Studi: Kepergian Pasangan Meningkatkan Risiko Kematian

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 06:45 WIB
Studi menemukan, ditinggal pergi selamanya oleh pasangan hidup, seperti suami dan istri, bisa berdampak sangat buruk bagi kesehatan seseorang. Ilustrasi. Studi menemukan, ditinggal pergi selamanya oleh pasangan hidup, seperti suami dan istri, bisa berdampak sangat buruk bagi kesehatan seseorang. (cfredalford/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepergian pasangan hidup tentu bukan perkara mudah. Studi menemukan, ditinggal pergi selamanya oleh pasangan hidup bisa berdampak sangat buruk bagi kesehatan seseorang.

"Risiko kematian pada seseorang yang baru saja menjanda atau menduda akan meningkat," ujar peneliti sekaligus ahli sosiologi di Wisconsin University, Felix Elwert melansir CNN. Kondisi ini biasa dikenal dengan istilah 'widowhood effect'.

Risiko kematian akibat kehilangan pasangan hidup meningkat 30-90 persen dalam tiga bulan pertama setelah ditinggalkan. Kematian bisa disebabkan oleh berbagai penyebab.


Angka tersebut turun menjadi 15 persen pada bulan-bulan berikutnya. Widowhood effect telah terdokumentasikan terjadi pada orang di segala usia dan ras di seluruh dunia.

Elwert dan tim peneliti mengikutsertakan sebanyak 373.189 pasangan suami istri berusia tua di Amerika Serikat. Peneliti memantau ratusan ribu pasangan tersebut selama hampir 10 tahun.

Hasilnya, penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health menemukan bahwa risiko kematian meningkat setelah seseorang ditinggal pergi selamanya oleh pasangan.

Jika pasangan meninggal dunia secara mendadak, misalnya karena kecelakaan, maka risiko kematian yang dialami seseorang akan meningkat. Peningkatan risiko kematian yang sama juga terjadi pada seseorang yang ditinggal pergi pasangan akibat berbagai penyakit kronis seperti diabetes, kanker, dan lain-lain.

Namun, jika pasangan meninggal dunia karena penyakit Alzheimer atau Parkinson, maka tak ada dampak kesehatan signifikan yang dirasakan seseorang yang ditinggalkan. Peneliti menduga, seseorang yang hidup dengan pasangan Alzheimer atau Parkinson telah mempersiapkan diri untuk merasa kehilangan.

"Terlepas dari itu, kematian pasangan, untuk alasan apa pun, merupakan ancaman yang signifikan bagi kesehatan," tulis Elwert.

Faktanya, dunia medis juga mengenal istilah broken heart syndrome atau sindrom patah hati. Nama terakhir merupakan kondisi kardiomiopati yang terjadi akibat stres. Kardiomiopati sendiri merupakan kelainan pada otot jantung yang menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah.

Kondisi ini terjadi saat stres akut membuat jantung tiba-tiba terdesak. Ventrikel (bilik jantung) bagian kiri melemah dan tak bisa berfungsi dengan baik.

"Jantung benar-benar berubah bentuk sebagai respons tubuh terhadap gangguan emosi akut, seperti setelah putusnya hubungan romantis atau kepergian orang yang dicintai," ujar ahli jantung, Sandeep Jauhar.

Dalam kebanyakan kasus, saat stres emosional menghilang, jantung kembali pulih dan normal.

(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK