," imbuhnya.

(els/asr)

[Gambas:Video CNN]