Natuna Berharap Didatangi Lebih Banyak Turis usai Pandemi
Feri Agus | CNN Indonesia
Minggu, 28 Nov 2021 07:13 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pulau Laut tampak dari kapal salah satu nelayan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sektor pariwisata menjadi salah satu pilar pembangunan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Natuna telah menyandang status sebagai Geopark (Taman Bumi) Nasional sejak 2018 lalu.
Natuna terletak di ujung utara perairan antara Pulau Sumatera dan Kalimantan. Daerah terdepan ini berbatasan dengan sejumlah negara, seperti Vietnam, Thailand, hingga Malaysia.
Kabupaten yang baru berusia 22 tahun ini memiliki beberapa pulau besar, seperti Pulau Bunguran atau Natuna, Pulau Sedanau, Pula Laut, Pulau Subi Besar, hingga Pulau Serasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Natuna memiliki 119 daya tarik wisata, 80 persen berupa wisata bahari. Terdapat 79 pantai yang tersebar di sejumlah kecamatan, 5 titik air terjun, serta 52 situs bersejarah.
Selain itu, ada 24 titik lokasi barang muatan kapal tenggelam sisa perdagangan dari abad ke-9 hingga abad ke-19.
Sebanyak delapan destinasi pun sudah berstatus geosite, antara lain Tanjung Datuk, Pantai dan Goa Kamak, Pulau Senua, Tanjung Senibung, Gunung Ranai, Batu Kasah, Pulau Akar, serta Pulau Setanu.
Destinasti wisata di luar Pulau Bunguran tak kalah indah. Salah satunya Pantai Sisi di Kecamatan Serasan dengan bentangan pantai lebih dari 10 kilometer (km). Serasan berada di selatan Bunguran, dan dekat Kalimantan Barat.
Namun, pariwisata Natuna menjadi salah satu yang paling terpukul pandemi Covid-19. Jumlah wisatawan lokal maupun mancanegara turun drastis pada 2020. Kebijakan pembatasan perjalanan sepanjang tahun lalu membuat sektor wisata lesu.
Mengutip laporan BPS Kabupatan Natuna 2021, jumlah wisatawan yang datang ke Natuna menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Seperti wisatawan asing tercatat hanya 30 orang sepanjang tahun lalu. Padahal, jumlah pelancong asing yang berkunjung pada 2019 mencapai 166 orang.
Selain pelancong yang berkurang, jumlah hotel juga menurun. Pada 2020, hanya 38 hotel yang beroperasi dengan total kamar mencapai 517 unit.
Kini Natuna mulai berbenah untuk menarik minat wisatawan bertandang. Penyebaran Covid-19 yang mulai menurun, disusul pelonggaran sejumlah pembatasan diharapkan mendorong masyarakat berbondong-bondong datang ke daerah 'Laut Sakti Rantau Bertuah'
Bupati Natuna Wan Siswandi mengatakan pihaknya akan membuka investasi seluas-luasnya di sektor pariwisata. Ia bakal menggratiskan perizinan yang terkait dengan pengembangan wisata, seperti pembangunan tempat penginapan atau resort.
"Saya pikir memang yang kita lakukan sekarang dan ke depan untuk investasi di bidang wisata kita gratiskan, mau bangun resort atau apa yang terkait dengan (wisata) daerah kita gratiskan," kata Siswandi beberapa waktu lalu.
Siswandi memastikan pembangunan sektor wisatan ini tak akan merusak alam di Natuna. Ia ingin para pelancong yang datang justru bisa menyatu dengan alam. Siswandi pun lebih memilih pengembangan resort atau homestay di setiap destinasi wisata Natuna.
"Hotel kalau mau juga silahkan tapi kalau engga ada ya resort-resort aja biar tidak mengganggu alam. Lebih bagus lagi homestay, rumah-rumah penduduk kita jadikan tempat tidur orang (penginapan), jadi kita menyatu dengan alam," ujarnya.
Siswandi menyebut pengembangan wisata butuh kerja sama sejumlah pihak. Misalnya pembangunan jalan, perlu dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kemudian peningkatan jaringan internet butuh bantuan Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Ia ingin pelancong tak terkendala masalah penginapan, jalan, maupun sinyal saat berwisata ke Natuna. Sektor pariwisata, kata Siswandi, tak akan berkembang jika para pihak terkait berjalan sendiri-sendiri.
Konsep pengembangan pariwisata Natuna yang pihaknya susun bakal diselaraskan dengan konsep dari pemerintah pusat. Terlebih, kata Siswandi, Jokowi sudah menetapkan pariwisata sebagai salah satu pilar pembangunan Natuna. Ia pun mendukung penuh setiap kebijakan dari pemerintah pusat di sektor wisata.
"Nanti beberapa hal ke depan itu ada yang perlu kita koordinasikan dengan Kementerian Pariwisata, Pak Sandiaga. Nanti kita coba ketemu beliau konsep pariwisata Natuna itu seperti apa, konsep kita seperti apa, nanti kita sharing bentuknya seperti apa," ujarnya.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Perbanyak Festival
Selain pembangunan fisik, Siswandi mengatakan pihaknya juga akan memperbanyak festival kebudayaan. Menurutnya, gelaran festival tersebut bisa menjadi magnet wisatawan.
Ia mengaku sudah menyiapkan anggaran untuk membuat beragam festival sepanjang 2022. Dalam rencananya, festival-festival ini akan rutin digelar di Pantai Piwang, Ranai.
"Kami ingin menunjukkan ke orang kalau kami punya budaya, seni itu yang akan kita jual ke luar," ujarnya.
Siswandi menyebut destinasi wisata unggulan Natuna adalah pantai. Menurutnya, saat ini terdapat delapan lokasi wisata yang ditetapkan sebagai geosite. Saat ini pihaknya tengah mengembangkan 49 lokasi yang tersebar di Kabupaten Natuna menjadi geosite.
"Kemudian di laut, ada beberapa kapal yang tenggelam yang pernah dinaiki oleh Bung Karno, Bung Hatta ada semua di laut. Kemudian ada juga kapal-kapal tenggelam dari China yang bawa barang antik," ujarnya.
Siswandi menyadari harga tiket pesawat ke Natuna terbilang mahal. Kemudian belum ada penerbangan langsung, seperti misalnya dari Jakarta. Bagi pelancong dari dalam maupun luar negeri yang mau ke Natuna juga harus transit dan berganti pesawat di Batam, Kepulauan Riau.
Harga tiket dari Jakarta ke Batam sekitar Rp800 ribu. Kemudian tiket penerbangan Batam ke Natuna bisa mencapai Rp1,8 juta. Dengan demikian, wisatawan yang berangkat dari Jakarta harus menyiapkan dana hingga Rp5 juta untuk pergi dan pulang.
Siswandi mengatakan pengembangan pariwisata butuh kemudahan akses dengan harga terjangkau. Saat ini, kata Siswandi, harga tiket dari Jakarta ke Batam justru lebih murah ketimbang dari Batam ke Natuna. Padahal secara jarak, Batam ke Natuna lebih dekat.
"Bagi pemerintah ini bisa jadi tidak menjadi persoalan, tapi bagaimana bagi masyarakat, pengusaha, dan pariwisata. Dari pada beli tiket Rp1,8 juta ke Natuna mending ke Bali atau ke Lombok, Raja Ampat," kata Siswandi.
Siswandi menyebut pihaknya sedang berupaya menekan harga tiket menuju Natuna. Ia mengaku juga sudah meminta pembukaan rute penerbangan baru pada 2022 ke Kementerian Perhubungan. Pihaknya secara resmi mengirim surat pada 7 Juni 2021.
Rute penerbangan yang diusulkan antara lain Tanjung Pinang-Tambelan-Natuna-Pontianak (PP), Tanjung Pinang-Letung-Natuna (PP), Tanjung Pinang-Tambelan-Natuna (PP), dan Tanjung Pinang-Letung-Natuna-Pontianak (PP).
Menurutnya, pemerintah pusat sedang berencana membangun bandara baru di daerah Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara. Ia pun mengusulkan agar bandara baru tersebut, jika tak dipakai untuk kepentingan militer, dikelola oleh pihak swasta maupun BUMN.
Siswandi menyatakan pihaknya tak mampu jika harus membangun bandara sendiri. Meskipun demikian, pihaknya bisa mendukung pembangunan bandara baru tersebut lewat penyediaan tanah mencapai 500 hektare.
"Tanah sudah disediakan mau pemerintah pusat atau swasta bangun kita sediakan. Dalam konteks (agar) transportasi orang dan barang lancar," ujarnya.
"Mempertahankan daerah kan tidak harus dari membawa tentara banyak, tapi bisa gerak dari ekonomi, pariwisata, perikanannya," kata Siswandi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sektor pariwisata menjadi salah satu pilar pembangunan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Natuna telah menyandang status sebagai Geopark (Taman Bumi) Nasional sejak 2018 lalu.
Natuna terletak di ujung utara perairan antara Pulau Sumatera dan Kalimantan. Daerah terdepan ini berbatasan dengan sejumlah negara, seperti Vietnam, Thailand, hingga Malaysia.
Kabupaten yang baru berusia 22 tahun ini memiliki beberapa pulau besar, seperti Pulau Bunguran atau Natuna, Pulau Sedanau, Pula Laut, Pulau Subi Besar, hingga Pulau Serasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Natuna memiliki 119 daya tarik wisata, 80 persen berupa wisata bahari. Terdapat 79 pantai yang tersebar di sejumlah kecamatan, 5 titik air terjun, serta 52 situs bersejarah.
Selain itu, ada 24 titik lokasi barang muatan kapal tenggelam sisa perdagangan dari abad ke-9 hingga abad ke-19.
Sebanyak delapan destinasi pun sudah berstatus geosite, antara lain Tanjung Datuk, Pantai dan Goa Kamak, Pulau Senua, Tanjung Senibung, Gunung Ranai, Batu Kasah, Pulau Akar, serta Pulau Setanu.
Destinasti wisata di luar Pulau Bunguran tak kalah indah. Salah satunya Pantai Sisi di Kecamatan Serasan dengan bentangan pantai lebih dari 10 kilometer (km). Serasan berada di selatan Bunguran, dan dekat Kalimantan Barat.
Namun, pariwisata Natuna menjadi salah satu yang paling terpukul pandemi Covid-19. Jumlah wisatawan lokal maupun mancanegara turun drastis pada 2020. Kebijakan pembatasan perjalanan sepanjang tahun lalu membuat sektor wisata lesu.
Mengutip laporan BPS Kabupatan Natuna 2021, jumlah wisatawan yang datang ke Natuna menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Seperti wisatawan asing tercatat hanya 30 orang sepanjang tahun lalu. Padahal, jumlah pelancong asing yang berkunjung pada 2019 mencapai 166 orang.
Selain pelancong yang berkurang, jumlah hotel juga menurun. Pada 2020, hanya 38 hotel yang beroperasi dengan total kamar mencapai 517 unit.
Kini Natuna mulai berbenah untuk menarik minat wisatawan bertandang. Penyebaran Covid-19 yang mulai menurun, disusul pelonggaran sejumlah pembatasan diharapkan mendorong masyarakat berbondong-bondong datang ke daerah 'Laut Sakti Rantau Bertuah'
Bupati Natuna Wan Siswandi mengatakan pihaknya akan membuka investasi seluas-luasnya di sektor pariwisata. Ia bakal menggratiskan perizinan yang terkait dengan pengembangan wisata, seperti pembangunan tempat penginapan atau resort.
"Saya pikir memang yang kita lakukan sekarang dan ke depan untuk investasi di bidang wisata kita gratiskan, mau bangun resort atau apa yang terkait dengan (wisata) daerah kita gratiskan," kata Siswandi beberapa waktu lalu.
Siswandi memastikan pembangunan sektor wisatan ini tak akan merusak alam di Natuna. Ia ingin para pelancong yang datang justru bisa menyatu dengan alam. Siswandi pun lebih memilih pengembangan resort atau homestay di setiap destinasi wisata Natuna.
"Hotel kalau mau juga silahkan tapi kalau engga ada ya resort-resort aja biar tidak mengganggu alam. Lebih bagus lagi homestay, rumah-rumah penduduk kita jadikan tempat tidur orang (penginapan), jadi kita menyatu dengan alam," ujarnya.
Siswandi menyebut pengembangan wisata butuh kerja sama sejumlah pihak. Misalnya pembangunan jalan, perlu dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kemudian peningkatan jaringan internet butuh bantuan Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Ia ingin pelancong tak terkendala masalah penginapan, jalan, maupun sinyal saat berwisata ke Natuna. Sektor pariwisata, kata Siswandi, tak akan berkembang jika para pihak terkait berjalan sendiri-sendiri.
Konsep pengembangan pariwisata Natuna yang pihaknya susun bakal diselaraskan dengan konsep dari pemerintah pusat. Terlebih, kata Siswandi, Jokowi sudah menetapkan pariwisata sebagai salah satu pilar pembangunan Natuna. Ia pun mendukung penuh setiap kebijakan dari pemerintah pusat di sektor wisata.
"Nanti beberapa hal ke depan itu ada yang perlu kita koordinasikan dengan Kementerian Pariwisata, Pak Sandiaga. Nanti kita coba ketemu beliau konsep pariwisata Natuna itu seperti apa, konsep kita seperti apa, nanti kita sharing bentuknya seperti apa," ujarnya.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Natuna Berharap Didatangi Lebih Banyak Turis usai Pandemi
Pulau Laut tampak dari kapal salah satu nelayan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Perbanyak Festival
Selain pembangunan fisik, Siswandi mengatakan pihaknya juga akan memperbanyak festival kebudayaan. Menurutnya, gelaran festival tersebut bisa menjadi magnet wisatawan.
Ia mengaku sudah menyiapkan anggaran untuk membuat beragam festival sepanjang 2022. Dalam rencananya, festival-festival ini akan rutin digelar di Pantai Piwang, Ranai.
"Kami ingin menunjukkan ke orang kalau kami punya budaya, seni itu yang akan kita jual ke luar," ujarnya.
Siswandi menyebut destinasi wisata unggulan Natuna adalah pantai. Menurutnya, saat ini terdapat delapan lokasi wisata yang ditetapkan sebagai geosite. Saat ini pihaknya tengah mengembangkan 49 lokasi yang tersebar di Kabupaten Natuna menjadi geosite.
"Kemudian di laut, ada beberapa kapal yang tenggelam yang pernah dinaiki oleh Bung Karno, Bung Hatta ada semua di laut. Kemudian ada juga kapal-kapal tenggelam dari China yang bawa barang antik," ujarnya.
Siswandi menyadari harga tiket pesawat ke Natuna terbilang mahal. Kemudian belum ada penerbangan langsung, seperti misalnya dari Jakarta. Bagi pelancong dari dalam maupun luar negeri yang mau ke Natuna juga harus transit dan berganti pesawat di Batam, Kepulauan Riau.
Harga tiket dari Jakarta ke Batam sekitar Rp800 ribu. Kemudian tiket penerbangan Batam ke Natuna bisa mencapai Rp1,8 juta. Dengan demikian, wisatawan yang berangkat dari Jakarta harus menyiapkan dana hingga Rp5 juta untuk pergi dan pulang.
Siswandi mengatakan pengembangan pariwisata butuh kemudahan akses dengan harga terjangkau. Saat ini, kata Siswandi, harga tiket dari Jakarta ke Batam justru lebih murah ketimbang dari Batam ke Natuna. Padahal secara jarak, Batam ke Natuna lebih dekat.
"Bagi pemerintah ini bisa jadi tidak menjadi persoalan, tapi bagaimana bagi masyarakat, pengusaha, dan pariwisata. Dari pada beli tiket Rp1,8 juta ke Natuna mending ke Bali atau ke Lombok, Raja Ampat," kata Siswandi.
Siswandi menyebut pihaknya sedang berupaya menekan harga tiket menuju Natuna. Ia mengaku juga sudah meminta pembukaan rute penerbangan baru pada 2022 ke Kementerian Perhubungan. Pihaknya secara resmi mengirim surat pada 7 Juni 2021.
Rute penerbangan yang diusulkan antara lain Tanjung Pinang-Tambelan-Natuna-Pontianak (PP), Tanjung Pinang-Letung-Natuna (PP), Tanjung Pinang-Tambelan-Natuna (PP), dan Tanjung Pinang-Letung-Natuna-Pontianak (PP).
Menurutnya, pemerintah pusat sedang berencana membangun bandara baru di daerah Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara. Ia pun mengusulkan agar bandara baru tersebut, jika tak dipakai untuk kepentingan militer, dikelola oleh pihak swasta maupun BUMN.
Siswandi menyatakan pihaknya tak mampu jika harus membangun bandara sendiri. Meskipun demikian, pihaknya bisa mendukung pembangunan bandara baru tersebut lewat penyediaan tanah mencapai 500 hektare.
"Tanah sudah disediakan mau pemerintah pusat atau swasta bangun kita sediakan. Dalam konteks (agar) transportasi orang dan barang lancar," ujarnya.
"Mempertahankan daerah kan tidak harus dari membawa tentara banyak, tapi bisa gerak dari ekonomi, pariwisata, perikanannya," kata Siswandi.