Studi Ungkap Prosedur Medis yang Menimbulkan Risiko Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 09:58 WIB
Studi terbaru mengungkap daftar prosedur medis yang berisiko menyebarkan virus corona di antaranya otopsi, suctioning dan resusitasi. Ilustrasi: Studi terbaru mengungkap daftar prosedur medis yang berisiko menyebarkan virus corona di antaranya otopsi, suctioning dan resusitasi. (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia --

Studi mengungkap daftar prosedur medis yang menimbulkan risiko penyebaran Covid-19 bagi tenaga kesehatan. Otopsi, penyedotan atau membersihkan jalan napas (suctioning) dan resusitasi kardiopulmoner adalah beberapa di antaranya lantaran prosedur ini menimbulkan aerosol.

Penelitian baru yang diterbitkan di jurnal BMJ Open Respiratory Research ini digawangi tim ahli internasional termasuk spesialis kesehatan kerja, pencegahan pengobatan dan penyakit menular.

Dalam menentukan prosedur mana yang tergolong menimbulkan aerosol dan berisiko penularan, tim yang dipimpin profesor kedokteran dari Universitas Alberta, Sebastian Straube ini melakukan tinjauan sistematis terhadap pedoman kesehatan masyarakat, makalah penelitian dan dokumen kebijakan dari seluruh dunia.


"Apa yang kami coba lakukan ini adalah memahami prosedur mana yang menghasilkan aerosol dan karena itu memerlukan alat perlindungan diri tingkat yang lebih tinggi," tutur Sebastian Straube yang merupakan Profesor dan Kepala Divisi Pencegahan Pengobatan, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi di Universitas Alberta dikutip dari Science Daily.

Hasil studi menemukan ada 80 persen persetujuan dari sejumlah dokumen dengan sumber yang berbeda yang menunjukkan daftar prosedur medis tersebut merupakan penghasil aerosol yang kuat.

Straube pun merekomendasikan agar dilakukan penelitian lebih lanjut pada beberapa daftar pendek prosedur yang tidak merekan temukan konsensusnya, seperti pemeriksaan swab atau usap tenggorokan.

Tim yang terdiri atas 19 peneliti dari Kanada, Inggris, Amerika dan negara lainnya ini termasuk ahli perawatan primer di Oxford University yang cukup dikenal, Trisha Greenhalgh. Sementara Tanya Jackson--rekan Straube--merupakan penulis utama.

"Kami memberikan ringkasan bukti sebagai pemberitahuan ke pembuat kebijakan untuk bekal meyusun keputusan dan pengembangan pedoman," kata Straube.

Infografis Mengenal Alat Pelindung Diri Petugas Medis Covid-19Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Mengenal Alat Pelindung Diri Petugas Medis Covid-19

Aerosol, Straube menjelaskan, adalah suspensi partikel padat atau cair halus di udara. Dalam konteks pengendalian infeksi, partikel yang lebih besar dari aerosol mengendap pada jarak yang cukup pendek dan dikenal dengan nama droplet. Aerosol merupakan partikel yang lebih kecil dari droplet.

"Partikel yang lebih kecil dapat melakukan perjalanan sebagai aerosol pada arus udara, bertahan di udara lebih lama dan, menyebar ke area yang luas."

Straube melanjutkan, tujuan penelitian yang didanai dari hibah Workers Compensation Board of Alberta ini adalah untuk mencegah petugas kesehatan terinfeksi dan melindungi mereka dari infeksi virus corona sehingga pelayanan kesehatan tak limbung selama pandemi.

Petugas kesehatan yang melakukan prosedur yang menimbulkan aerosol harus memakai N-95, yakni respirator penutup wajah yang memiliki kemampuan filter tinggi. Alat pelindung diri pun wajib lengkap meliputi sarung tangan, gaun pelindung hingga pelindung mata.

(NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]