Studi: Konsumsi Ikan Sarden Bantu Cegah Diabetes

Tim, CNN Indonesia | Senin, 10/05/2021 09:00 WIB
Studi terbaru menemukan, konsumsi ikan sarden secara berkala dapat membantu cegah diabetes tipe-2. Ilustrasi. Studi terbaru menemukan, konsumsi ikan sarden secara berkala dapat membantu cegah diabetes tipe-2. (iStockphoto/DeeNida)
Jakarta, CNN Indonesia --

Studi terbaru menemukan hubungan antara ikan sarden dan diabetes. Konsumsi ikan sarden secara berkala ditemukan dapat cegah diabetes.

Manfaat ikan sarden memang telah diketahui secara luas. Kadar lemak sehat yang tinggi membantu mengatur kadar kolesterol dan mencegah penyakit kardiovaskular.

Studi terbaru yang dipimpin oleh Diana Diaz Rizzolo dari Universitat Oberta de Catalunya menemukan, konsumsi sarden secara teratur membantu mencegah munculnya diabetes tipe-2. Nutrisi seperti taurin, omega-3, kalsium, dan vitamin D membantu melindungi tubuh dari ancaman diabetes.


"Sarden tak hanya terjangkau harganya dan mudah ditemukan, tapi juga aman dikonsumsi untuk menurunkan risiko diabetes tipe-2," tulis Diaz Rizollo, mengutip News Medical.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Nutrition tersebut melibatkan 12 pasien berusia 65 tahun ke atas yang didiagnosis prediabetes atau kadar gula darah antara 100-124 mg/dL.

Semua pasien menjalani pola makan yang tepat untuk mengurangi risiko diabetes. Namun, satu kelompok intervensi mendapatkan asupan tambahan berupa 200 gram sarden setiap minggu. Peserta disarankan untuk mengonsumsi sarden utuh, tanpa menghilangkan tulangnya, karena sangat kaya akan kalsium dan vitamin D.

Peneliti memantau pasien melalui kuesioner pada awal dan akhir penelitian selama rentang satu tahun. Konsumsi ikan sarden ditemukan dapat mencegah diabetes.

Pada kelompok non-intervensi, 27 persen ditemukan berisiko tinggi diabetes pada tahap awal. Satu tahun kemudian, 22 persen dari mereka ditemukan tetap berisiko tinggi terhadap diabetes.

Sementara pada kelompok intervensi (dengan tambahan asupan sarden), sebanyak 37 persen ditemukan berisiko tinggi diabetes pada tahap awal. Angka tersebut menurun menjadi hanya 8 persen di antaranya yang tetap berisiko tinggi diabetes pada tahap akhir penelitian di tahun kedua.

Perbaikan juga terlihat pada parameter biokimia penting lainnya, seperti penurunan indeks resistensi insulin, peningkatan kolesterol baik (HDL), peningkatan hormon yang mempercepat pemecahan glukosa, dan penurunan kadar trigliserida serta tekanan darah.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK