HARI MEDIA SOSIAL

Momen Refleksi Jadi Netizen yang Bijak dan Beretika

tim, CNN Indonesia | Kamis, 10/06/2021 16:44 WIB
Selain bijak mengunggah konten, semua pengguna media sosial atau netizen juga diharapkan bijak untuk menyampaikan komentar dan tulisannya di media sosial. Selain bijak mengunggah konten, semua pengguna media sosial atau netizen juga diharapkan bijak untuk menyampaikan komentar dan tulisannya di media sosial. (LoboStudioHamburg/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setiap tanggal 10 Juni diperingati sebagai Hari Media Sosial. Hari ini dirayakan sebagai bentuk refleksi penggunaan media sosial.

Selain bijak mengunggah konten, semua pengguna media sosial atau netizen juga diharapkan bijak untuk menyampaikan komentar dan tulisannya di media sosial. Tak dimungkiri saat ini ada banyak kasus yang terjadi lantaran komentar pedas, kasar, dan nyinyir yang dituliskan netizen di media sosial.

Jika dulu ada pepatah 'mulut mu harimau mu', maka kini muncul istilah 'jari mu harimau mu.'


Menyampaikan pendapat dan komentar sah-sah saja, tapi yang harus diingat, ada etika yang harus dijaga.

Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, Yosi Mokalu, mengenai mengapa tidak boleh berkata kasar di media sosial. Jawaban paling sederhana, menurut Yosi, adalah karena kita bangsa yang berbudaya.

"Salah satu buktinya adalah etika yang kita bentuk dalam komunikasi kita. Idealnya etika yang berlaku secara offline, tidak banyak berubah secara online," kata Yosi dikutip dari Antara.

Ketika komunikasi berpindah ke ruang digital akibat pandemi Covid-19, etika tidak serta-merta ikut bermigrasi dan beradaptasi. Yosi mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya adalah banyaknya kegiatan yang terlalu cepat pindah ke dunia maya.

"Etika terbentuk karena kesepakatan bersama, tappi, ketika banyak aktivitas beralih secara cepat ke ranah online, etikanya tidak serta-merta cepat menyesuaikan," kata Yosi.

Beberapa orang menyitir kebebasan berekspresi sebagai alasan mereka mengutarakan pendapat sekalipun dengan kata-kata yang kasar.

Ketika semua orang merasa bebas mengutarakan pendapat, orang tidak lagi belajar saling menghormati, saling menghargai satu sama lain. Jika ditarik lebih jauh, menurut Yosi, bisa berdampak pada rasa kebersamaan sebagai satu bangsa.

Sama seperti berbicara atau berkomunikasi tatap muka, semua pengguna media sosial juga harus punya kepedulian yang tinggi, termasuk peduli pada perasaan orang lain.

"Kesopanan, saling menghormati atau menghargai saat tatap muka juga diterapkan online," katanya.

"Penting untuk kembali mengingatkan tentang indahnya beretika dalam kehidupan kita, termasuk secara online, yaitu di media sosial kita," kata Yosi.

Kebebasan berekspresi diatur dalam konvensi International Covenant on Civil and Political Rights, bahwa kebebasan tidak berarti sama sekali tanpa aturan, namun, harus menghargai orang lain.

(chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK