HARI BATIK NASIONAL

Mengenal Tengkuluk, Penutup Kepala dari Kain Batik

tim | CNN Indonesia
Sabtu, 02 Oct 2021 09:22 WIB
Rayakan Hari Batik Nasional dengan memakai tengkuluk. Tengkuluk adalah penutup kepala dari kain yang berkembang di suku Melayu dan Minang. Rayakan Hari Batik Nasional dengan memakai tengkuluk. Tengkuluk adalah penutup kepala dari kain yang berkembang di suku Melayu dan Minang.(Foto: Arsip Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rayakan Hari Batik Nasional dengan mengenakan tengkuluk. Tengkuluk merupakan penutup kepala dari kain, biasanya batik, yang berkembang di suku Melayu dan Minang.

Tengkuluk sering juga disebut dengan kuluk atau takuluk di Jambi dan Pantai Timur Sumatera dan tingkuluak atau tangkuluak di Sumatera Barat.

"Tengkuluk ini, misalnya, sudah ada sejak zaman kerajaan Melayu," kata penulis buku Kuluk Penutup Kepala Warisan Luhur dari Jambi, Nurlaini, dikutip dari keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com.


Nurlaini menjelaskan perempuan Jambi sudah mengenakan penutup kepala tradisional ini sejak abad ketujuh. Tengkuluk digunakan untuk menutup kepala saat menghadiri acara adat dan berkegiatan sehari-hari seperti ke sawah.

Menurut Nurlaini, tengkuluk merupakan lambang kesahajaan perempuan.

"Tengkuluk itu menunjukkan kerapian seorang perempuan," dia menjelaskan," kata Nurlaini dalam dalam acara 'Ngopi Tengkuluk, Mengenal Penutup Kepala Perempuan Indonesia'.

Tengkuluk dipakai dengan cara melilitkan kain di kepala tanpa jahitan. Perempuan Jambi menjuntaikan kain itu ke dua arah yang berbeda. Lain arah, lain pula artinya.

"Kalau ujung kainnya jatuh di sebelah kiri tandanya masih lajang. Kalau menjuntai ke sisi kanan berarti sudah menikah. Jadi dalam satu acara, dari cara pakai tengkuluk saja sudah ketahuan identitasnya," tutur Nurlaini.

Sementara itu, dalam budaya Minangkabau, penutup kepala ini disebut 'tikuluak' atau 'tingkuluak'. Tingkuluak dililitkan dengan beragam bentuk dan gaya penggunaan sesuai daerah.

Selain sebagai busana, penggunaan tingkuluak juga bermakna simbol kuasa.

Penutup kepala perempuan juga berkembang di sejumlah daerah lain seperti bulang di Simalungun, tukus di Lampung, passapu di Toraja Mamasa, dan tatupung di suku Dayak Maanyan.

Namun kini, penutup kepala ini perlahan tergerus dan tidak dikenali generasi muda. Pegiat budaya sekaligus penggagass acara Ngopi Tengkuluk, Nury Sybli mengajak generasi muda untuk melanjutkan tradisi memakai tengkuluk seiringan dengan Hari Batik Nusantara.

"Songket, tenun, batik, kebaya, dan rupa-rupa penutup kepala dengan makna dan filosofinya itu siapa yang menciptakan? Perempuan. Maka para perempuan hendaknya menjadi penjaga tradisi itu, bukan meninggalkan," kata Nury.

(ptj/ptj)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER