Refleksi Setahun Pandemi dari Kacamata Sosiolog

tim, CNN Indonesia | Selasa, 23/03/2021 09:46 WIB
Selama setahun pandemi Covid-19, ada begitu banyak perubahan, tak hanya dari segi kesehatan tetapi juga ekonomi dan sosial budaya di masyarakat. Ilustrasi. Selama setahun pandemi Covid-19, ada begitu banyak perubahan, tak hanya dari segi kesehatan tetapi juga ekonomi dan sosial budaya di masyarakat. (iStockphoto/oonal)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 telah berusia setahun sejak kasus diumumkan Presiden Joko Widodo pada Maret tahun lalu. Selama setahun perjalanan bersama Covid-19, ada begitu banyak perubahan dirasakan, tak hanya dari segi kesehatan tetapi juga ekonomi dan sosial budaya di masyarakat.

Namun jika mau dirangkum, Daisy Indira Yasmine, sosiolog Universitas Indonesia mengatakan ada dua hal utama.

Pertama, kata Daisy, kita jadi bagian dari kultur digital. Ini jadi salah satu solusi masa pandemi sekaligus strategi beradaptasi dengan masa krisis. Kemudian yang kedua, ada perubahan dalam konteks bahwa pusat kegiatan dan kehidupan ada di rumah tangga dan keluarga.


"Keduanya jadi faktor penentu apa kita bisa adaptasi. Lalu berapa lama kita bisa beradaptasi? Kita sebenarnya makhluk yang memiliki mekanisme bertahan, binatang pun demikian," ujar Daisy dalam webinar bersama Frisian Flag, Senin (22/3).

Mekanisme adaptasi ini memungkinkan manusia bisa bertahan dalam perubahan situasi termasuk perubahan-perubahan yang terjadi di masa pandemi. Hanya saja, tiap orang memiliki cara dan tingkat adaptasi berbeda tergantung daya dukung yang tersedia.

- Motivasi: kita berubah, beradaptasi tergantung dari motivasi atau dorongan.
- Dukungan orang terdekat: dukungan dari teman, keluarga, komunitas pun cukup berpengaruh.
- Dukungan regulasi: berupa aturan pemerintah.
- Kemampuan untuk melakukan tindakan baru yang diharapkan: di situasi pandemi orang diharapkan mengenakan masker berarti orang harus mampu membeli dan memakai masker.
- Keuntungan yang didapatkan: orang berpikir keuntungan dari adaptasi ada atau tidak. Kalau ada yang orang yang tidak melihat ada keuntungan maka ia tidak patuh akan protokol kesehatan.
- Kontrol sosial: ini lebih berupa sanksi saat tidak melaksanakan perubahan yang diharapkan.

Melihat tuntutan adaptasi di tengah perubahan masa pandemi, akhirnya ada kelompok sosial yang lebih sulit beradaptasi. Daisy menjelaskan ada tiga kelompok sosial yang sulit beradaptasi, yakni:

  • Non-digital netizen, pandemi memaksa masyarakat untuk bertemu atau berkumpul secara virtual. Hal ini tentu menimbulkan stres terhadap kaum ini karena biasanya berjumpa langsung atau tatap muka.
  • Kaum muda yang masih mengedepankan nongkrong atau kumpul-kumpul.
  • Warga di pemukiman padat, ini dalam konteks menjaga jarak. Adaptasi sulit dilakukan apalagi di lingkungan belum ada yang terkena virus atau belum terdengar ada warga yang terpapar.

Adaptasi dengan pandemi berarti melaksanakan protokol kesehatan yang selama ini digaungkan di manapun. Badan Pusat Statistik (BPS) sempat melakukan survei kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan.

Menurut Daisy ini pun bisa jadi cerminan adaptasi masyarakat. Dari beberapa protokol kesehatan, rupanya BPS menemukan anjuran untuk menjaga jarak memiliki persentase terendah.

Dari laporan BPS, sebanyak 77,5 persen responden menerapkan jaga jarak minimal 1 meter. Padahal di protokol kesehatan yang lain memiliki presentasi lebih tinggi seperti, memakai masker (94,8 persen), mencuci tangan (80,1 persen), menghindari jabat tangan (87,2 persen), menghindari kerumunan (81,2 persen), menggunakan hand sanitizer (83,6 persen). Daisy mengakui, buat orang Indonesia jaga jarak fisik cukup sulit diimplementasikan.

"Faktornya itu banyak, jaga jarak berkaitan dengan berada dalam satu kerumunan. Budaya kita senangnya kumpul. Kita ada filosofi 'mangan ora mangan sing penting kumpul' (tidak makan tidak masalah yang penting berkumpul)," jelasnya.

"Kedua, misal, antre sesuatu. Enggak ada aturan jelas gimana kita antre di masa pandemi. Kan harus tetap jaga jarak, tapi ini enggak, takut kehilangan kesempatan nalurinya. Jadi dempet-dempet."

(els/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK