Kisah 5 Desainer di Balik Desain APD dan Masker Modis

tim, CNN Indonesia | Rabu, 24/06/2020 11:09 WIB
Perajin menjahit kain masker industri rumahan di Kecamatan Baruga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (6/4/2020). Sejak merebaknya wabah virus COVID-19 membuat penjahit pakaian beralih membuat masker kain untuk sementara waktu akibat meningkatnya permintaan dalam sehari bisa menjual masker hingga 250 lembar masker sementara penjualan melayani wilayah kota Kendari dan beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara. ANTARA FOTO/Jojon/hp. Ada kisah menarik yang tak jarang berangkat dari kerugian dan keterpurukan sebelum berhasil membuat APD dan masker yang stylish. (ANTARA FOTO/JOJON)
Jakarta, CNN Indonesia --

Alat pelindung diri (APD) seperti jaket besar dan masker modis yang viral di masa pandemi virus corona (Covid-19), ternyata tak muncul begitu saja. Ada kisah menarik yang tak jarang berangkat dari kerugian dan keterpurukan sebelum berhasil membuat APD dan masker yang stylish.

Sejumlah desainer mengaku ide kreatif itu muncul saat pandemi sempat membuat industri mode mati suri. Mereka mesti putar otak untuk tetap dapat meraih pundi-pundi.

Saat awal pandemi di Indonesia, pemerintah menetapkan kebijakan bekerja dan beraktivitas dari rumah, termasuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah. Kebijakan ini membuat produksi busana terhenti. Di sisi lain, permintaan pasar pun terus menurun drastis.


Desainer busana modest Rosie Rahmadi mengaku panik saat pandemi datang pada Maret lalu.

"Awal pandemi ini menerpa, saya panik, takut, bingung mau ngapain," kata Rosie sosok di balik label Gadiza, dalam jumpa media bersama Indonesian Fashion Chamber (IFC) pada awal pekan ini.

Rosie terpaksa membatasi produksi dan juga para pekerja. Sebagian pekerja mesti datang ke tempat kerja (workshop) sebagian lain dari rumah.  Rosie juga mengurangi intensitasnya memantau workshop menjadi dua atau tiga kali sepekan.

Namun, keadaan tak juga membaik. Alhasil, Rosie mesti berpikir keras agar labelnya tetap dikenal banyak orang. Pada suatu hari, setelah berkonsultasi dengan desainer yang lebih senior dan berpengalaman, Rosie memutuskan untuk membuat video menceritakan tentang labelnya.

Dalam video itu, tak sengaja Rosie bercerita tentang salah satu jaket koleksi miliknya yang selalu dikenakan sejak empat tahun lalu. Jaket itu selalu dikenakan untuk perlindungan diri selama masa pandemi ketika mesti bekerja di luar rumah.

"Saya ternyata selalu pakai jaket yang sama dari tahun 2016. Jaket ini anti air dan tidak gampang masuk angin," ucap Rosie.

Setelah video itu diunggah, tak disangka Rosie justru mendapatkan pesanan yang berlimpah. Banyak orang yang tertarik menjadikan jaket itu sebagai APD. Rosie kemudian mengganti nama jaket itu sebagai OPD atau outer pelindung diri.

Dari desain yang sudah ada, Rosie melakukan sejumlah perbaikan seperti bahan dan model agar outer benar-benar bisa melindungi tubuh. Dia menggunakan bahan parasut serta sejumlah bahan lain yang anti air. Jaket itu juga dibuat secara unisex.

Pekerja menunjukkan masker kain produksi penjahit konveksi di Kampung Cibangkur, Lebak, Banten, Senin (6/4/2020). Tingginya permintaan masker membuat penjahit konveksi di daerah tersebut dapat memproduksi 500-1000 lembar masker kain per hari dengan harga Rp5.000 per lembarnya, dan dipasarkan ke sejumlah kota seperti Serang, Cilegon, Tangerang, dan Jakarta. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/hp.Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
ilustrasi masker kain

Berawal dari ketidaksengajaan, kini Rosie banyak mendapat orderan OPD itu bahkan dari sejumlah perkantoran dan rumah sakit.

Kesulitan di masa pandemi juga dirasakan label kain sarung kontemporer Aceh, Ija Kroeng.

"Di minggu pertama saat Aceh mulai memberlakukan jam malam dan semuanya dibatasi, penjualan hampir nol, 99 persen tak ada penjualan," kata founder Ija Kroeng, Khairul Fajri.

Penjualan yang menurun membuat Khairul kembali melihat pasar. Dia memutuskan untuk sementara waktu beralih membuat masker kain yang saat itu masih sulit didapat. Khairul kembali mempekerjakan pegawainya dan membuat masker kain dengan motif unik. Dia  juga membuat pola masker yang sederhana tapi tetap gaya.

"Strategi yang lain kami langsung membidik instansi perusahaan, kami buat masker dengan logo mereka," ujar Khairul.

Strategi ini terbilang ampuh sejumlah instansi memesan masker itu dalam jumlah besar. Cara ini juga secara tidak langsung mengenalkan label Ija Kroeng ke lebih banyak konsumen. Perlahan penjualan kain sarung pun mulai membaik.

"Tahun ini, lebih bagus dibanding tahun lalu, penambahan follower juga lebih banyak," ucap Khairul.

Strategi yang berbeda dicoba desainer berbasis di Yogyakarta Phillip Iswardono. Phillip merupakan sosok di belakang label Konsep yang terkenal dengan busana ready to wear dari kain lurik dan tenun. Saat pandemi menghantam bisnis, Phillip yang tak lagi mendapatkan pesanan mencoba untuk menghubungi semua pelanggan busana lurik miliknya.

"Saya mulai membangun networking baru, hal yang selama ini jarang saya sentuh," ucap Phillip.

Dia juga mengirimkan sejumlah koleksi miliknya dengan tambahan masker ke beberapa pelanggan. Bak gayung bersambut, para pelanggan itu memesan kembali masker-masker tersebut.

Phillip membuat masker dengan rentang harga yang beragam. Mulai dari harga Rp3 ribu untuk masker yang terbuat dari kain perca, hingga masker dengan harga Rp1 juta yang menggunakan kain tenun langka.

Masker milik Phillip bahkan dipesan ke sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, dan Australia dan jumlah banyak.

"Saya justru menambah tenaga baru, penjahit-penjahit baru saat pandemi ini. Omset saya mulai dari awal Mei naik 50 persen dari total omset sebelum pandemi," ungkap Phillip.

Masker buatan Phillip juga menginspirasi desainer busana modest Hannie Hananto. Hannie mengikuti jejak Phillip dengan membuat masker, tapi menggunakan kain-kain dengan ciri khas miliknya yakni kain bercorak dan print.

"Saya pertama kali mengenakan masker itu masker buatan Mas Phillip. Lalu, saya pikir kenapa enggak bikin dengan gaya saya, dengan motif seperti hijab atau motif bajunya," tutur Hannie.

Setelah membuat beberapa motif, Hannie langsung membagikannya ke media sosial. Hannie menyebut netizen merespons masker itu dengan luar biasa. Dia menjual masker corak itu dengan harga Rp75 ribu.

Cara yang sama juga diikuti desainer Riri Rengganis. Pandemi membuat penjualan dua label miliknya Rengganis dan Indische merosot tajam. Riri pun menyetop semua produksi busana karena mal tempat dia menjual busana itu tutup.

Awalnya, dia sempat mencoba mem-broadcast pesan yang berisi promosi kebaya dan busana kontemporer miliknya kepada para pelanggan. Alih-alih mendapat respons positif, Riri justru mendapatkan sejumlah protes.

"Pelanggan justru curhat bahwa mereka mau belanja tapi tidak ada uang," kata Riri.

Riri lalu menyetop pesan tersebut. Dia lalu mengevaluasi produknya dan mengambil keputusan untuk beralih sementara waktu untuk membuat masker, karena sedang dicari oleh masyarakat.

Riri membuat dengan ciri khas miliknya yakni menggunakan bordir, tenun, dan batik. Masker itu dipromosikan melalui media sosial. Dia juga menerima konsultasi masker dan request dari pelanggan seperti bahan dan ukuran jika ingin disesuaikan.

Cara ini terbukti ampuh. Riri berhasil mengembalikan omset yang hilang saat awal pandemi. Masker milik Riri banyak disebarkan di media sosial. Pelanggan baru pun berdatangan dan mulai mengenal label miliknya.

"Tiga minggu saya jualan membalas pelanggan sampai jam 1 malam, ada 2.000 pelanggan baru. Secara omset tidak ada peningkatan signifikan, tapi saya mendapatkan ratusan customer baru saya optimis banget untuk maju ke depan," kata Riri.

(ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]