Hamburg, CNN Indonesia -- Tinggal di luar negeri dan berkesempatan untuk menuntut ilmu di Jerman memang sudah menjadi cita-cita saya sejak lulus dari jurusan Sastra Jerman di Universitas Padjajaran.
Sekitar tiga tahun lalu impian saya untuk meninggalkan zona nyaman di Tanah Air dan menginjakkan kaki di negeri orang akhirnya terwujud. Berawal sejak 2018 ketika saya mengikuti program pertukaran budaya (AuPair program) lalu dilanjutkan dengan program dari pemerintah Jerman yaitu FSJ (Voluntary Social Year), di mana saya bekerja sebagai relawan di panti werdha.
Setelah lebih dari satu tahun beradaptasi dengan kebiasaan hidup mereka, saya memulai peruntungan untuk melanjutkan studi di negara yang terkenal sebagai salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di seluruh Eropa. Namun apa daya, saat itu waktu belum berpihak pada saya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak disangka, saat pandemi virus Corona mulai melanda dunia, doa saya terkabul. Saya mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu di jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Hamburg University of Applied Sciences (HAW Hamburg).
Pandemi Covid-19 tentu saja menghapus ekspektasi saya menjadi mahasiswa baru di Jerman. Impian bisa bertemu teman baru dari berbagai negara hanya bisa terwujud melalui layar komputer.
Berkuliah di tengah pandemi nyatanya sangat berat untuk dijalankan. Terutama karena tidak adanya interaksi secara langsung antara sesama mahasiswa maupun antara pengajar dan mahasiswa.
Semua materi yang disediakan secara daring juga terkadang menyulitkan bagi sebagian mahasiswa yang cenderung lebih nyaman membaca secara fisik.
Untungnya mereka masih membuka perpustakaan meskipun hanya sebatas layanan peminjaman dan pengembalian buku, sehingga pengerjaan tugas tidak terlalu terhambat.
Kualitas internet yang bagus pun menjadi faktor penentu kenyamanan. Saya pernah mengalami kesulitan mengakses internet, karena saat ini tinggal di dorm yang dihuni kurang lebih seratus mahasiswa yang setiap harinya sama-sama membuka komputer untuk kuliah daring. Tak sedikit dari mereka yang pulang ke rumah orang tua mereka demi mencegah kendala ini.
Namun di luar itu saya bersyukur memulai perkuliahan saya dengan tinggal di dorm, terlebih di saat ruang gerak terbatas karena pandemi. Di sini saya tetap dapat berinteraksi dengan banyak mahasiswa lainnya dari berbagai bidang studi, sehingga dapat bertukar pikiran-tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan di tengah pandemi yang berlaku.
Masa ujian yang sebentar lagi akan datang juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak hanya bagi mahasiswa, melainkan pihak universitas pun juga ditantang untuk membuat prosedur ujian yang dapat diterapkan secara adil.
Mahasiswa diminta untuk mengikuti masa percobaan ujian daring untuk memastikan tidak ada kendala teknis nantinya.
Perkuliahan secara daring juga sangat berdampak bagi para dosen. Meski Jerman terkenal dengan teknologinya yang maju, namun tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Jerman sendiri - terutama kaum tua - kalah maju dalam penggunaan teknologi dibanding masyarakat Indonesia. Sehingga diperlukan adaptasi bagi mereka supaya tidak gagap teknologi dalam proses mengajar dan menguji.
Perihal biaya hidup, Jerman adalah salah satu negara di Eropa yang biaya hidupnya terbilang rendah dibanding negara lainnya.
Saya melanjutkan studi di Jerman dengan biaya sendiri. Tanpa ada beasiswa dari pemerintah, tentunya menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan finansial selama hidup di sini.
Namun bukan berarti tidak mungkin. Karena walaupun sebagai orang asing, kita tetap memiliki hak untuk bekerja jika kita berstatus sebagai pelajar. Di sini lah kita mesti pintar melihat peluang.
Karakter yang saya kenal
Ini bukan tahun pertama saya tinggal di Jerman, jadi sedikit banyak saya sudah mulai memahami karakter penduduk aslinya.
Orang Jerman terkenal di mata dunia sebagai orang yang dingin dan tidak suka bercanda, terutama mereka yang berdomisili di Jerman bagian utara. Ekspektasi ini yang saya bawa ketika saya pergi ke Jerman.
Namun setelah tiga tahun saya menetap, saya sering bertemu dengan orang-orang yang ramah, bahkan ketika saya berpapasan dengan orang asing di jalan, mereka justru menyapa saya terlebih dahulu.
Di Hamburg orang biasa mengucapkan 'moin!' yang biasanya digunakan ketika bertemu atau berpapasan dengan seseorang.
Selain itu ternyata mereka juga senang bercanda. Masalahnya adalah terkadang apa yang dianggap lucu oleh mereka, tidak lucu bagi yang bukan penduduk asli. Namun suasana hangat tetap tercipta ketika berkumpul bersama dengan teman-teman yang merupakan penduduk asli di sini.
Karena dulu saya sempat tinggal bersama dengan orang Jerman selama kurang lebih satu tahun untuk AuPair, saya banyak mengamati gaya hidup mereka. Salah satunya adalah menidurkan anak di luar rumah.
Ketika jam tidur siang, hostfamily saya biasa menidurkan anak bayinya di baby stroller dan menaruhnya di garasi atau ruangan yang digunakan untuk menyimpan alat perkakas. Tidak peduli jika di luar sedang bersalju maupun berangin.
Hal itu wajar dilakukan keluarga yang tinggal di kota kecil, karena mereka ingin membiasakan anak-anak mereka tidak bergantung pada orang tua.
Tentu saya terkejut ketika melihat hal itu untuk pertama kalinya. Bayangkan saja jika hal itu dilakukan di Indonesia, bisa-bisa setelah satu jam ditinggal di luar, yang tersisa hanya stroller kosong atau bayi tanpa stroller.
Selain itu kebiasaan mereka untuk tak berbasa-basi tentu sedikit mengejutkan bagi saya di mana saya tumbuh dikelilingi oleh lingkungan yang senang berbasa-basi.
Sempat saya pikir basa-basi tidak ada gunanya dalam berkomunikasi. Namun setelah mengalami perbedaannya, rasanya ada baiknya kita sedikit berbasa-basi untuk mencairkan suasana.
Natal dan Tahun Baru tanpa keluarga
Saya bersyukur meski jauh dari keluarga, namun saya tidak pernah merayakan Natal dan Tahun Baru seorang diri.
Saat masih tinggal dengan hostfamily, saya merayakan Natal bersama mereka. Berkumpul dengan mereka serta dianggap sebagai anggota keluarga sangat mengobati kerinduan saya pada kampung halaman.
Makan malam dan bertukar kado adalah kebiasaan yang mereka lakukan di malam Natal. Hidangan yang mereka sajikan biasanya adalah bebek panggang yang dimakan dengan kentang dan kol merah, tentunya dibarengi dengan wein sebagai minuman pendamping. Tidak lupa raspberry pudding sebagai hidangan penutup juga mereka sajikan.
Selain itu dengan adanya gereja Indonesia di tempat saya tinggal, membuat saya tidak kehilangan momen untuk beribadah dengan sesama umat Kristiani lainnya yang merantau di kota ini. Saya bersyukur masih dapat bersekutu dan sesekali melakukan kegiatan bersama mereka.
Ketika Natal tiba, di Jerman banyak ditemukan weihnachtsmarkt (pasar Natal), di mana banyak kedai-kedai yang menjual glühwein (minuman beralkohol khas Jerman yang dibuat dari anggur merah yang dipanaskan), maupun makanan tradisional lainnya seperti bratwurst (sosis khas Jerman).
Artikel Surat dari Rantau masih berlanjut ke halaman berikutnya...
[Gambas:Instagram]
Berteguh Hati dalam Kesendirian di Jerman
Pemandangan kota Hamburg di Jerman. (iStockphoto/bluejayphoto)
Kami biasa datang ke sana setelah selesai beribadah untuk mencicipi pilihan menu yang ada atau sekadar menikmati suasana Natal yang tidak dapat ditemukan di Indonesia.
Sebelum pandemi saya selalu menyempatkan waktu satu atau dua kali dalam seminggu untuk menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman dari gereja.
Biasanya setelah selesai PA (Pemahaman Alkitab) di hari Sabtu, kami pergi ke rumah salah satu teman kami untuk masak bersama. Tentunya makanan Indonesia lah yang kami masak demi melepas rindu akan kampung halaman.
Selain itu terkadang saya juga bertemu dengan teman-teman Jerman untuk sekadar jalan-jalan atau berolahraga. Namun hal yang paling saya sukai adalah acara BBQ di taman kota ketika musim panas.
Menurut saya, memiliki komunitas yang sehat di tanah rantauan sangat membantu sehingga kita tidak merasa kesepian. Saling bertukar kabar dengan keluarga di Indonesia pun adalah hal yang wajib untuk dilakukan.
Namun selama pandemi, saya tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Keinginan mengunjungi hostfamily untuk sekedar bersilaturahmi pun terhalang. Kegiatan gereja pun menjadi terbatas.
Mau tidak mau saya menghabiskan malam tahun baru kemarin seorang diri yang saya gunakan untuk merefleksikan apa yang terjadi di satu tahun kebelakang dan menghitung berkat yang saya dapat.
Puji Tuhan pergantian tahun kali ini meski dengan situasi yang ada, bisa saya jalani dengan sukacita.
Perantau dalam pandemi
Selama pandemi, pemerintah Jerman membagi kelompok penerimaan vaksin untuk diprioritaskan. Menurut Kementerian Kesehatan Federal Jerman kelompok pertama diperuntukkan untuk lansia berusia di atas 80 tahun, orang-orang yang hidup dengan perawatan khusus, pekerja di rumah lansia, dan tenaga medis.
Prioritas kedua diperuntukkan bagi lansia berusia di atas 70 tahun, penderita Down-Syndrom dan demensia, orang-orang dengan disabilitas, polisi, dan orang-orang yang bekerja untuk pengungsi.
Kelompok selanjutnya untuk lansia berusia di atas 60 tahun, penderita penyakit tertentu seperti HIV, diabetes, penyakit jantung, kanker, asma, dan lainnya. Selain itu pekerja administrasi dan badan konstitusional serta pengajar termasuk dalam kelompok ini.
Sampai detik ini tidak ada informasi yang mengatakan bahwa tidak disediakan vaksin bagi pendatang.
Mereka mengatakan bahwa, jika ketersediaan vaksin sudah memadai, semua orang yang ada di Jerman berhak untuk mendapatkan vaksin secara sukarela tanpa dipungut biaya.
Pelajaran hidup
Disiplin, terstruktur, dan tepat waktu, adalah pelajaran hidup yang bisa saya petik selama tinggal di Jerman. Selain itu kebiasaan mengemukakan pendapat tanpa takut salah juga saya pelajari selama tinggal di sini.
Bagi pembaca CNNIndonesia.com yang ingin merantau ke Jerman sebaiknya juga ikut menyiapkan mental selain kemampuan berbahasa Jerman.
Pasalnya, perbedaan budaya yang signifikan akan mempengaruhi kualitas hidup kita selama merantau, jika kita tidak memiliki mental yang kuat.
[Gambas:Instagram]
---
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, silakan hubungi [email protected]