HARI HEPATITIS SEDUNIA

Pasien Hepatitis Disebut Ogah Kontrol karena Takut Covid-19

tim, CNN Indonesia | Rabu, 28/07/2021 22:00 WIB
Pasien hepatitis disebut enggan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin karena takut mendatangi rumah sakit selama pandemi Covid-19. Pasien hepatitis disebut enggan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin karena takut mendatangi rumah sakit selama pandemi Covid-19. (iStockphoto/andrei_r)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 membuat penanganan kesehatan hampir sepenuhnya tertuju pada upaya melawan virus tersebut. Dampaknya banyak penyakit lain yang justru masuk kategori komorbid Covid-19, termasuk hepatitis, terabaikan atau bahkan tak tertangani.

Salah satunya penanganan terhadap penyakit hepatitis yang masuk dalam kategori komorbid Covid-19. Sebagai penyakit nomor enam yang berbahaya bagi pasien Covid-19, penanganan terhadap pasien hepatitis justru mengalami penurunan yang cukup drastis.

Berbagai faktor jadi kendala, salah satunya ketakutan pasien untuk mendatangi rumah sakit ketika sudah waktunya melakukan kontrol dengan alasan takut terpapar Covid-19.


"Soal kontrol ke rumah sakit, di Amerika misalnya, dilaporkan banyak orang (pasien hepatitis) jadi takut ke rumah sakit. Takut masuk ke wilayah udara rumah sakit yang penuh dengan Covid-19," kata Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Irsan Hasan dalam acara temu media yang digelar Kementerian Kesehatan dalam rangka perayaan Hari Hepatitis Sedunia, Rabu (28/7).

Sebuah studi yang dilakukan di Asia Pasifik menunjukkan seseorang dengan penyakit hepatitis B dan C dua hingga tiga kali lipat lebih rentan terkena Covid-19.

Irsan mengatakan bahkan mereka juga 10 kali lipat lebih sering menerima perawatan di ICU setelah terpapar Covid-19.

"Dan enam kali lipat lebih sering mengalami kematian," tambahnya.

Pasien Tunda Perawatan

Irsan menuturkan, selama terjadi pandemi Covid-19 banyak pasien yang sengaja menunda perawatannya ke rumah sakit. Mereka memutuskan untuk kembali menjalani perawatan setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Penundaan ini, kata dia, tentu berakibat pada pengobatan yang tengah dijalani. Padahal, hepatitis tetap perlu dirawat dan dikontrol setiap bulannya.



Minimal dalam jangka waktu enam bulan sekali seorang pasien yang telah dinyatakan menderita hepatitis B harus rutin melakukan USG dan pemeriksaan untuk memastikan tak ada kanker hati yang terbentuk.

Terganggunya pengobatan ini tentu saja berujung pada lambatnya skrining hingga keterlambatan penanganan ketika kondisi hepatitis memburuk.

"Padahal pasien hepatitis harus dipantau. Kalau tidak terpantau bisa kecolongan bahkan hepatitis yang sudah dinyatakan sembuh pun harus tetap dipantau," kata Irsan.

"Kita harap ada PPKM darurat atau PPKM level berapa pun yang perlu berobat tetap berobat," ujarnya lebih lanjut.

(tst/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK