Memupuk Ikhlas Kala Ramadan dari Kacamata Psikologi

tim, CNN Indonesia | Senin, 19/04/2021 10:34 WIB
Psikolog mengajak untuk kembali ikhlas menjalani Ramadan yang masih di situasi pandemi Covid-19. Psikolog mengajak untuk kembali ikhlas menjalani Ramadan yang masih di situasi pandemi Covid-19. (br_ruy/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ramadan tahun lalu ada pengharapan bahwa tahun ini bakal bebas Covid-19. Kenyataannya, tahun ini Ramadan masih dilingkupi situasi pandemi Covid-19, bahkan pemerintah sudah ketok palu terkait larangan mudik.

Psikolog Irma Gustiana menuturkan kondisi seperti ini jadi semacam culture shock buat masyarakat Indonesia. Masyarakat biasa memiliki budaya untuk berkumpul, kini mau tak mau harus beradaptasi dengan kondisi yang berbeda.

"Di situasi Ramadan biasanya buka bersama, jadi enggak bisa, kemudian ada tradisi sahur on the road juga tidak dilakukan. Mudik juga enggak bisa. Open house terus jadi open HP. Jadi, tahun kedua ini kita perlu ikhlas," kata kata Irma dalam konferensi pers virtual bersama OVO, beberapa waktu lalu.


Dari sudut pandang psikologi, ikhlas bisa dilihat dari dua perspektif yakni transendensi dan personal. Transendensi, berkaitan dengan relasi vertikal atau relasi antara manusia dan Tuhan.

"Ya sudah, kita lepaskan tekanan [beban] ini lalu diserahkan pada Allah. Bahwa ini sudah jadi ujian dan cobaan, maka kita lakukan," katanya.

Sementara personal, berkaitan dengan ketulusan, inisiatif untuk melepaskan. Secara personal apa pun yang terjadi dimaknai secara positif.

Saat pandemi, lanjut Irma, terutama Ramadan saat ini banyak aktivitas masih bisa dilakukan meski berjarak dan musti secara virtual misalnya, sedekah, ibadah atau kajian.

Proses untuk menuju ikhlas pun tidak terjadi secara instan. Irma menerjemahkan proses ini lewat grieving theory atau teori kesedihan. Kenapa teori kesedihan? Dia berkata situasi pandemi lekat dengan rasa stres juga sedih saat harus berjuang dengan adaptasi.

- Shock, kita syok, kaget dengan situasi. Ini sangat dirasakan saat tahun pertama pandemi terutama saat Ramadan.

- Denial, menyangkal. Tahun lalu terbesit harapan bahwa Ramadan 2021 akan 'merdeka' dari pandemi, ternyata tahun ini belum bisa.

- Anger, timbul rasa marah karena ternyata situasi tidak sesuai dengan harapan. Ini sangat manusiawi.

- Bargaining, tawar-menawar. Ada upaya untuk 'fit in' dengan situasi semisal buka bersama dengan protokol kesehatan ketat, memilih lokasi outdoor, jumlah orang terbatas.

- Depression, depresi. Sudah berusaha beradaptasi tapi ternyata sulit mewujudkan rencana semula.

- Acceptance, penerimaan. Mulai menerima kenyataan bahwa ini tidak bisa dilakukan dan tidak bisa dipaksakan. Mudik belum bisa, kumpul dengan keluarga belum bisa sehingga ujung-ujungnya musti ikhlas.

"Di Ramadan ini kuncinya gimana kita mau bersabar. Tunda dulu untuk sesuatu yang lebih besar, lebih baik dan membahagiakan. Kita ikhlas, sabar dan syukuri," ujar Irma.

(mel/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK