Ramai Kasus Hewan Liar Terjerat & Tersedak Sampah Masker

CNN Indonesia | Selasa, 12/01/2021 10:42 WIB
Kasus burung camar yang terlilit tali masker sampai penguin yang tersedak masker menjadi peringatan akan bahaya sampah masker yang minim kelola. Seekor monyet terlihat bermain masker bekas di Genting Sempah, Malaysia. (AFP/MOHD RASFAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Masker yang membantu menyelamatkan nyawa manusia selama pandemi virus Corona terbukti menjadi ancaman mematikan bagi satwa liar, dengan adanya kasus burung dan makhluk laut yang terperangkap limbah masker dalam jumlah yang mengejutkan.

Masker bedah sekali pakai telah ditemukan tersebar di sekitar trotoar, saluran air, dan pantai di seluruh dunia sejak negara-negara mulai mewajibkan penduduknya menggunakannya selama berada tempat umum untuk memperlambat penyebaran pandemi.

Jika dipakai sekali, bahan pelindung yang tipis ini membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai.


"Masker wajah tidak akan hilang dalam sekejap, ketika kita membuangnya sembarangan, barang-barang ini dapat merusak lingkungan dan hewan yang berbagi planet dengan kita," kata Ashley Fruno dari kelompok hak asasi hewan PETA kepada AFP.

Monyet terlihat mengunyah tali dari masker bekas yang dibuang di perbukitan di luar ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur - potensi bahaya tersedak bagi monyet kecil itu.

Dan dalam sebuah insiden yang menjadi berita utama di Inggris, seekor burung camar diselamatkan oleh RSPCA di kota Chelmsford setelah kakinya tersangkut di tali masker sekali pakai selama seminggu.

RSPCA diberi tahu setelah burung itu terlihat oleh warga, tidak bergerak tetapi masih hidup, dan mereka membawanya ke rumah sakit satwa liar untuk perawatan sebelum dilepaskan.

"Jelas masker itu ada di sana selama beberapa waktu dan tali elastis telah mengencang di sekitar kakinya sehingga persendiannya bengkak dan sakit," kata anggota RSPCA Adam Jones.

Cara membuang limbah masker

Dampak terbesar mungkin terjadi di air, dengan aktivis lingkungan yang khawatir dengan banjir masker bekas, sarung tangan lateks dan alat pelindung lainnya yang mengambang sampai ke laut dan sungai yang sudah terpolusi sebelumnya.

Lebih dari 1,5 miliar masker masuk ke lautan dunia tahun lalu, terhitung sekitar 6.200 ton tambahan pencemaran plastik laut, menurut kelompok lingkungan OceansAsia.

Sudah ada tanda-tanda bahwa masker semakin menjadi ancaman bagi kehidupan laut.

Ahli konservasi di Brasil menemukan satu masker bekas di dalam perut penguin setelah tubuhnya terdampar di pantai, sementara ikan buntal yang mati ditemukan terperangkap di dalam masker bekas di lepas pantai Miami.

Operasi Mer Propre menemukan seekor kepiting mati yang terperangkap dalam masker di laguna dekat Mediterania pada bulan September.

Masker dan sarung tangan "sangat bermasalah" bagi makhluk laut, kata George Leonard, kepala ilmuwan dari LSM Ocean Conservancy yang berbasis di AS.

"Ketika plastik itu terurai di lingkungan, mereka membentuk partikel yang semakin kecil," katanya kepada AFP.

Partikel-partikel itu kemudian memasuki rantai makanan dan berdampak pada seluruh ekosistem, tambahnya.

Telah terjadi pergeseran ke arah penggunaan masker kain yang dapat digunakan kembali, tetapi banyak yang masih memilih jenis masker sekali pakai yang dianggap lebih ringan.

Para pegiat telah mendesak orang-orang untuk membuang limbah masker dengan benar dan memotong talinya untuk mengurangi risiko hewan terjerat.

OceansAsia juga meminta pemerintah untuk meningkatkan denda jika membuang sampah sembarangan dan mendorong penggunaan masker yang bisa dicuci.

[Gambas:Instagram]



[Gambas:Instagram]



(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK