Studi WHO: Jam Kerja yang Panjang Berisiko Picu Kematian Dini

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 20/05/2021 15:41 WIB
Studi yang dilakukan WHO dan ILO menemukan, bekerja lebih dari 55 jam per minggu berisiko memicu kematian dini akibat stroke dan penyakit jantung. Ilustrasi. Studi yang dilakukan WHO dan ILO menemukan, bekerja lebih dari 55 jam per minggu berisiko memicu kematian dini akibat stroke dan penyakit jantung. (Istockphoto/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bekerja selama berjam-jam tak hanya menguras emosi dan fisik, tapi juga bisa meningkatkan risiko kematian. Hal itu ditemukan dalam laporan teranyar kerja sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Sedunia (ILO).

Studi yang telah menjalani proses peer-review ini diklaim sebagai analisis global pertama yang memantau dampak bekerja terlalu lama terhadap kesehatan.

Studi menemukan bahwa 488 juta orang di dunia bekerja dalam waktu yang panjang. Dalam hal ini, waktu yang panjang didefinisikan dengan bekerja selama 55 jam atau lebih per minggu.

Mengutip Huffington Post, studi mencatat bahwa orang yang bekerja dalam waktu lama memiliki risiko 35 persen lebih tinggi terkena stroke dan 17 persen lebih tinggi terkena penyakit jantung daripada mereka yang hanya bekerja 35-40 jam per minggu.


Pada tahun 2016, WHO dan ILO juga mencatat, jam kerja yang panjang menyebabkan sekitar 745.194 kematian akibat stroke dan penyakit jantung di dunia.

WHO memperingatkan bahwa saat ini dunia tengah berbondong-bondong menetapkan jam kerja yang panjang. Hal ini, sebut WHO, menempatkan lebih banyak orang terhadap risiko kesehatan dan kematian dini.

Tak hanya itu, WHO juga menyoroti dampak pandemi Covid-19, di mana para pekerja bekerja dalam waktu yang lebih lama akibat konsep work from home (WFH). Ditambah banyaknya pemutusan kerja akibat pandemi, yang membuat sumber daya manusia di sebuah perusahaan menjadi semakin sedikit, namun dengan beban kerja yang bertambah.

"Teleworking telah menjadi sesuatu yang wajar di banyak industri, namun sering kali mengaburkan batasan antara rumah dan pekerjaan. Selain itu, banyak bisnis terpaksa mengurangi atau menghentikan sumber daya manusianya untuk menghemat pengeluaran. Hal itu membuat orang-orang yang masih bekerja akan mendapatkan beban kerja yang lebih besar," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanon Ghebreyesus, dalam siaran pers.

Dengan hasil studi ini, WHO mengimbau pemerintah, pengusaha, dan para pekerja bekerja sama untuk membuat batasan demi melindungi keselamatan pekerja.

Jauh sebelum pandemi, para ahli kesehatan masyarakat telah menyuarakan risiko dari jam kerja yang terlalu lama. Kelelahan, misalnya, dikaitkan dengan risiko infensi serta berbagai masalah kronis lainnya. Kelelahan juga dapat menyebabkan masalah mental yang serius seperti depresi.

"Bekerja 55 jam atau lebih per minggu adalah bahaya kesehatan yang serius. Sudah waktunya kita semua, pemerintah, pengusaha, dan karyawan menyadari fakta mengenai jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kematian dini," tulis Direktur Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Kesehatan WHO, Maria Neira.

(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK