Suka Cita Warga China Wisata Sejarah Partai Komunis
CNN Indonesia
Rabu, 28 Apr 2021 13:46 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Turis mengunjungi pameran 100 Tahun Partai Komunis China di Beijing, China. (REUTERS/THOMAS PETER)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pada peringatan 100 tahun Partai Komunis China, turis berbondong-bondong ke situs bersejarah untuk berziarah sekaligus berpesta.
Di jalan tempat tentara pernah berkeliaran, sekelompok pensiunan berseragam tentara berwarna biru pastel menyanyikan lagu-lagu yang sempat menjadi media propaganda.
Lokasi bersejarah di provinsi Jiangxi dan Guizhou - tempat pertempuran awal pemimpin Partai Komunis China Mao Zedong - mengalami gelombang kedatangan turis pada tahun ini setelah pandemi virus Corona mereda di negara itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Guizhou, pariwisata pada kuartal pertama 2021 telah pulih ke level 2019, kata pejabat setempat Lu Yongzheng. Provinsi tersebut, di antara destinasi wisata utama China, menerima jutaan turis yang mendatangkan keuntungan miliaran dolar.
Pada tur yang diselenggarakan pemerintah baru-baru ini, keturunan Tentara Merah Partai Komunis China menceritakan kisah-kisah leluhur mereka di Museum Peringatan Zunyi, yang menyimpan artefak dan hologram yang menggambarkan kejayaan Mao.
Kong Xia tumbuh dengan mendengarkan cerita tentang kesulitan dan kerja keras di kamp Mars Panjang yang sulit, sebuah retret militer di mana kakeknya, Kong Xianquan, berpartisipasi.
Dalam perjalanan epik, Komunis melalui beragam tantangan dan bahaya hingga akhirnya mendirikan ibu kota Perang Dunia II mereka di provinsi utara yang kering, Shaanxi, dari mana mereka akan berkembang dan akhirnya menang atas Nasionalis pada tahun 1949.
Kong Xia menggambarkan kehidupan kakeknya untuk mewariskan kisah awal Partai Komunis China yang disebutnya yang sederhana, terutama kepada generasi muda yang dia khawatirkan semakin kehilangan minat pada sejarah.
"Mereka harus memahami (sejarah) tetapi mungkin tidak tertarik," kata Kong. "Saya pikir penderitaan seperti ini akan menginspirasi kita untuk menghargai kehidupan kita yang bahagia dan damai hari ini dan melakukan pekerjaan kita dengan baik."
Pada 2016, Museum Zunyi meluncurkan pameran keliling dengan mengunjungi perguruan tinggi dan universitas di seluruh China. Dan untuk memacu minat pengunjung yang lebih muda, mereka melatih lebih dari 100 "kurator muda" di sekolah dasar atau menengah untuk memberi tahu sesama siswa tentang periode sejarah.
"Mereka mendapat tanggapan yang sangat baik terutama di antara pengunjung seusia mereka," kata wakil kurator museum, Zhang Xiaoling.
Kerumunan wisatawan juga terlihat di pegunungan Jinggangshan, Provinsi Jiangxi, yang dikenal sebagai "tempat lahir Revolusi China", tempat Mao bertempur di awal pertempuran bersama pasukan awalnya.
Peningkatan pariwisata sejarah Partai Komunis China juga didorong oleh kampanye yang diumumkan oleh Presiden Xi Jinping pada bulan Februari untuk mendidik 91 juta lebih anggota Partai Komunis tentang sejarah dan ideologinya.
Sesuai dengan kampanyenya, Bi Qiumei, yang berusia awal 70-an, mengatakan dia datang ke museum "untuk memberi penghormatan kepada para martir revolusioner dan Mao Zedong, dan untuk melihat bagaimana revolusi China berhasil." Dia telah menjadi anggota partai sejak 1983.
"Kami sangat senang," dia terkekeh, dengan teman-teman lama dan teman sekelas di belakangnya.
Desa-desa di sekitar situs bersejarah mengantisipasi masuknya wisatawan yang menandai momen 100 tahun itu.
Dikelilingi oleh pegunungan adalah Mayuan, desa indah yang berpenduduk lebih dari 1.000 orang. Bunga-bunga menghiasi jalan beton yang baru diaspal dengan deretan rumah tamu di daerah tempat pasukan Mao pernah berlatih untuk perang gerilya.
Program pengentasan kemiskinan pemerintah dan kedatangan wisatawan mendorong seorang warga desa, Xie Xiaomin, untuk kembali ke Mayuan untuk membangun wisma sendiri pada tahun 2017.
Sekarang, wisma ini memiliki lebih dari 30 kamar dengan 80 tempat tidur. Setiap kamar berharga sekitar US$15 (sekitar Rp217 ribu) per malam.
Desa itu sendiri, kata Xie, sekarang bisa menampung hingga 1.000 tamu.
"Saya sangat percaya diri tentang tahun ini" karena seratus tahun, kata Xie.
Kakek Xie, Yuan Wencai, membantu membangun basis revolusioner di desa dan bertempur dengan tentara Mao.
Foto kakeknya di masa mudanya dan neneknya yang berpose dengan Mao dan Jenderal revolusioner Zhu De menghiasi pintu masuk wisma.
Kisah-kisah pribadi seperti itu akan menjadi magnet kedatangan wisatawan di Mayuan.
"Saya akan bercerita selama mereka mau mendengarkan saya," kata Xie.
Acara sedang dijadwalkan dalam skala nasional untuk menandai 100 tahun Partai Komunis China, termasuk pameran, film, drama, konser, dan penghargaan untuk anggota partai yang sudah lama mengabdi.
Sebuah upacara juga akan digelar pada tanggal 1 Juli 2021, dengan pidato Presiden Xi Jinping.
Pada peringatan 100 tahun Partai Komunis China, turis berbondong-bondong ke situs bersejarah untuk berziarah sekaligus berpesta.
Di jalan tempat tentara pernah berkeliaran, sekelompok pensiunan berseragam tentara berwarna biru pastel menyanyikan lagu-lagu yang sempat menjadi media propaganda.
Lokasi bersejarah di provinsi Jiangxi dan Guizhou - tempat pertempuran awal pemimpin Partai Komunis China Mao Zedong - mengalami gelombang kedatangan turis pada tahun ini setelah pandemi virus Corona mereda di negara itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Guizhou, pariwisata pada kuartal pertama 2021 telah pulih ke level 2019, kata pejabat setempat Lu Yongzheng. Provinsi tersebut, di antara destinasi wisata utama China, menerima jutaan turis yang mendatangkan keuntungan miliaran dolar.
Pada tur yang diselenggarakan pemerintah baru-baru ini, keturunan Tentara Merah Partai Komunis China menceritakan kisah-kisah leluhur mereka di Museum Peringatan Zunyi, yang menyimpan artefak dan hologram yang menggambarkan kejayaan Mao.
Kong Xia tumbuh dengan mendengarkan cerita tentang kesulitan dan kerja keras di kamp Mars Panjang yang sulit, sebuah retret militer di mana kakeknya, Kong Xianquan, berpartisipasi.
Dalam perjalanan epik, Komunis melalui beragam tantangan dan bahaya hingga akhirnya mendirikan ibu kota Perang Dunia II mereka di provinsi utara yang kering, Shaanxi, dari mana mereka akan berkembang dan akhirnya menang atas Nasionalis pada tahun 1949.
Kong Xia menggambarkan kehidupan kakeknya untuk mewariskan kisah awal Partai Komunis China yang disebutnya yang sederhana, terutama kepada generasi muda yang dia khawatirkan semakin kehilangan minat pada sejarah.
"Mereka harus memahami (sejarah) tetapi mungkin tidak tertarik," kata Kong. "Saya pikir penderitaan seperti ini akan menginspirasi kita untuk menghargai kehidupan kita yang bahagia dan damai hari ini dan melakukan pekerjaan kita dengan baik."
Pada 2016, Museum Zunyi meluncurkan pameran keliling dengan mengunjungi perguruan tinggi dan universitas di seluruh China. Dan untuk memacu minat pengunjung yang lebih muda, mereka melatih lebih dari 100 "kurator muda" di sekolah dasar atau menengah untuk memberi tahu sesama siswa tentang periode sejarah.
"Mereka mendapat tanggapan yang sangat baik terutama di antara pengunjung seusia mereka," kata wakil kurator museum, Zhang Xiaoling.
Suka Cita Warga China Wisata Sejarah Partai Komunis
Turis mengunjungi pameran 100 Tahun Partai Komunis China di Beijing, China. (REUTERS/THOMAS PETER)
Kerumunan wisatawan juga terlihat di pegunungan Jinggangshan, Provinsi Jiangxi, yang dikenal sebagai "tempat lahir Revolusi China", tempat Mao bertempur di awal pertempuran bersama pasukan awalnya.
Peningkatan pariwisata sejarah Partai Komunis China juga didorong oleh kampanye yang diumumkan oleh Presiden Xi Jinping pada bulan Februari untuk mendidik 91 juta lebih anggota Partai Komunis tentang sejarah dan ideologinya.
Sesuai dengan kampanyenya, Bi Qiumei, yang berusia awal 70-an, mengatakan dia datang ke museum "untuk memberi penghormatan kepada para martir revolusioner dan Mao Zedong, dan untuk melihat bagaimana revolusi China berhasil." Dia telah menjadi anggota partai sejak 1983.
"Kami sangat senang," dia terkekeh, dengan teman-teman lama dan teman sekelas di belakangnya.
Desa-desa di sekitar situs bersejarah mengantisipasi masuknya wisatawan yang menandai momen 100 tahun itu.
Dikelilingi oleh pegunungan adalah Mayuan, desa indah yang berpenduduk lebih dari 1.000 orang. Bunga-bunga menghiasi jalan beton yang baru diaspal dengan deretan rumah tamu di daerah tempat pasukan Mao pernah berlatih untuk perang gerilya.
Program pengentasan kemiskinan pemerintah dan kedatangan wisatawan mendorong seorang warga desa, Xie Xiaomin, untuk kembali ke Mayuan untuk membangun wisma sendiri pada tahun 2017.
Sekarang, wisma ini memiliki lebih dari 30 kamar dengan 80 tempat tidur. Setiap kamar berharga sekitar US$15 (sekitar Rp217 ribu) per malam.
Desa itu sendiri, kata Xie, sekarang bisa menampung hingga 1.000 tamu.
"Saya sangat percaya diri tentang tahun ini" karena seratus tahun, kata Xie.
Kakek Xie, Yuan Wencai, membantu membangun basis revolusioner di desa dan bertempur dengan tentara Mao.
Foto kakeknya di masa mudanya dan neneknya yang berpose dengan Mao dan Jenderal revolusioner Zhu De menghiasi pintu masuk wisma.
Kisah-kisah pribadi seperti itu akan menjadi magnet kedatangan wisatawan di Mayuan.
"Saya akan bercerita selama mereka mau mendengarkan saya," kata Xie.
Acara sedang dijadwalkan dalam skala nasional untuk menandai 100 tahun Partai Komunis China, termasuk pameran, film, drama, konser, dan penghargaan untuk anggota partai yang sudah lama mengabdi.
Sebuah upacara juga akan digelar pada tanggal 1 Juli 2021, dengan pidato Presiden Xi Jinping.