Perempuan Inggris Alami Reaksi Alergi Akibat Pekerjaan
CNN Indonesia
Jumat, 28 Mei 2021 06:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Perempuan asal Inggris mengalami reaksi alergi hampir sepanjang tahun akibat stres yang dipicu oleh pekerjaan yang terlalu berat. (iStockphoto/-aniaostudio-)
Jakarta, CNN Indonesia --
Alergibiasanya dipicu oleh udara, makanantertentu, atau berbagai jenis alergen seperti serbuk sari, debu, dan bulu hewan. Namun, siapa sangka jika pekerjaanyang terlalu berat juga bisa memicu reaksi alergi?
Adalah Caitlin Taylor (30), seorang wanita asal Inggris, yang mengalami reaksi alergi dalam waktu lama akibat pekerjaannya.
Caitlin mengalami gatal-gatal di seluruh tubuh. Bentol dengan rona kemerahan muncul di mana-mana, bahkan hingga menutupi tubuhnya.
"Itu benar-benar menakutkan. Saya terbangun dengan tubuh yang tertutup oleh bentol-bentol ini, saya juga tak bisa bernapas dengan baik," ujar Caitlin, mengutip Metro UK.
Sehari-hari Caitlin bekerja sebagai seorang bankir. Caitlin dikenal sebagai seorang pekerja keras. Dia bekerja dari pukul 7 pagi hingga 10 malam.
Perlahan, Caitlin menyadari ada yang salah di tubuhnya. Dia mengalami alergi yang parah selama hampir satu tahun.
Tak ayal, hal itu membuat Caitlin stres dan tak percaya diri. Namun, kondisi itu justru semakin parah.
"Jika saya mengusap kepala, saya bisa merasakan seperti ada bekas luka besar. Rasanya gatal, sakit jika disentuh," kata Caitlin.
Dokter melakukan berbagai pemeriksaan. Caitlin sempat dicurigai mengidap kanker, namun tak terbukti.
Dokter lain menyebut apa yang dialami Caitlin sebagai reaksi alergi. Caitlin pun diberikan obat antihistamin. Namun, pemberian obat tak memberikan hasil. Caitlin pun terus bertambah stres.
"Ini membuat saya benar-benar stres. Saya menyadari, semakin stres, semakin buruk gejala yang sama alami," ujar Caitlin.
Baru setelah dirawat di rumah sakit selama tiga minggu, dokter mendiagnosis Caitlin mengalami reaksi alergi ekstrem terhadap stres yang disebabkan oleh tekanan pekerjaan yang terlalu tinggi.
Belum diketahui secara pasti apa yang membuat stres bisa memicu reaksi alergi. Namun, para ilmuwan percaya bahwa hal ini disebabkan peningkatan aktivitas sistem kekebalan tubuh saat stres.
Reaksi alergi terjadi saat tubuh terpapar alergen, yaitu unsur yang dianggap berbahaya oleh sistem kekebalan tubuh. Hormon stres dianggap dapat meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh.
"Stres dapat memperburuk respons alergi. Kami tidak tahu persis mengapa [stres memicu reaksi alergi], tapi kami pikir hormon stres dapat meningkatkan sistem kekebalan yang sudah berlebihan terhadap alergen," ujar ahli THT, Ahmad Sedaghat, mengutip laman Harvard Health Publishing.
Dengan kata lain, jika Anda mengalami stres karena apa pun, Anda berisiko mengalami gejala reaksi alergi yang semakin memburuk.
Hal ini juga ditemukan dalam sejumlah studi, yang menemukan bahwa stres dan kecemasan bisa memperburuk gejala reaksi alergi. Sebuah studi pada tahun 2013 yang diterbitkan dalam Journal of Annals of Allergy, Asthma, and Immunology menemukan, orang yang mengalami stres berkepanjangan cenderung memiliki frekuensi serangan alergi yang lebih tinggi.
"Saat seseorang stres, semua jenis kondisi alergi bisa jadi lebih buruk. Gejala pada hidung bisa lebih buruk. Jika seseorang rentan terhadap gatal-gatal atau ruam kulit, itu juga bisa menjadi lebih buruk," ujar ahli kesehatan, Purvi Parikh, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengutip Very Well Mind.
Tak hanya itu, bentuk gejala alergi seperti ruam atau biduran juga dikenal sebagai salah satu gejala stres. Mengutip Healthline, pada beberapa kasus stres, seseorang akan mengembangkan gejala biduran.
Biduran kronis sendiri disebabkan oleh respons sistem kekebalan yang berlebih, dimana salah satunya dipicu oleh stres.
Jakarta, CNN Indonesia --
Alergibiasanya dipicu oleh udara, makanantertentu, atau berbagai jenis alergen seperti serbuk sari, debu, dan bulu hewan. Namun, siapa sangka jika pekerjaanyang terlalu berat juga bisa memicu reaksi alergi?
Adalah Caitlin Taylor (30), seorang wanita asal Inggris, yang mengalami reaksi alergi dalam waktu lama akibat pekerjaannya.
Caitlin mengalami gatal-gatal di seluruh tubuh. Bentol dengan rona kemerahan muncul di mana-mana, bahkan hingga menutupi tubuhnya.
"Itu benar-benar menakutkan. Saya terbangun dengan tubuh yang tertutup oleh bentol-bentol ini, saya juga tak bisa bernapas dengan baik," ujar Caitlin, mengutip Metro UK.
Sehari-hari Caitlin bekerja sebagai seorang bankir. Caitlin dikenal sebagai seorang pekerja keras. Dia bekerja dari pukul 7 pagi hingga 10 malam.
Perlahan, Caitlin menyadari ada yang salah di tubuhnya. Dia mengalami alergi yang parah selama hampir satu tahun.
Tak ayal, hal itu membuat Caitlin stres dan tak percaya diri. Namun, kondisi itu justru semakin parah.
"Jika saya mengusap kepala, saya bisa merasakan seperti ada bekas luka besar. Rasanya gatal, sakit jika disentuh," kata Caitlin.
Dokter melakukan berbagai pemeriksaan. Caitlin sempat dicurigai mengidap kanker, namun tak terbukti.
Dokter lain menyebut apa yang dialami Caitlin sebagai reaksi alergi. Caitlin pun diberikan obat antihistamin. Namun, pemberian obat tak memberikan hasil. Caitlin pun terus bertambah stres.
"Ini membuat saya benar-benar stres. Saya menyadari, semakin stres, semakin buruk gejala yang sama alami," ujar Caitlin.
Baru setelah dirawat di rumah sakit selama tiga minggu, dokter mendiagnosis Caitlin mengalami reaksi alergi ekstrem terhadap stres yang disebabkan oleh tekanan pekerjaan yang terlalu tinggi.
Stres Picu Reaksi Alergi, Apakah Bisa?
Ilustrasi. Stres diketahui bisa memperburuk gejala reaksi alergi. (iStockphoto/triocean)
Belum diketahui secara pasti apa yang membuat stres bisa memicu reaksi alergi. Namun, para ilmuwan percaya bahwa hal ini disebabkan peningkatan aktivitas sistem kekebalan tubuh saat stres.
Reaksi alergi terjadi saat tubuh terpapar alergen, yaitu unsur yang dianggap berbahaya oleh sistem kekebalan tubuh. Hormon stres dianggap dapat meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh.
"Stres dapat memperburuk respons alergi. Kami tidak tahu persis mengapa [stres memicu reaksi alergi], tapi kami pikir hormon stres dapat meningkatkan sistem kekebalan yang sudah berlebihan terhadap alergen," ujar ahli THT, Ahmad Sedaghat, mengutip laman Harvard Health Publishing.
Dengan kata lain, jika Anda mengalami stres karena apa pun, Anda berisiko mengalami gejala reaksi alergi yang semakin memburuk.
Hal ini juga ditemukan dalam sejumlah studi, yang menemukan bahwa stres dan kecemasan bisa memperburuk gejala reaksi alergi. Sebuah studi pada tahun 2013 yang diterbitkan dalam Journal of Annals of Allergy, Asthma, and Immunology menemukan, orang yang mengalami stres berkepanjangan cenderung memiliki frekuensi serangan alergi yang lebih tinggi.
"Saat seseorang stres, semua jenis kondisi alergi bisa jadi lebih buruk. Gejala pada hidung bisa lebih buruk. Jika seseorang rentan terhadap gatal-gatal atau ruam kulit, itu juga bisa menjadi lebih buruk," ujar ahli kesehatan, Purvi Parikh, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengutip Very Well Mind.
Tak hanya itu, bentuk gejala alergi seperti ruam atau biduran juga dikenal sebagai salah satu gejala stres. Mengutip Healthline, pada beberapa kasus stres, seseorang akan mengembangkan gejala biduran.
Biduran kronis sendiri disebabkan oleh respons sistem kekebalan yang berlebih, dimana salah satunya dipicu oleh stres.