Ada La Nina dan Corona, Jumlah Penguin Galapagos Capai Rekor

CNN Indonesia | Minggu, 25/10/2020 02:43 WIB
Populasi Penguin Galapagos dan Burung Cormorant meningkat diduga akibat dari fenomena iklim La Nina dan pandemi Covid-19. Ilustrasi penguin. (AFP PHOTO / Mathilde BELLENGER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Populasi Penguin Galapagos dan Burung Cormorant, dua spesies endemik di kepulauan tersebut, mengalami peningkatan jumlah hingga menembus rekor. Hal ini disebut tak lepas dari fenomena iklim La Nina dan pandemi Covid-19.

Diketahui, Penguin Galapagos adalah salah satu spesies penguin terkecil di dunia, berukuran sekitar 35 sentimeter. Penguin ini menjadi satu-satunya yang hidup di daerah ekuator.

Sementara, Burung Cormorant atau Kormoran atau burung pecuk Galapagos adalah satu-satunya dari jenisnya yang kehilangan kemampuan terbang. Namun, spesies ini mengembangkan keterampilan menyelam.


"Jumlah burung kormoran telah mencapai rekor, menurut data sejarah sejak tahun 1977, sedangkan jumlah penguin tertinggi sejak tahun 2006," kata pernyataan resi dari Taman Nasional Galapagos, yang melakukan sensus tersebut, dikutip dari AFP.

Penelitian itu dilakukan oleh pihak Taman Nasional Galapagos dan Yayasan Charles Darwin, pada September, terhadap koloni utama di pulau Isabela dan Fernandina serta di pulau kecil Marielas. Kepulauan ini sendiri terletak sekitar 1.000 kilometer (625 mil) di lepas pantai Ekuador.

Berdasarkan sensus tersebut, populasi penguin Galapagos meningkat dari 1.451 pada 2019 menjadi 1.940 pada 2020.

Sementara, jumlah burung kormoran meningkat dari 1.914 menjadi 2.220 selama periode yang sama.

Paulo Proano, Menteri Lingkungan dan Air Ekuador, mengatakan hasil sensus mencerminkan "kondisi kesehatan populasi yang baik" dari burung-burung di kepulauan itu.

Soal penyebab peningakatan popuasi, pihak Taman Nasional mengaitkannya dengan fenomena iklim La Nina, yang membantu menyediakan lebih banyak makanan bagi burung.

Selain itu, pihak Taman Nasional menyebut faktr pandemi Virus Corona yang membuat penurunan angka wisatawan. Hal itu otomatis membuat gangguan pada area sarang menurun.

Diketahui, Kepulauan Galapagos sendiri menjadi laboratorium alam bagi ilmuwan Inggris Charles Darwin hingga melahirkan teori evolusi spesies.

(AFP/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK