Gunung Masurai (Roby diery via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0))
Jakarta, CNN Indonesia --
Hari raya Idulfitri menjadi hari yang selalu dinantikan bagi seluruh umat Islam, tidak terkecuali warga Desa Tanjung Berugo, di Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.
Selain terkenal dengan kekayaan sumber daya alam dan objek wisatanya, Desa Tanjung Berugo juga memiliki tradisi yang sampai kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat, salah satunya ialah Kenduri Pusako.
Seorang tokoh masyarakat dari Desa Tanjung Berugo, M Isa menjelaskan, tradisi Kenduri Pusako terus dilestarikan oleh warga Tanjung Berugo dan dilaksanakan pada hari ketiga Lebaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenduri Pusako selalu dilaksanakan setiap Lebaran hari ketiga, kami seluruh warga desa berkumpul di rumah kepala dusun untuk sama-sama melaksanakan tradisi ini," kata Isa, seperti yang dikutip dari ANTARA pada Selasa (18/5).
Kenduri Pusako ialah penghormatan kepada para pendiri desa, yaitu kepada Nenek Rio Jemenang dan Nenek Rio Jago Karti. Berdasarkan informasi yang dihimpun Isa, mereka berasal dari Tanah Jawa.
"Pusako" yang dimaksud adalah peninggalan mereka berupa dua helai kain yang disebut "Dita".
"Ya seperti sorban, kami menyebutkanya Dita," kata Isa.
Pada Kenduri Pusako inilah Dita akan diperlihatkan kepada seluruh masyarakat Desa Tanjung Berugo.
Kemudian para nenek mamak Desa Tanjung Berugo akan membacakan "Perago" atau sejarah Pusako ini di hadapan seluruh warga.
Setelah itu, seluruh warga desa bersama-sama mendoakan kedua pendiri desa ini, sekaligus berdoa untuk kesehatan dan keselamatan seluruh warga desa.
"Kami berdoa bersama untuk almarhum semoga yang Maha Kuasa memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Banyak juga yang membayar nazar saat Kenduri Pusako, misalnya kemarin ada anak yang sakit, lalu kalau sehat akan nazar saat Kenduri Pusako. Dan Itu mereka lakukan saat Kenduri Pusako, misalnya dengan kasih ayam buat warga makan bersama-sama saat Kenduri Pusako," katanya.
Isa menambahkan, Kenduri Pusako tidak bisa disepelekan dan ditinggalkan begitu saja oleh warga desa. Sebagai warisan leluhur, Pusako ini harus dijaga dengan baik.
Saat ini Pusako disimpan dengan baik di rumah Kepala Dusun dan tidak boleh sembarang orang memegangnya.
Pusako atau Dita sendiri diprediksi sudah berumur 400 tahun lebih.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Gunung Masurai
Desa Tanjung Berugo terletak di kawasan kaki Gunung Masurai Kabupaten Merangin. Desa ini dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat melalui jalan Poros Siau-Jangkat.
Untuk menuju Tanjung Berugo dari Kota Bangko - ibu kota Kabupaten Merangin - jarak tempuh yang dilalui lebih kurang 80 km atau lebih kurang 3 jam perjalanan dengan roda dua maupun roda empat.
Desa Tanjung Berugo terletak sebelum wilayah Jangkat, dari Jangkat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan.
Dari jalan poros Siau-Jangkat, Desa Tanjung Berugo lebih masuk ke dalam sekitar 5 km dari jalan lintas.
Sepanjang perjalanan menuju desa ini, mata akan disuguhkan pemandangan yang indah. Terhampar perkebunan kopi dan kayu manis milik warga setempat, berikut suara gemercik air terjun.
Desa Tanjung Berugo memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Mata pencaharian masyarakat desa berasal dari hasil perkebunan kopi robusta dan kayu manis.
Desa ini dianugerahi kontur geografis yang indah, dari halaman rumah warga akan langsung terlihat puncak Gunung Masurai menambah keindahan desa yang beriklim dingin ini.
Bukan saja kaya dengan hasil perkebunannya, objek wisata desa Tanjung Berugo juga mengagumkan.
Dari desa yang kini sudah memiliki akses jalan aspal dan listrik ini juga memiliki beberapa aset wisata yang saat ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat dan Pokdarwis Desa Tanjung Berugo.
Lokasi itu adalah Air Terjun Batas Ikan yang terletak tepat di bawah kaki Gunung Masurai, Air Terjun Goa Kambing, Air terjun Pancuran Gading, Danau Merah, Danau Kumbang, hingga Danau Kering.
Para pendaki gunung juga bisa mendaki Gunung Masurai via Desa Tanjung Berugo yang akan dipandu dengan Pokdarwis Tanjung Berugo.
Desa ini memiliki warga yang terkenal dengan keramahannya, jangan khawatir jika berwisata ke desa ini tentu akan disambut ramah oleh semua warga.
Budaya gotong royong dan kekeluargaan antarwarga juga masih kuat, sehingga memberi kehangatan bagi siapa saja yang datang ke desa ini.
Saat momen Lebaran warga desa selalu antusias meramaikan momen hari raya umat Islam itu dengan berbagai perlombaa. Di tahun ini ada lomba wisata, berupa ajang fotografi objek wisata yang ada di desa ini.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hari raya Idulfitri menjadi hari yang selalu dinantikan bagi seluruh umat Islam, tidak terkecuali warga Desa Tanjung Berugo, di Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.
Selain terkenal dengan kekayaan sumber daya alam dan objek wisatanya, Desa Tanjung Berugo juga memiliki tradisi yang sampai kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat, salah satunya ialah Kenduri Pusako.
Seorang tokoh masyarakat dari Desa Tanjung Berugo, M Isa menjelaskan, tradisi Kenduri Pusako terus dilestarikan oleh warga Tanjung Berugo dan dilaksanakan pada hari ketiga Lebaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenduri Pusako selalu dilaksanakan setiap Lebaran hari ketiga, kami seluruh warga desa berkumpul di rumah kepala dusun untuk sama-sama melaksanakan tradisi ini," kata Isa, seperti yang dikutip dari ANTARA pada Selasa (18/5).
Kenduri Pusako ialah penghormatan kepada para pendiri desa, yaitu kepada Nenek Rio Jemenang dan Nenek Rio Jago Karti. Berdasarkan informasi yang dihimpun Isa, mereka berasal dari Tanah Jawa.
"Pusako" yang dimaksud adalah peninggalan mereka berupa dua helai kain yang disebut "Dita".
"Ya seperti sorban, kami menyebutkanya Dita," kata Isa.
Pada Kenduri Pusako inilah Dita akan diperlihatkan kepada seluruh masyarakat Desa Tanjung Berugo.
Kemudian para nenek mamak Desa Tanjung Berugo akan membacakan "Perago" atau sejarah Pusako ini di hadapan seluruh warga.
Setelah itu, seluruh warga desa bersama-sama mendoakan kedua pendiri desa ini, sekaligus berdoa untuk kesehatan dan keselamatan seluruh warga desa.
"Kami berdoa bersama untuk almarhum semoga yang Maha Kuasa memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Banyak juga yang membayar nazar saat Kenduri Pusako, misalnya kemarin ada anak yang sakit, lalu kalau sehat akan nazar saat Kenduri Pusako. Dan Itu mereka lakukan saat Kenduri Pusako, misalnya dengan kasih ayam buat warga makan bersama-sama saat Kenduri Pusako," katanya.
Isa menambahkan, Kenduri Pusako tidak bisa disepelekan dan ditinggalkan begitu saja oleh warga desa. Sebagai warisan leluhur, Pusako ini harus dijaga dengan baik.
Saat ini Pusako disimpan dengan baik di rumah Kepala Dusun dan tidak boleh sembarang orang memegangnya.
Pusako atau Dita sendiri diprediksi sudah berumur 400 tahun lebih.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Lebaran bersama 'Dita' di Kaki Gunung Masurai
Gunung Masurai (Roby diery via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0))
Gunung Masurai
Desa Tanjung Berugo terletak di kawasan kaki Gunung Masurai Kabupaten Merangin. Desa ini dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat melalui jalan Poros Siau-Jangkat.
Untuk menuju Tanjung Berugo dari Kota Bangko - ibu kota Kabupaten Merangin - jarak tempuh yang dilalui lebih kurang 80 km atau lebih kurang 3 jam perjalanan dengan roda dua maupun roda empat.
Desa Tanjung Berugo terletak sebelum wilayah Jangkat, dari Jangkat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan.
Dari jalan poros Siau-Jangkat, Desa Tanjung Berugo lebih masuk ke dalam sekitar 5 km dari jalan lintas.
Sepanjang perjalanan menuju desa ini, mata akan disuguhkan pemandangan yang indah. Terhampar perkebunan kopi dan kayu manis milik warga setempat, berikut suara gemercik air terjun.
Desa Tanjung Berugo memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Mata pencaharian masyarakat desa berasal dari hasil perkebunan kopi robusta dan kayu manis.
Desa ini dianugerahi kontur geografis yang indah, dari halaman rumah warga akan langsung terlihat puncak Gunung Masurai menambah keindahan desa yang beriklim dingin ini.
Bukan saja kaya dengan hasil perkebunannya, objek wisata desa Tanjung Berugo juga mengagumkan.
Dari desa yang kini sudah memiliki akses jalan aspal dan listrik ini juga memiliki beberapa aset wisata yang saat ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat dan Pokdarwis Desa Tanjung Berugo.
Lokasi itu adalah Air Terjun Batas Ikan yang terletak tepat di bawah kaki Gunung Masurai, Air Terjun Goa Kambing, Air terjun Pancuran Gading, Danau Merah, Danau Kumbang, hingga Danau Kering.
Para pendaki gunung juga bisa mendaki Gunung Masurai via Desa Tanjung Berugo yang akan dipandu dengan Pokdarwis Tanjung Berugo.
Desa ini memiliki warga yang terkenal dengan keramahannya, jangan khawatir jika berwisata ke desa ini tentu akan disambut ramah oleh semua warga.
Budaya gotong royong dan kekeluargaan antarwarga juga masih kuat, sehingga memberi kehangatan bagi siapa saja yang datang ke desa ini.
Saat momen Lebaran warga desa selalu antusias meramaikan momen hari raya umat Islam itu dengan berbagai perlombaa. Di tahun ini ada lomba wisata, berupa ajang fotografi objek wisata yang ada di desa ini.