Studi: Kekebalan Tubuh Covid-19 Bertahan Enam Bulan

Tim, CNN Indonesia | Senin, 30/11/2020 07:00 WIB
Kekebalan tubuh terhadap virus corona ditemukan dapat bertahan hingga enam bulan atau lebih pada penyintas Covid-19. Ilustrasi. Kekebalan tubuh terhadap virus corona ditemukan dapat bertahan hingga enam bulan atau lebih pada penyintas Covid-19. (iStockphoto/Ovidiu Dugulan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Studi terbaru menemukan, kekebalan tubuh terhadap virus corona penyebab Covid-19 dapat bertahan hingga enam bulan atau lebih. Hasil ini didapat saat peneliti mengamati semua komponen kekebalan tubuh.

Penelitian awal ini menambah informasi baru mengenai respons imun terhadap virus SARS-CoV-2. Sebelumnya, beberapa penelitian telah berfokus pada antibodi atau komponen protein dari sistem kekebalan tubuh. Beberapa penelitian menyebut bahwa kekebalan terhadap virus corona bisa berkurang hanya dalam beberapa bulan.

Berbeda dengan yang sebelumnya, studi ini melibatkan analisis beberapa komponen kekebalan seperti antibodi, sel B, sel T, dan lainnya.


Penelitian melibatkan 185 orang dewasa penyintas Covid-19 usia 19-81 tahun di Amerika Serikat. Kebanyakan partisipan mengalami infeksi dengan gejala ringan.

Melansir CNN, para peneliti menganalisis sampel darah partisipan yang diambil setelah timbulnya gejala. Beberapa sampel lain dikumpulkan saat enam bulan setelah timbulnya gejala.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa antibodi bisa bertahan lama dan mengalami sedikit penurunan pada enam sampai delapan bulan.

Para peneliti juga menemukan bahwa sel B terdeteksi di hampir semua kasus Covid-19. Sel ini tampaknya mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Hal yang sama juga ditemukan dalam dua jenis sel T. Data menunjukkan, sel T mencapai sesuatu yang lebih stabil atau fase pembusukan yang lebih lambat dari enam bulan pasca-infeksi.

Kendati demikian, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menemukan temuan serupa pada kelompok partisipan yang lebih besar. Saat ini, studi juga belum melewati proses peer-review atau penelaahan sejawat.

"Secara keseluruhan, ini adalah studi penting yang mengkonfirmasi keberadaan memori kekebalan terhadap SARS-CoV-2, tetapi dengan tingkat yang bervariasi dari orang ke orang," ujar ahli onkologi molekuler di University of Warwick, Profesor Lawrence Young, mengomentari penelitian.

Young menduga, kekebalan yang bervariasi tersebut disebabkan oleh tingkat infeksi yang cukup ringan pada sejumlah partisipan.

Kendati demikian, lanjut Young, satu hal penting yang didapat dari penelitian tersebut adalah bahwa respons imun terhadap virus corona ternyata bisa bertahan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK