WHO: Varian Omicron Bisa Picu Reinfeksi Covid-19

tim | CNN Indonesia
Senin, 29 Nov 2021 19:50 WIB
WHO mengungkapkan bahwa Covid-19 varian Omicron dapat memicu reinfeksi atau infeksi ulang Covid-19. WHO mengungkapkan bahwa Covid-19 varian Omicron dapat memicu reinfeksi atau infeksi ulang Covid-19. (iStock/MrJub)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penyebaran Covid-19 varian Omicron saat ini menjadi ancaman baru di dunia. Selain disebut lebih menular, varian ini juga dilaporkan dapat memicu reinfeksi atau infeksi ulang Covid-19.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Omicron bahkan mengatakan bahwa Omicron memiliki kemungkinan peningkatan reinfeksi Covid-19 lebih tinggi dibanding varian lain.

"Bukti awal menunjukkan bahwa mungkin ada peningkatan risiko infeksi ulang dengan Omicron (yaitu, orang yang sebelumnya memiliki Covid-19 dapat terinfeksi ulang dengan lebih mudah dengan Omicron), dibandingkan dengan varian lain, tetapi informasinya terbatas," demikian keterangan WHO, seperti dikutip dari laman resmi.


Lebih lanjut, WHO menyatakan pemahaman mengenai sifat hingga tingkat keparahan Covid-19 varian Omicron membutuhkan waku beberapa hari hingga minggu mendatang.

Sebelumnya, WHO juga mengatakan bahwa sampai saat ini tes PCR masih bisa mendeteksi infeksi virus corona varian Omicron.

"Tes PCR yang banyak digunakan terus mendeteksi infeksi, termasuk infeksi Omicron, seperti yang telah kita lihat dengan varian lain," ungkap WHO dikutip dari AFP.

"Studi sedang berlangsung untuk menentukan apakah ada dampak pada jenis tes lain, termasuk tes cepat deteksi antigen."

Seorang dokter di Afrika Selatan mengungkapkan gejala varian Omicron memiliki tingkat yang sangat ringan atau tidak parah dan bisa dirawat di rumah. Gejala Covid-19 varian Omicron ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan, dokter Angelique Coetzee.

Coetzee merupakan salah satu dokter yang pertama kali menangani pasien dengan Covid-19 varian B.1.1.529 ini. Pada 18 November, Coetzee merawat pasien yang terinfeksi varian baru ini.

Coetzee mengatakan seorang pasien di kliniknya memiliki gejala sangat lelah selama dua hari disertai dengan nyeri tubuh dan sakit kepala. Menurutnya, gejala tersebut normal terjadi pada infeksi karena virus.

"Gejala pada tahap itu sama seperti infeksi virus normal. Karena kami tidak menemukan Covid-19 selama 8-10 minggu terakhir kami memutuskan untuk memeriksanya," kata Coetzee kepada Reuters.

WHO pada hari Jumat menyatakan Omicron, yang pertama kali terdeteksi awal bulan ini di Afrika selatan, menjadi varian yang mengkhawatirkan.

Klasifikasi tersebut menempatkan Omicron ke dalam kategori varian Covid-19 yang paling meresahkan, bersama dengan Delta yang dominan secara global, dan saingannya yang lebih lemah, Alpha, Beta, dan Gamma.

(agn/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER