Tantangan Penyakit Paru Obstruktif Kronis di Masa Pandemi

tim, CNN Indonesia | Rabu, 18/11/2020 19:49 WIB
Tantangan penderita penyakit paru obstruktif kronis kian besar di masa pandemi Covid-19, dengan risiko tinggi terinfeksi dan kembangkan gejala parah. Penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) memiliki risiko tinggi terinfeksi virus corona dan mengembangkan gejala parah. (iStockphoto/Chinnapong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tantangan penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) semakin besar di masa pandemi Covid-19. Orang dengan PPOK berisiko tinggi terinfeksi virus corona dan mengembangkan gejala yang parah.

PPOK merupakan penyakit yang timbul karena penurunan fungsi paru yang ditandai dengan gejala sesak napas dan batuk berdahak kronis yang terus berulang. PPOK biasanya muncul pada orang yang berusia di atas 50 tahun.

"Tantangan di masa pandemi ini orang dengan PPOK kebanyakan berusia lanjut, di atas 50 tahun dan itu merupakan orang yang sangat rentan dengan Covid-19. Kalau terkena Covid-19, daya tahan tubuhnya tidak bagus," kata dokter spesialis paru Budhi Antariksa dalam acara peringatan Hari PPOK Sedunia, Rabu (18/11).


Daya tahan yang lemah pada penderita PPOK membuat infeksi virus akan semakin parah, sehingga bisa menimbulkan gejala yang juga lebih parah dan dapat menyebabkan kematian.

"Angka mortalitasnya juga semakin tinggi," kata Budhi.

Perbedaan PPOK dan Covid-19

Meski sama-sama menyerang paru, PPOK berbeda dengan Covid-19.

Penurunan fungsi paru pada PPOK disebabkan oleh sejumlah faktor risiko seperti merokok, paparan polusi udara, dan infeksi yang berulang. Sementara Covid-19, disebabkan oleh virus corona.

PPOK ditandai dengan gejala sesak napas, batuk berdahak, dan biasanya muncul pada usia 50 tahun ke atas.

Sedangkan Covid-19, disertai dengan demam, batuk tidak berdahak, diare, nyeri otot, kehilangan kemampuan merasa dan mencium.

Di masa pandemi ini, penderita PPOK diminta untuk menjaga fungsi paru dengan tidak merokok serta menerapkan protokol kesehatan. Mulai dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun, untuk mencegah tertular Covid-19.

Kasus PPOK di masa pandemi

PPOK merupakan penyakit kronis penyebab utama kematian dan kesakitan di dunia. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi penderita PPOK mencapai 3,7 persen.

Sayangnya, hingga saat ini, belum ada penelitian yang mengkaji kasus PPOK di masa pandemi. Namun, Budhi menyatakan PPOK umumnya disebabkan oleh merokok dan paparan polusi udara. Jika orang masih terus merokok, PPOK masih akan terus ditemukan.

"Faktor risiko PPOK di Indonesia termasuk tinggi mengingat prevalensi merokok di Indonesia peringkat tiga terbanyak di dunia. Perokok muda juga terus bertambah," kata Budhi.

(ptj/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK