Cara Penularan Virus Nipah yang Dikhawatirkan Jadi Pandemi

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 27/01/2021 11:04 WIB
Virus Nipah dikhawatirkan jadi pandemi baru. Untuk mengatasinya, Anda perlu mewaspadai cara penularan virus Nipah. Ilustrasi, Virus Nipah dikhawatirkan menjadi pandemi baru. (iStockphoto/jarun011)
Jakarta, CNN Indonesia --

Belum usai pandemi virus corona penyebab Covid-19, keberadaan virus Nipah memicu kekhawatiran baru. Untuk mengatasinya, Anda perlu mewaspadai cara penularan virus Nipah.

Virus Nipah sendiri memicu penyaki zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Tingkat angka kematian yang diakibatkan virus ini bahkan mencapai 75 persen.

Saat ini, para ilmuwan memprediksi bahwa virus Nipah akan menjadi pandemi baru. Dengan angka kematian yang tinggi, virus ini juga belum memiliki vaksin.


Virus Nipah pertama kali dikenali di Malaysia pada 1999 silam. Kala itu, virus juga menyebar ke negara tetangga, Singapura. Kebanyakan infeksi pada manusia disebabkan oleh kontak langsung dengan babi yang sakit.

Berikutnya, wabah virus ini juga meradang di Bangladesh dan India pada 2001 silam. Konsumsi buah atau produk buah yang terkontaminasi dengan urine atau air liur kelelawar yang terinfeksi diduga menjadi sumber utama penularan.

Mengutip CDC, pada dasarnya, virus ini menular melalui cairan seperti darah, urine, dan air liur dari hewan yang terinfeksi. Kontak dengan hewan yang terinfeksi dapat meningkatkan risiko penularan.

Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui produk makanan yang telah terkontaminasi cairan hewan yang terinfeksi. Misalnya saja, kurma atau buah-buahan yang terkena air liur kelelawar pembawa virus Nipah.

Penularan virus Nipah dari manusia ke manusia juga telah dilaporkan terjadi di antara keluarga dan perawat pasien yang terinfeksi.

Pada orang yang terinfeksi, virus ini dapat menyebabkan berbagai penyakit dari infeksi asimtomatik (tanpa gejala) hingga penyakit pernapasan akut dan ensefalitis atau radang otak.

Beberapa orang yang terinfeksi umumnya mengalami beberapa gejala awal seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Gejala ini juga dapat diikuti dengan rasa kantuk, kesadaran yang berubah, dan tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut.

Ensefalitis dan kejang bisa terjadi pada kasus yang parah dan berkembang menjadi koma dalam waktu 24-48 jam.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko penularan. Berikut cara mengurangi risiko penularan virus Nipah.

1. Cuci bersih buah dan kupas sebelum dikonsumsi.

2. Buah dengan tanda gigitan kelelawar harus dibuang.

3. Sarung tangan dan pakaian pelindung lainnya harus dipakai saat menangani hewan yang sakit.

4. Sebisa mungkin hindari kontak dengan hewan yang terinfeksi.

5. Cuci tangan secara teratur setelah merawat atau mengunjungi orang yang sakit.

(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK