Jakarta, CNN Indonesia -- Mumi Chinchorro di Chile, bukti pemrosesan mumi tertua di dunia oleh manusia, ditambahkan ke Daftar Warisan Dunia UNESCO pada hari Selasa (27/7).
Mumi - yang ditemukan di utara Chile pada awal abad ke-20, berusia lebih dari 7.000 tahun - ini berarti lebih tua dua milenium dari mumi Mesir.
Dalam cuitannya di Twitter, organisasi kebudayaan PBB mengatakan bahwa mereka telah menambahkan "pemukiman dan mumifikasi buatan dari budaya Chinchorro" ke daftar bergengsinya selama pertemuan virtual yang dipimpin oleh China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"UNESCO memvalidasi di tingkat internasional, melalui para ahli yang berbeda, bahwa pemukiman dan mumifikasi buatan dari budaya Chinchorro memiliki nilai luar biasa, bahwa ia memiliki kepentingan global," kata antropolog Chile, Bernardo Arriaza, kepada AFP.
Warga Chinchorro adalah nelayan dan pemburu lebih dari 7.000 tahun yang lalu.
Mereka bermukim di daerah di mana gurun dan Samudra Pasifik bertemu di tempat yang sekarang di selatan Peru dan utara Chile.
Sejauh ini, lebih dari 300 mumi telah ditemukan di sana, termasuk mumi merah, mumi hitam, dan mumi yang dibalut.
Proses mumifikasi terdiri dari pengangkatan organ, usus, dan jaringan.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Situs Mumi Tertua di Dunia Ungkap Kasih Sayang Orangtua
Mumi Chinchorro di Chile, mumi tertua di dunia yang bahkan lebih kuno dari yang ada di Mesir. (AFP/MARTIN BERNETTI)
Kulit mayat kemudian dirobek dan tubuhnya dibangun kembali menggunakan ranting tanaman dan bulu binatang, sementara rambut tebal berwarna hitam dijahit ke kulit kepalanya.
Setelah itu mumi dicat warna merah atau hitam menggunakan tanah, pigmen, mangan dan oksida besi.
"Tubuh-tubuh ini dibuat dengan sangat halus oleh para spesialisnya. Ada sisi ketekunan dan kreativitas dari populasi pertama ini," tambah Arriaza, direktur Chinchorro Center di Universitas Tarapaca di kota Arica.
Alasan warga Chichorro memumikan mayat kerabat mereka hingga kini tetap menjadi misteri.
Pada tahun 2005, Arriaza mengembangkan teori bahwa hal itu dapat dikaitkan dengan tingkat keracunan arsenik yang tinggi di dalam air yang dapat menyebabkan kelahiran prematur, keguguran, anak-anak dengan berat badan kurang, dan kematian bayi yang tinggi.
Dia berpendapat bahwa mumifikasi adalah "respons emosional dari orang tua yang menghadapi kehilangan yang menyakitkan ini, jadi mereka melukis mayat anaknya, mendandaninya, teknik yang rumit untuk mengobati perasaan dukanya."
[Gambas:Photo CNN]
[Gambas:Infografis CNN]