Survei CNN Indonesia: 86,2 Persen Orang Pilih Makan di Rumah
CNN Indonesia
Rabu, 28 Jul 2021 10:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Dalam jajak pendapat yang dilakukan CNNIndonesia.com soal makan di tempat selama 20 menit, sekitar 86,8 persen dari 592 responden lebih pilih makan di rumah. (iStockphoto/Weedezign)
Jakarta, CNN Indonesia --
Aturan makan di tempat selama kurang lebih 20 menit yang dikeluarkan pemerintah di masa perpanjangan PPKM level 4 menimbulkan pro dan kontra.
Aturan ini dianggap tak bisa diterapkan, bukan hanya dilihat dari sisi kemudahan, efektivitasnya dalam menekan laju penyebaran covid-19 di masa PPKM ini juga dipertanyakan.
CNNIndonesia.com melakukan jajak pendapat melalui media sosial terkait makan di tempat selama 20 menit ini. Dari hasil jajak pendapat itu sebanyak 86,8 persen dari 592 pengguna twitter yang ikut berpartisipasi menyatakan lebih memilih makan di rumah. Sementara sisanya sekitar 13,2 persen responden memilih ingin makan di luar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya anggep aja klo warteg buka, itu buat yg lg kerja serabutan keluar rumah. Skg kondisinya maju kena mundur kena. Saya sendiri pilih makan di rumah, " tulis akun @DasDarmans.
"20 menit???? Mending mesen dari rumah walau bisa nunggu 20 menit tapi bisa ngapain ajalah...." tulis akun @RafiAufa7.
Jadi mana yang lebih baik, tetap makan di rumah atau memaksimalkan waktu 20 menit untuk sekadar melepas rindu makan di luar rumah?
Terlepas dari aturan baru yang dikeluarkan pemerintah yang mengizinkan makan di warteg atau di luar rumah selama 20 menit, lebih banyak orang yang tetap memilih anjuran stay at home dan juga makan di rumah dengan metode delivery ataupun take away di tengah infeksi virus corona saat ini.
Epidemiolog dari Universitas Indonesia Hermawan Saputra mengungkapkan aturan makan 20 menit di tempat benar-benar tak cocok diterapkan dalam penanganan pandemi yang masih meningkat akhir-akhir ini.
"Sulit membayangkan bagaimana penegakannya di lapangan. Dan memang lebih cocok sebenarnya ditake away saja," kata Hermawan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (27/7).
Alih-alih makan di tempat selama 20 menit, Hermawan memandang sistem take away atau dibawa pulang dan menyantap makanan di rumah sendiri jauh lebih baik ketimbang makan terburu-buru di luar rumah, belum lagi diikuti dengan risiko dengan potensi terpapar Covid-19 yang jauh lebih tinggi.
Tak hanya itu, Hermawan juga menandang waktu makan 20 menit di resto dari yang sebelumnya tak diizinkan sama sekali berpotensi membuka celah penularan baru. Padahal, kasus Covid-19 sudah mulai melandai akhir-akhir ini.
"Setiap ada peraturan yang ketat diikuti pelonggaran. Di saat itulah transmisi kasus kembali naik dan menanjak. Jadi memang PPKM ini tidak memutus mata rantai tapi melandaikan sementara," kata dia.
Hal sama juga dikatakan Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman. Dia bahkan menekankan agar tak ada pembukaan warung makan dengan sistem 20 menit makan di tempat.
Akan lebih baik selama pengetatan berlangsung seluruhnya hanya menerapkan sistem makanan dibawa pulang, baik itu warung makan besar maupun kecil.
"Sebetulnya, baiknya ya makanan dibawa saja, dibungkus. Karena ini tidak bisa disamaratakan. Mungkin untuk rumah makan yang besar sirkulasi bagus, bisa diatur, tapi ya kan kebanyakan tempat makan ya indoor, ya berisiko," kata dia.
Dia menambahkan, jangka waktu 20 menit adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menginfeksi orang-orang. Kondisinya adalah ada beberapa orang lain yang tak dikenal makan bersama, dan pastinya ketika makan, masker pun harus dilepas.
"Ya tidak mesti 20 menit. Bahkan kurang dari satu menit (bisa tertular). Pesan pentingnya ya lebih baik take away dan masalahnya sekarang ini masih banyak orang yang belum vaksin dan tinggi potensi paparannya," kata dia.
Foto: Ali Inay Ilustrasi makan di restoran
Senada dengan keduanya, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan juga menyarankan untuk take away atau delivery dan makan di rumah ketimbang makan di luar maksimal 20 menit.
Resiko penularan dalam kurun waktu 20 menit menurut Ede adalah waktu yang cukup untuk varian-varian Corona masuk ke dalam tubuh manusia. Kata dia, makan di tempat meski hanya 20 menit beresiko tinggi bagi masyarakat, bahkan bukan lagi kontak erat, tetapi kontak sangat erat.
"(Waktu) 20 menit jadinya apa? kontak lebih eratkan. Nah dengan sebagian besar sekarang penularan kasus varian delta, berarti risiko lebih tinggi," kata dia.
Jika memang ingin memberi kelonggaran pada para pedagang, izin buka usaha saja yang cukup diberikan, namun makan tetap harus dibawa pulang.
"Itu akan lebih baik, boleh berjualan namun risiko penularan diminimalkan, semaksimal mungkin. Jadi ya take away saja," kata dia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Aturan makan di tempat selama kurang lebih 20 menit yang dikeluarkan pemerintah di masa perpanjangan PPKM level 4 menimbulkan pro dan kontra.
Aturan ini dianggap tak bisa diterapkan, bukan hanya dilihat dari sisi kemudahan, efektivitasnya dalam menekan laju penyebaran covid-19 di masa PPKM ini juga dipertanyakan.
CNNIndonesia.com melakukan jajak pendapat melalui media sosial terkait makan di tempat selama 20 menit ini. Dari hasil jajak pendapat itu sebanyak 86,8 persen dari 592 pengguna twitter yang ikut berpartisipasi menyatakan lebih memilih makan di rumah. Sementara sisanya sekitar 13,2 persen responden memilih ingin makan di luar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya anggep aja klo warteg buka, itu buat yg lg kerja serabutan keluar rumah. Skg kondisinya maju kena mundur kena. Saya sendiri pilih makan di rumah, " tulis akun @DasDarmans.
"20 menit???? Mending mesen dari rumah walau bisa nunggu 20 menit tapi bisa ngapain ajalah...." tulis akun @RafiAufa7.
Jadi mana yang lebih baik, tetap makan di rumah atau memaksimalkan waktu 20 menit untuk sekadar melepas rindu makan di luar rumah?
Terlepas dari aturan baru yang dikeluarkan pemerintah yang mengizinkan makan di warteg atau di luar rumah selama 20 menit, lebih banyak orang yang tetap memilih anjuran stay at home dan juga makan di rumah dengan metode delivery ataupun take away di tengah infeksi virus corona saat ini.
Epidemiolog dari Universitas Indonesia Hermawan Saputra mengungkapkan aturan makan 20 menit di tempat benar-benar tak cocok diterapkan dalam penanganan pandemi yang masih meningkat akhir-akhir ini.
"Sulit membayangkan bagaimana penegakannya di lapangan. Dan memang lebih cocok sebenarnya ditake away saja," kata Hermawan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (27/7).
Alih-alih makan di tempat selama 20 menit, Hermawan memandang sistem take away atau dibawa pulang dan menyantap makanan di rumah sendiri jauh lebih baik ketimbang makan terburu-buru di luar rumah, belum lagi diikuti dengan risiko dengan potensi terpapar Covid-19 yang jauh lebih tinggi.
Tak hanya itu, Hermawan juga menandang waktu makan 20 menit di resto dari yang sebelumnya tak diizinkan sama sekali berpotensi membuka celah penularan baru. Padahal, kasus Covid-19 sudah mulai melandai akhir-akhir ini.
"Setiap ada peraturan yang ketat diikuti pelonggaran. Di saat itulah transmisi kasus kembali naik dan menanjak. Jadi memang PPKM ini tidak memutus mata rantai tapi melandaikan sementara," kata dia.
Yang Bisa Terjadi Selama 20 Menit
Foto: iStockphoto/Weedezign
Hal sama juga dikatakan Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman. Dia bahkan menekankan agar tak ada pembukaan warung makan dengan sistem 20 menit makan di tempat.
Akan lebih baik selama pengetatan berlangsung seluruhnya hanya menerapkan sistem makanan dibawa pulang, baik itu warung makan besar maupun kecil.
"Sebetulnya, baiknya ya makanan dibawa saja, dibungkus. Karena ini tidak bisa disamaratakan. Mungkin untuk rumah makan yang besar sirkulasi bagus, bisa diatur, tapi ya kan kebanyakan tempat makan ya indoor, ya berisiko," kata dia.
Dia menambahkan, jangka waktu 20 menit adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menginfeksi orang-orang. Kondisinya adalah ada beberapa orang lain yang tak dikenal makan bersama, dan pastinya ketika makan, masker pun harus dilepas.
"Ya tidak mesti 20 menit. Bahkan kurang dari satu menit (bisa tertular). Pesan pentingnya ya lebih baik take away dan masalahnya sekarang ini masih banyak orang yang belum vaksin dan tinggi potensi paparannya," kata dia.
Foto: Ali Inay Ilustrasi makan di restoran
Senada dengan keduanya, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan juga menyarankan untuk take away atau delivery dan makan di rumah ketimbang makan di luar maksimal 20 menit.
Resiko penularan dalam kurun waktu 20 menit menurut Ede adalah waktu yang cukup untuk varian-varian Corona masuk ke dalam tubuh manusia. Kata dia, makan di tempat meski hanya 20 menit beresiko tinggi bagi masyarakat, bahkan bukan lagi kontak erat, tetapi kontak sangat erat.
"(Waktu) 20 menit jadinya apa? kontak lebih eratkan. Nah dengan sebagian besar sekarang penularan kasus varian delta, berarti risiko lebih tinggi," kata dia.
Jika memang ingin memberi kelonggaran pada para pedagang, izin buka usaha saja yang cukup diberikan, namun makan tetap harus dibawa pulang.
"Itu akan lebih baik, boleh berjualan namun risiko penularan diminimalkan, semaksimal mungkin. Jadi ya take away saja," kata dia.