Aktivitas di Ubud, Bali, sudah berangsur normal. Namun, kedatangan wisatawan mancanegara tercatat masih sepi. (Istockphoto/DKart)
Ubud, CNN Indonesia --
Sebulan pasca dibukanya kembali gerbang penerbangan internasional ke Bali pada pertengahan Oktober lalu, geliat wisata di Ubud kembali bergerak dan aktif.
Beberapa tempat wisata, seni pertunjukan, restoran, kafe, spa dan yoga yang sebelumnya tutup kembali buka, dan yang bertahan menjadi lebih optimistis menyambut kedatangan wisatawan.
Ditambah lagi, Ubud ditetapkan pemerintah sebagai satu dari tiga destinasi wisata Bali yang masuk dalam kategori zona hijau dan percontohan, di samping Sanur dan Nusa Dua yang kemudian dikenal dengan sebutan SUN (Sanur, Ubud, Nusa Dua).
Namun, apakah semua kembali seperti sedia kala ketika ramai pengunjung?
Dibanding masa awal pandemi dan momen pengetatan, sejumlah toko di jalan utama Ubud, seperti Jalan Raya Ubud, Hanoman, dan Goutama yang sempat tutup, telah kembali buka.
Walau ada juga di antaranya yang tampak sudah tak lagi beroperasi dan berganti fungsi.
Di antara beberapa pengunjung toko, restoran, tempat spa dan kafe, yang didominasi lokal, tampak satu atau dua orang warga asing.
Geliat ini memberi harapan tersendiri untuk pariwisata Bali yang sempat mati suri karena efek pandemik Covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 lalu.
"Dibukanya kembali pariwisata Bali, dan regulasi yang tak lagi mewajibkan tes PCR memang berdampak pada peningkatan pengunjung, terutama wisatawan domestik, yang memiliki kebebasan untuk bepergian. Kami pun juga mengalami peningkatan, walau tidak signifikan," ungkap Gusti Jayeng Saputra, owner Jaens Spa Bali, yang berlokasi di jalan raya Pengosekan, Ubud saat ditemui akhir minggu lalu.
Hal ini, kata dia, terlihat dari pijat tradisional Bali yang sering kali dipilih oleh para tamu yang berkunjung ke Jaens Spa.
Menurut data kunjungan yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Sekitar tahun 2021 pada masa Covid-19 ada beberapa orang yang berkunjung ke Bali dari beberapa negara.
Disebutkan, 43 orang telah berkunjung ke Bali baik untuk berlibur maupun untuk urusan bisnis.
Sebagian besar berasal dari Asia yaitu sekitar 25 orang Jepang dan China.
"Ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat memulai perjalanan internasional tanpa takut akan Covid-19. Dengan kemajuan ini, dapat dilihat pariwisata di Bali bergerak maju melalui dukungan masyarakat maupun pemerintah," tambahnya.
Suasana kawasan Ubud, Bali, pada Sabtu (20/11). (Arsip Rahman Indra)
Bertahan internal
Dibanding tempat wisata lainnya di Bali, Ubud popular berkat lokasi dan pemandangan alamnya yang mengesankan.
Kesan tenang, dan menenangkan kemudian juga melekat dengan gaya hidup yang menyatu dengan alam, aktivitas yoga dan meditasi, seni pertunjukan tradisional, dan restoran menu sehat dan vegetarian.
Jero Ratni, instruktur yoga dan co-founder Pasraman Bali Eling Spirit yang berada di Banjar Umadawa Pejeng Kangin, Gianyar mengungkapkan kondisi di Ubud sebelum dan pasca dibukanya pariwisata Bali masih tidak jauh berbeda.
"Tidak ada perubahan signifikan dari kegiatan kami di sini (Ubud, red). Kalaupun ada bule (wisman), itu mereka yang sudah tinggal di sini, bukan orang baru dari dibukanya border," ujarnya.
Namun, kata dia, waktu di awal tahun ada yang datang, saat itu masa pengetatan.
Tamu yang biasa keluar masuk waktu itu menggunakan visa bisnis, jadi tidak masalah dengan alasan bepergian.
Kemudian, kegiatan lebih banyak wisatawan lokal atau domestik, dari Sabang sampai Merauke.
Ada yang online coaching personal, healing online, dan atau ada juga yang ikut kegiatan langsung di Bali Eling Spirit setelah dipermudah dengan dibukanya penerbangan masuk ke Bali.
"Tapi tetap saja, bukan karena dibuka baru-baru ini, tapi waktu pengetatan sudah sempat berjalan. Perubahannya, mereka lebih lega, karena sudah legal dibuka dan leluasa bepergian. Ini lebih ke domestik, belum internasional," tambahnya.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Sebelum pandemi, kata Jero Ratni, sejumlah wisman yang menjadi pengunjung berasal dari beberapa negara, diantaranya Australia, Barcelona, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Meksiko, Singapura, dan Malaysia.
"Untuk potensi wisata di Ubud kini, karena saya merasakan sebagai wirausaha, spa juga sudah tutup dua tahun belakang, karena kita memutuskan istirahat, yang susah survive adalah owner atau pebisnis pariwisatanya," ujar dia.
Untuk wisatawan sendiri bisa saja kembali, tapi akan butuh waktu. Dan, sementara itu, banyak pengusaha yang sudah beralih fokus sasaran pasarnya, yang dulu mungkin asing, lalu beralih ke pasar local.
"Menurut saya, wisata Ubud bisa kembali seperti yang dulu, tapi taste sudah berbeda, dan tentunya akan lebih baik lagi, karena sudah biasa survive dalam kondisi berat. Dan untuk ramai seperti dulu akan makan waktu dan belum ada bayangan sampai kapan karena sampai hari ini pun sebenarnya pasar yang ini masih dominan lokal, dari Jakarta, dan daerah lain di Indonesia," ujarnya.
Lebih jauh, Jero Ratni mengatakan dirinya yang bergerak di bidang jasa yang berkaitan dengan alam, tidak ada ekspektasi akan pariwisata Bali seperti apa.
"Lebih mengalir saja, dan ikuti ritme dan regulasi yang dibuat pemerintah, dan survive di internal, bagaimana mengelola tetap bertahan dengan kondisi pasar saat ini, dan permintaan dari pasar, orang-orang yang memerlukan jasa kita," tambah dia.
Suasana kawasan Ubud, Bali, pada Sabtu (20/11). (Arsip Rahman Indra)
Belum pulih sepenuhnya
Tidak jauh berbeda dengan tempat spa dan yoga, restoran vegan yang mendominasi Ubud pun tidak sepenuhnya pulih.
Beberapa yang bertahan memanfaatkan pelanggan setia, komunitas, dan warga asing yang sudah lama menetap di Ubud dan sekitarnya.
Hal ini disampaikan Wayan Santana, General Manager restoran vegan Zest, Ubud Bali, saat ditemui pekan lalu.
Restoran yang berlokasi di jalan raya Penestanan Kelod, Ubud ini disebutnya terus berusaha bertahan selama pandemi.
"Kondisi ini belum pulih sepenuhnya, semoga cepat kembali lagi seperti dahulu," ujarnya.
Suasana kawasan Ubud, Bali, pada Sabtu (20/11). (Arsip Rahman Indra)
Meski begitu, kata dia, Zest tetap berusaha dan berjuang bertahan tanpa harus menutup operasional restoran, atau memberhentikan karyawan.
Sejak pandemi satu setengah tahun lalu, ujarnya, salah satu restoran vegan ternama di Ubud ini terus melayani pelanggannya yang mayoritas expat, termasuk dalam hal pesan antar.
"Pengunjung kami didominasi wisatawan mancanegara yang sudah lama menetap di Ubud. Sementara, untuk wisatawan domestik, beberapa tamu ada yang dating dari Jakarta, tapi jumlahnya tidak banyak," ujarnya.
Yang membantu kami bertahan, kata dia, dalam hal ini adalah adanya komunitas Ubud. Mereka yang masih terus jadi pelanggan.
Restoran Zest menyediakan beberapa sajian makanan vegan dengan lokasi yang mudah diakses dan tempat yang juga nyaman untuk bersantai saat bersantap.
Selain pengunjung yang masih belum ramai, jumlah pemasukan diakui Wayan juga berkurang jauh dari sebelum pandemi. Dapat dikatakan tidak sampai separuhnya.
Meski pada awal Oktober lalu, pintu gerbang wisata Bali untuk wisatawan mancanegara sudah kembali dibuka, kata dia, belum menunjukkan adanya efek. Belum tampak ada wisman yang datang.
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat, atau Desember ini misalnya, aktivitas kembali ramai dan Bali pulih lagi," pungkasnya.
Ubud, CNN Indonesia --
Sebulan pasca dibukanya kembali gerbang penerbangan internasional ke Bali pada pertengahan Oktober lalu, geliat wisata di Ubud kembali bergerak dan aktif.
Beberapa tempat wisata, seni pertunjukan, restoran, kafe, spa dan yoga yang sebelumnya tutup kembali buka, dan yang bertahan menjadi lebih optimistis menyambut kedatangan wisatawan.
Ditambah lagi, Ubud ditetapkan pemerintah sebagai satu dari tiga destinasi wisata Bali yang masuk dalam kategori zona hijau dan percontohan, di samping Sanur dan Nusa Dua yang kemudian dikenal dengan sebutan SUN (Sanur, Ubud, Nusa Dua).
Namun, apakah semua kembali seperti sedia kala ketika ramai pengunjung?
Dibanding masa awal pandemi dan momen pengetatan, sejumlah toko di jalan utama Ubud, seperti Jalan Raya Ubud, Hanoman, dan Goutama yang sempat tutup, telah kembali buka.
Walau ada juga di antaranya yang tampak sudah tak lagi beroperasi dan berganti fungsi.
Di antara beberapa pengunjung toko, restoran, tempat spa dan kafe, yang didominasi lokal, tampak satu atau dua orang warga asing.
Geliat ini memberi harapan tersendiri untuk pariwisata Bali yang sempat mati suri karena efek pandemik Covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 lalu.
"Dibukanya kembali pariwisata Bali, dan regulasi yang tak lagi mewajibkan tes PCR memang berdampak pada peningkatan pengunjung, terutama wisatawan domestik, yang memiliki kebebasan untuk bepergian. Kami pun juga mengalami peningkatan, walau tidak signifikan," ungkap Gusti Jayeng Saputra, owner Jaens Spa Bali, yang berlokasi di jalan raya Pengosekan, Ubud saat ditemui akhir minggu lalu.
Hal ini, kata dia, terlihat dari pijat tradisional Bali yang sering kali dipilih oleh para tamu yang berkunjung ke Jaens Spa.
Menurut data kunjungan yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Sekitar tahun 2021 pada masa Covid-19 ada beberapa orang yang berkunjung ke Bali dari beberapa negara.
Disebutkan, 43 orang telah berkunjung ke Bali baik untuk berlibur maupun untuk urusan bisnis.
Sebagian besar berasal dari Asia yaitu sekitar 25 orang Jepang dan China.
"Ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat memulai perjalanan internasional tanpa takut akan Covid-19. Dengan kemajuan ini, dapat dilihat pariwisata di Bali bergerak maju melalui dukungan masyarakat maupun pemerintah," tambahnya.
Suasana kawasan Ubud, Bali, pada Sabtu (20/11). (Arsip Rahman Indra)
Bertahan internal
Dibanding tempat wisata lainnya di Bali, Ubud popular berkat lokasi dan pemandangan alamnya yang mengesankan.
Kesan tenang, dan menenangkan kemudian juga melekat dengan gaya hidup yang menyatu dengan alam, aktivitas yoga dan meditasi, seni pertunjukan tradisional, dan restoran menu sehat dan vegetarian.
Jero Ratni, instruktur yoga dan co-founder Pasraman Bali Eling Spirit yang berada di Banjar Umadawa Pejeng Kangin, Gianyar mengungkapkan kondisi di Ubud sebelum dan pasca dibukanya pariwisata Bali masih tidak jauh berbeda.
"Tidak ada perubahan signifikan dari kegiatan kami di sini (Ubud, red). Kalaupun ada bule (wisman), itu mereka yang sudah tinggal di sini, bukan orang baru dari dibukanya border," ujarnya.
Namun, kata dia, waktu di awal tahun ada yang datang, saat itu masa pengetatan.
Tamu yang biasa keluar masuk waktu itu menggunakan visa bisnis, jadi tidak masalah dengan alasan bepergian.
Kemudian, kegiatan lebih banyak wisatawan lokal atau domestik, dari Sabang sampai Merauke.
Ada yang online coaching personal, healing online, dan atau ada juga yang ikut kegiatan langsung di Bali Eling Spirit setelah dipermudah dengan dibukanya penerbangan masuk ke Bali.
"Tapi tetap saja, bukan karena dibuka baru-baru ini, tapi waktu pengetatan sudah sempat berjalan. Perubahannya, mereka lebih lega, karena sudah legal dibuka dan leluasa bepergian. Ini lebih ke domestik, belum internasional," tambahnya.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Geliat Ubud Pasca Pariwisata Bali Dibuka Kembali
Aktivitas di Ubud, Bali, sudah berangsur normal. Namun, kedatangan wisatawan mancanegara tercatat masih sepi. (Istockphoto/DKart)
Sebelum pandemi, kata Jero Ratni, sejumlah wisman yang menjadi pengunjung berasal dari beberapa negara, diantaranya Australia, Barcelona, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Meksiko, Singapura, dan Malaysia.
"Untuk potensi wisata di Ubud kini, karena saya merasakan sebagai wirausaha, spa juga sudah tutup dua tahun belakang, karena kita memutuskan istirahat, yang susah survive adalah owner atau pebisnis pariwisatanya," ujar dia.
Untuk wisatawan sendiri bisa saja kembali, tapi akan butuh waktu. Dan, sementara itu, banyak pengusaha yang sudah beralih fokus sasaran pasarnya, yang dulu mungkin asing, lalu beralih ke pasar local.
"Menurut saya, wisata Ubud bisa kembali seperti yang dulu, tapi taste sudah berbeda, dan tentunya akan lebih baik lagi, karena sudah biasa survive dalam kondisi berat. Dan untuk ramai seperti dulu akan makan waktu dan belum ada bayangan sampai kapan karena sampai hari ini pun sebenarnya pasar yang ini masih dominan lokal, dari Jakarta, dan daerah lain di Indonesia," ujarnya.
Lebih jauh, Jero Ratni mengatakan dirinya yang bergerak di bidang jasa yang berkaitan dengan alam, tidak ada ekspektasi akan pariwisata Bali seperti apa.
"Lebih mengalir saja, dan ikuti ritme dan regulasi yang dibuat pemerintah, dan survive di internal, bagaimana mengelola tetap bertahan dengan kondisi pasar saat ini, dan permintaan dari pasar, orang-orang yang memerlukan jasa kita," tambah dia.
Suasana kawasan Ubud, Bali, pada Sabtu (20/11). (Arsip Rahman Indra)
Belum pulih sepenuhnya
Tidak jauh berbeda dengan tempat spa dan yoga, restoran vegan yang mendominasi Ubud pun tidak sepenuhnya pulih.
Beberapa yang bertahan memanfaatkan pelanggan setia, komunitas, dan warga asing yang sudah lama menetap di Ubud dan sekitarnya.
Hal ini disampaikan Wayan Santana, General Manager restoran vegan Zest, Ubud Bali, saat ditemui pekan lalu.
Restoran yang berlokasi di jalan raya Penestanan Kelod, Ubud ini disebutnya terus berusaha bertahan selama pandemi.
"Kondisi ini belum pulih sepenuhnya, semoga cepat kembali lagi seperti dahulu," ujarnya.
Suasana kawasan Ubud, Bali, pada Sabtu (20/11). (Arsip Rahman Indra)
Meski begitu, kata dia, Zest tetap berusaha dan berjuang bertahan tanpa harus menutup operasional restoran, atau memberhentikan karyawan.
Sejak pandemi satu setengah tahun lalu, ujarnya, salah satu restoran vegan ternama di Ubud ini terus melayani pelanggannya yang mayoritas expat, termasuk dalam hal pesan antar.
"Pengunjung kami didominasi wisatawan mancanegara yang sudah lama menetap di Ubud. Sementara, untuk wisatawan domestik, beberapa tamu ada yang dating dari Jakarta, tapi jumlahnya tidak banyak," ujarnya.
Yang membantu kami bertahan, kata dia, dalam hal ini adalah adanya komunitas Ubud. Mereka yang masih terus jadi pelanggan.
Restoran Zest menyediakan beberapa sajian makanan vegan dengan lokasi yang mudah diakses dan tempat yang juga nyaman untuk bersantai saat bersantap.
Selain pengunjung yang masih belum ramai, jumlah pemasukan diakui Wayan juga berkurang jauh dari sebelum pandemi. Dapat dikatakan tidak sampai separuhnya.
Meski pada awal Oktober lalu, pintu gerbang wisata Bali untuk wisatawan mancanegara sudah kembali dibuka, kata dia, belum menunjukkan adanya efek. Belum tampak ada wisman yang datang.
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat, atau Desember ini misalnya, aktivitas kembali ramai dan Bali pulih lagi," pungkasnya.